Mantan PPK PJN Sumut Menangis di Sidang Suap Proyek Jalan

- Jurnalis

Sabtu, 14 Februari 2026 - 07:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MEDAN, SUARASUMUTONLINE.ID – Mantan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 1.4 Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional (PJN) Wilayah I Sumatera Utara (Sumut), Heliyanto, menangis ketika diminta mengembalikan uang negara oleh majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri (PN) Medan.

Isak tangis tersebut tidak kuasa ditahan Heliyanto kala diperiksa sebagai terdakwa dalam sidang kasus suap proyek jalan di Sumut yang digelar di Ruang Sidang Utama Pengadilan Tipikor pada PN Medan, Kamis (12/2).

Di persidangan, Heliyanto akhirnya mengaku menerima uang suap Rp1,6 miliar dalam setiap proyek jalan di Sumut setelah sebelumnya mengaku hanya menerima Rp700 juta. Uang miliaran rupiah tersebut diterima Heliyanto dari sejumlah kontraktor saat dirinya menjabat PPK 1.4 PJN Sumut.

Atas pengakuan tersebut, Ketua Majelis Hakim, Mardison, pun meminta Heliyanto untuk menyerahkan uang tersebut kepada negara. Di momen inilah Heliyanto mulai menitikkan air mata di hadapan hakim.

Sontak, hakim pun meminta Heliyanto untuk tidak menangis, karena tiada guna menangis saat ini, semua hanya menjadi penyesalan pada akhirnya.

“Kenapa kamu menangis? Menyesal kamu sekarang? Kalau terakhir menangis enggak ada gunanya, maunya di awal. inilah akibat dari perbuatan Anda,” ucap Mardison yang juga merupakan Ketua PN Medan.

Baca Juga :  Hakim PN Medan Mulai Sidangkan Dugaan Korupsi Rp 13,18 Miliar Penataan Waterfront City Pangururan Danau Toba

Mendengar pertanyaan hakim, Heliyanto mengaku menyesal atas perbuatan yang telah dilakukannya dahulu. Heliyanto pun mengaku teringat kepada istrinya hingga membuat air matanya tak terbendung.

Dengan suara terisak-isak, Heliyanto juga mengaku ingin mengembalikan kerugian keuangan negara, akan tetapi ia berterus terang tak sanggup mengganti seluruhnya.

Setelah mendengar keterangan Heliyanto, majelis hakim memberikan kesempatan kepada jaksa penuntut umum (JPU) dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk menyusun surat tuntutan dan dibacakan pada Kamis (26/2) nanti.

Terpisah, JPU Rudi Dwi Prastyono saat diwawancarai awak media seusai persidangan menjelaskan bahwa total uang suap yang diterima dan telah dinikmati Heliyanto sebesar Rp1,6 miliar.

“Namanya transferkan tercatat semua dimutasi rekeningnya. Makanya dia enggak bisa mengelak. Sebelumnya kurang lebih Rp700 juta saja yang diakuinya. Maka, kita tunjukkan bukti semuanya dan ternyata total dia terima suap Rp1,6 miliar,” ujarnya.

Rudi mengatakan, suap tersebut berasal dari pekerjaan jalan nasional. Di antaranya, dirincikan jaksa, pekerjaan preservasi Jalan Simpang Kota Pinang-Gunung Tua tahun 2024, pekerjaan preservasi Jalan Batu Tambun tahun 2024, pekerjaan preservasi Jalan Simpang Kota Pinang-Gunung Tua tahun 2025, hingga pekerjaan rehabilitasi Jalan Simpang Kota Pinang–Gunung Tua dan penanganan pongsoran tahun 2025.

Baca Juga :  Jaksa Tunggu Hasil Tes DNA dan Visum Korban Pembunuhan Yang 7 Tersangkanya Ditangguhkan

“Jadi, dia pernah menerima uang dari PT Dalihan Na Tolu Grup (DNTG) dan PT Rona Na Mora (RNM) nilainya itu Rp1,05 miliar. Kemudian, yang melalui stafnya bernama Umar Hadi sekitar Rp143,5 juta yang juga diperoleh dari PT DNG dan PT RNM. Dari PT Ayusepta terima Rp305 juta dan Rp125 juta. Sehingga, total uang yang diterimanya dari tiga perusahaan tersebut senilai Rp1,6 miliar,” kata Rudi.

Rudi mengungkapkan penerimaan suap Heliyanto bersumber dari 47 transaksi berdasarkan bukti-bukti yang ada dan ditunjukkan di muka persidangan.

“Terdiri dari 47 transaksi (penerimaan suap). Tadi kami juga sudah menunjukkan rinciannya satu per satu. Dari 47 transaksi tersebut, seluruhnya tercatat di rekening koran atas nama Heliyanto. Dia mengakui fee proyeknya 0,5–1 persen dari nilai kontrak. Dia tidak menolak itu, sehingga terjadilah puluhan transaksi,” ucap jaksa.

Penulis : Yuli

Follow WhatsApp Channel suarasumutonline.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Keluarga Winda Lorenza Gowasa, Mantan Istri Polisi yang Dinyatakan Mati Bunuh Diri Resmi Lapor ke Polda Sumut
Direktur CV Rizky Amanda Ditahan Kejari Deli Serdang
Eks Kadisdik Langkat dan Direktur PT Bismacindo Terseret 2 Kasus Korupsi
Lima Terdakwa Korupsi Dana BOS SMK Ganda Husada Tebing Tinggi Dituntut 6 Tahun Penjara
Ratusan Hektar Kawasan Konservasi Langkat Timur Jadi Ladang Sawit, APH diminta Turun
Kadinkes Batu Bara Didakwa Korupsi Dana BTT Rp1,15 Miliar di PN Medan
Eks Kadisdik Langkat di Sidang: Saya Diancam Pj Bupati Faisal Agar Loloskan Proyek Smartboard
Plt Rangkap Jabatan! Walkot Tebingtinggi di Sidang OTT Kominfo: Keponakan Saya Memang Kapabel
Berita ini 88 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 7 Agustus 2026 - 21:00 WIB

Keluarga Winda Lorenza Gowasa, Mantan Istri Polisi yang Dinyatakan Mati Bunuh Diri Resmi Lapor ke Polda Sumut

Jumat, 7 Agustus 2026 - 20:23 WIB

Eks Kadisdik Langkat dan Direktur PT Bismacindo Terseret 2 Kasus Korupsi

Kamis, 6 Agustus 2026 - 13:45 WIB

Lima Terdakwa Korupsi Dana BOS SMK Ganda Husada Tebing Tinggi Dituntut 6 Tahun Penjara

Rabu, 5 Agustus 2026 - 15:30 WIB

Ratusan Hektar Kawasan Konservasi Langkat Timur Jadi Ladang Sawit, APH diminta Turun

Rabu, 5 Agustus 2026 - 15:28 WIB

Kadinkes Batu Bara Didakwa Korupsi Dana BTT Rp1,15 Miliar di PN Medan

Berita Terbaru

Berita

Dinas SDABMBK Medan Jemput Bola Tangani Infrastruktur

Jumat, 7 Agu 2026 - 21:03 WIB