Dinkes Sumut Temukan 162 Balita Stunting di Medan

- Jurnalis

Rabu, 1 April 2026 - 00:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MEDAN, SUARASUMUTONLINE.ID – Dinas Kesehatan Sumatera Utara menemukan sebanyak 162 balita yang menderita stunting. Jumlah tersebut didapat setelah dilakukan pemeriksaan terhadap 79.926 balita.

“Stunting dan gizi buruk ini dua hal yang berbeda sebenarnya, walaupun sama-sama masalah gizi. Jadi kalau untuk di Kota Medan, data stunting kita sampaikan bahwasanya per tanggal 10 Februari 2026, itu dilaporkan ada 162 balita yang kondisinya stunting. Nah, data ini bersumber dari aplikasi SiGizi Terpadu kita. Jadi, dari jumlah balita yang diukur sebanyak 79.926, ditemukanlah 162 balita dalam kondisi stunting. Itu khusus untuk di Kota Medan,” jelas Sekretaris Dinas Kesehatan Sumatera Utara, Hamid Rijal Lubis Pada wartawan, Senin (30/3)

Baca Juga :  Majelis Ta'lim dan Dzikir Al Haura Sumut Sembelih 3 Hewan Kurban di Medan dan Batubara

Menurut Hamid, ada dua penyebab adanya stunting. Penyebab langsung nya dapat berupa asupan gizi yang kurang memadai secara gizi dan penyakit menular seperti TBC, diare, dan cacingan.

“Ada penyebab langsung dan penyebab tidak langsung. Penyebab langsung itu yang pertama adalah asupan gizi. Bagaimana asupan gizi yang masuk ke balita itu, apakah secara kuantitas atau volumenya kurang, atau secara kualitas atau gizinya yang tidak memadai. Kemudian penyebab langsung yang kedua adalah penyakit menular. Jadi kalau balitanya menderita penyakit menular seperti TBC, diare, atau kecacingan, maka asupan gizi yang masuk itu akan ‘dimakan’ oleh penyakitnya tadi, sehingga balitanya menjadi gizi buruk,” ujarnya.

Baca Juga :  Dugaan Korupsi Smart Village Madina Rp 9,4 M Kembali Naik Kepermukaan, Kejatisu Diminta Tetapkan Tersangka

Untuk penyebab tidak langsung dapat berupa kesalahan dalam pola asuh dan pemberian makan terhadap anak, misalnya pemberian makanan berat untuk bayi yang seharusnya masih ASI ekslusif.

“Pengetahuan atau pola asuh dari orang tua atau pengasuhnya. Misalnya bayi usia 0 sampai 6 bulan yang harusnya hanya mendapat ASI eksklusif, tapi sudah diberikan makanan padat atau makanan berat. Ini kan sebenarnya belum bisa diterima oleh pencernaannya dan bisa merusak sistem pencernaan si bayi,” jelasnya.

 

Penulis : Yuli

Follow WhatsApp Channel suarasumutonline.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

BBNKB Kendaraan Bekas Gratis, Tapi Pemilik Tetap Harus Bayar Ini
Rumah Dinas Bank Mandiri di Medan Diduga Dialihfungsikan Jadi Parkir RS Colombia Asia
BGN Larang Dapur MBG Pakai LPG 3 Kg, Minyakita, dan Beras SPHP
Wali Kota Tanjungbalai Bertemu Kepala Kanwil BPN Provsu Bahas Percepatan Penyusunan NPGT dan Sertifikasi Aset Daerah
Galian C Ilegal di Tadukan Raga Deli Serdang Marak, Warga Keluhkan Debu dan Lubang Berbahaya
BMKG: 7 Wilayah Berpotensi Hujan Lebat dan 11 Wilayah Berpotensi Angin Kencang pada Senin 27 Juli 2026
Bank Sumut Jadi Mitra Penyalur Pinjaman Bunga 0 Persen Pemkot Batam
140 Tahun Perkeretaapian di Sumut, Kini Jadi Moda Transportasi Favorit Masyarakat
Berita ini 31 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 27 Juli 2026 - 18:34 WIB

BBNKB Kendaraan Bekas Gratis, Tapi Pemilik Tetap Harus Bayar Ini

Senin, 27 Juli 2026 - 17:04 WIB

Rumah Dinas Bank Mandiri di Medan Diduga Dialihfungsikan Jadi Parkir RS Colombia Asia

Senin, 27 Juli 2026 - 16:33 WIB

BGN Larang Dapur MBG Pakai LPG 3 Kg, Minyakita, dan Beras SPHP

Senin, 27 Juli 2026 - 13:52 WIB

Galian C Ilegal di Tadukan Raga Deli Serdang Marak, Warga Keluhkan Debu dan Lubang Berbahaya

Senin, 27 Juli 2026 - 07:56 WIB

BMKG: 7 Wilayah Berpotensi Hujan Lebat dan 11 Wilayah Berpotensi Angin Kencang pada Senin 27 Juli 2026

Berita Terbaru