PEKANBARU,SUARASUMUTONLINE.ID.– Upaya mengoptimalkan lahan tidur sebagai solusi ketahanan pangan kembali mencuat. Seorang pengusaha perempuan asal Bandung, Riezka Rahmatiana, turun langsung ke Riau untuk menjajaki potensi lahan yang selama ini tidak produktif.
Langkah ini dinilai penting di tengah tekanan impor pangan yang masih membayangi sejumlah daerah di Indonesia.
Dari Lahan Mangkrak Jadi Mesin Produksi
Riezka, selaku Owner PT Rukun Raya, menyebut banyak lahan di Riau masuk kategori “tidur” karena minim akses air, jalan, dan pendampingan teknis. Padahal secara kesuburan, wilayah tersebut dinilai layak untuk komoditas pangan strategis seperti padi, jagung, dan sayuran.
“Bukan sekadar wacana. Kami mau ubah lahan ini jadi mesin ketahanan pangan yang berkelanjutan, mulai dari pembukaan lahan sampai jalur distribusi,” ujarnya saat kunjungan lapangan, pekan ini.
Model yang ditawarkan melibatkan kolaborasi antara perusahaan, BUMD, dan kelompok tani lokal. Pendampingan mencakup penyediaan bibit unggul, sistem irigasi sederhana, hingga pelatihan budidaya modern.
Pemerintah Dorong Swasembada Lewat Lahan Tidur
Kementerian Pertanian mencatat, Indonesia masih memiliki jutaan hektar lahan tidur yang berpotensi dioptimalkan. Program cetak sawah dan optimalisasi lahan rawa menjadi salah satu fokus 2026 untuk menekan impor beras dan jagung.
Analis pertanian menyebut kunci keberhasilan ada pada legalitas lahan dan pendanaan awal. Tanpa dua hal itu, program sering terhenti di tahap pembukaan lahan.
Dampak ke Harga dan Stok Pangan
Jika 10% lahan tidur nasional bisa produktif, dampaknya langsung terasa pada stabilitas harga dan ketersediaan pangan. Selain menekan impor, langkah ini juga membuka lapangan kerja baru di pedesaan.
Masyarakat kini menunggu realisasi program di Riau. Jika berhasil, model ini berpotensi direplikasi ke provinsi lain dengan karakteristik lahan serupa.
Penulis : B. Nasution









