LANGKAT, SSOL.ID – Limbah perkebunan kelapa sawit dan kotoran ternak yang selama ini belum termanfaatkan, kini diolah menjadi produk bernilai ekonomi oleh masyarakat Desa Limau Mungkur, Kecamatan Pematang Jaya, Kabupaten Langkat.
Melalui inovasi Model SISPADU (Sawit-Sapi Terpadu), tim dosen Universitas Tjut Nyak Dhien mengintegrasikan usaha sawit dan peternakan sapi secara berkelanjutan. Program ini bertujuan menekan biaya produksi dan menciptakan pertanian ramah lingkungan.
Kegiatan pengabdian masyarakat dilaksanakan 21 Juni 2026 bersama Kelompok Tani Murni. Hadir 15 peserta, termasuk Ketua Kelompok Tani Murni Edi Susanto, Koordinator BPP Selamat, PPL Bambang Wahyudi, dan Kepala Desa Suprayetno.
Dukungan Kementerian dan Lembaga Mitra
Program ini didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat BIMA 2026.
Kolaborasi juga dilakukan dengan Yayasan Pusat Studi Pembangunan Manusia dan Alam Sekitar yang diwakili Ahmad Rizki Harahap, Fahman Urdawi Nasution, dan Muhammad Arief Tirtana.
Teknologi FERMATIKSA dan Pupuk Organik
Ketua Tim Prof. Dr. Ir. Tri Martial, MP. menjelaskan SISPADU membangun siklus produksi tertutup. Limbah ternak diolah jadi pupuk organik untuk sawit, sementara limbah sawit diolah jadi pakan ternak.
Inovasi utamanya adalah teknologi FERMATIKSA (Fermentasi Limbah Tandan Kosong Kelapa Sawit dan Pelepah Sawit). Melalui pencacahan dan fermentasi, pelepah sawit bisa menjadi alternatif pakan saat hijauan langka.
Tim juga mendampingi pembuatan pupuk organik dan pupuk cair biourine dari kotoran sapi untuk mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia. Selain itu diperkenalkan sistem grazing terkontrol agar sapi membantu mengendalikan gulma di kebun.
“Melalui Model SISPADU, kami ingin membangun sistem yang saling terintegrasi. Limbah yang sebelumnya tidak bernilai dapat diolah menjadi produk yang memiliki manfaat ekonomi,” ujar Prof. Tri Martial.
Petani Rasakan Manfaat
Ketua Kelompok Tani Murni Edi Susanto mengaku mendapat pengetahuan baru.
“Dengan adanya kegiatan ini, kami mendapatkan pengetahuan baru bahwa limbah yang sebelumnya tidak dimanfaatkan dapat diolah menjadi pupuk dan pakan ternak. Ini tentu membantu petani dalam mengurangi biaya usaha tani,” katanya.
Kepala Desa Limau Mungkur Suprayetno mengapresiasi kolaborasi ini. Ia menyebut SISPADU membuka peluang usaha pertanian yang lebih mandiri.
Universitas Tjut Nyak Dhien berharap model ini bisa direplikasi di wilayah lain yang memiliki potensi sawit dan sapi.
Penulis : Dr. Ilham
Editor : Bahrum Nasution









