PARAPAT, SSOL.ID – Lumbung sawit tapi rakyatnya kelimpungan cari minyak goreng. Itulah potret Sumatera Utara saat ini.
Gubernur Sumut Bobby Nasution melontarkan usulan “DMO Daerah” DMO-D saat buka Pekan Inovasi & Investasi Sumut di Parapat, Simalungun, Kamis 11/6/2026. Alasannya sederhana: CPO Sumut melimpah, tapi minyak goreng di pasar sering langka.
“Sumut ini penghasil sawit, penghasil CPO. Perusahaan sawitnya besar-besar. Tapi masyarakat susah cari minyak goreng. Ibarat tikus mati di lumbung padi,” ujar Bobby.
DMO 35% Tak Mempan di Daerah
DMO Domestic Market Obligation nasional mewajibkan eksportir CPO sisihkan 35% produksinya buat pasar dalam negeri. Kebijakan ini jalan sejak Mei 2022 biar harga + stok minyak goreng stabil.
Masalahnya, kata Bobby, harga di Pulau Jawa lebih tinggi. Akibatnya produsen Sumut lebih milih jual ke sana. Akibatnya? Sumut yang jadi produsen justru kekurangan.
Bobby Usul DMO-D 30% + BUMD Jadi Penyalur
Gubernur mengusulkan kebijakan baru: selain DMO nasional 35%, produsen di Sumut wajib sediakan 30% lagi khusus konsumsi daerah. Pembelinya BUMD penyalur milik Pemprov + kabupaten penghasil sawit.
“Kami masih rumuskan. Bupati daerah penghasil kami minta siapkan. Biar masyarakat nggak susah cari minyak goreng,” jelas Bobby.
Harga Masih Jauh dari HET
Pantauan SSOL.ID di pasar Medan-Simalungun, Jumat 12/6/2026:
– *Minyak curah*: Rp22.000/kg
– *Minyak kemasan merek*: Rp23.000 – Rp24.000/liter
– *Minyakita HET Rp15.700/liter*: di pedagang non-Bulog tembus Rp23.000/liter
Padahal sebelum 2022, minyak kemasan masih Rp12.000 – Rp14.000/liter. Jauh panggang dari api.
Sumut Lumbung Sawit Nasional
Data BPS 2024: Sumut punya 2,01 juta hektare kebun sawit. Peringkat 3 nasional setelah Riau 3,49 juta ha dan Kalteng 2,03 juta ha. Kantong sawitnya di Asahan, Sergai, Labuhanbatu Raya.
Ironi ini jadi PR besar. Rakyat Sumut nunggu: DMO-D Bobby Nasution bisa jadi solusi atau cuma wacana baru?
Penulis : Red









