Hasyim Desak Pemerintah Tetapkan Banjir dan Longsor di Sumut Jadi Bencana Nasional

- Jurnalis

Minggu, 7 Desember 2025 - 18:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MEDAN, SUARASUMUTONLINE.ID – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumatera Utara Hasyim mendesak pemerintah segera menetapkan musibah banjir dan longsor yang melanda sejumlah propinsi di sebagai bencana nasional.

Menurut politisi Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan itu, skala bencana yang sudah terjadi tidak lagi memungkinkan penanganan maksimal hanya oleh pemerintah daerah.

Data korban dan tingkat kerusakan sudah memenuhi semua kriteria: korban masif, wilayah luas, serta infrastruktur dan kapasitas daerah kewalahan,” katanya Sabtu (6/12).

Hasyim menilai, lambannya keputusan pemerintah pusat untuk mengakui skala bencana ini berpotensi memperburuk kondisi kemanusiaan. Ia menegaskan bahwa penundaan status bencana nasional bukan hanya soal administratif, tetapi menyangkut nyawa manusia yang membutuhkan percepatan logistik, evakuasi, dan peralatan berat.

“Kita bicara ratusan nyawa hilang, ratusan orang masih hilang, puluhan ribu rumah rusak. Dalam situasi sebesar ini, negara tidak boleh terkesan ragu atau menunggu tekanan publik terlebih dahulu,” katanya.

Ketua DPC PDIP Medan itu juga menekankan perlunya investigasi serius terhadap potensi kelalaian struktural, mulai dari tata kelola lingkungan hingga lemahnya pengawasan terhadap perambahan hutan.

Menurutnya, tanpa audit lingkungan yang tegas, bencana serupa hanya tinggal menunggu waktu untuk kembali menghantam masyarakat.

Baca Juga :  Wali Kota Rico Waas Instruksikan Pembersihan Kawasan Medan Barat Harus Tuntas Malam Ini

“Kalau akar masalahnya tidak dibedah, maka setiap tahun kita akan membuat daftar korban baru. Negara harus berani menindak siapa pun yang merusak hutan, bahkan jika pelakunya memiliki kekuatan ekonomi atau politik,” tegasnya.

Menurut Hasyim, penetapan bencana nasional penting agar seluruh sumber daya negara, mulai dari lembaga pusat hingga TNI/Polri, Kementerian Sosial, BNPB, sampai pemerintah daerah bisa dikerahkan penuh, tanpa birokrasi provinsi.

“Penanganan lewat level daerah saja sudah tidak cukup,” katanya.

Ia menambahkan bahwa distribusi bantuan pangan dan sembako masih tersendat di banyak wilayah terdampak, terutama di daerah terpencil di Sumut seperti Tapanuli Tengah, bagian timur dan pegunungan.

“Banyak warga belum kebagian bahan pokok karena jalan rusak atau jembatan hanyut. Ini menunjukkan betapa kritisnya situasi,” ujarnya.

Tak hanya itu, Hasyim juga mengaitkan musibah ini dengan kondisi lingkungan — yakni maraknya perambahan hutan dan illegal logging di hulu sungai dan dataran tinggi. Ia menegaskan bahwa hilangnya hutan memperparah risiko banjir dan longsor.

“Hutan sudah rusak, maka air tidak punya resapan kita seperti memancing bencana secara sistematis,” kata Hasyim.

Sebagai bagian dari PDI Perjuangan, Hasyim mengingatkan instruksi dari ketua umum partainya, Megawati Soekarnoputri, yang lama menyerukan agar kader menanam pohon dan menjaga lingkungan. Menurut Hasyim, kebijakan penghijauan sejatinyabukanlah sekadar slogan, melainkan penyelamat masa depan.

Baca Juga :  Wakil Wali Kota Ikuti Sidang Paripurna Pemandangan Umum Fraksi-fraksi DPRD Medan 

Hasyim menegaskan: PDI Perjuangan konsisten mendesak status nasional agar negara hadir secara penuh — bukan hanya lewat bantuan sesaat, tapi juga lewat rekonstruksi, rehabilitasi lingkungan, dan pencegahan jangka panjang. “Kalau memang skalanya nasional, maka tanggung jawabnya juga nasional,” pungkasnya.

Dengan data resmi BNPB kini tersedia, desakan agar bencana ini diakui secara nasional bukan hanya politik melainkan panggilan kemanusiaan dan tanggung jawab negara.

Diketahui, banjir besar dan longsor melanda sejumlah wilayah seperti Medan, Deli Serdang, Langkat, Serdang Bedagai, Sibolga, Humbang Hasundutan, Toba, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Utara. Bencana serupa juga menghantam Aceh, Sumatera Barat, Riau, dan beberapa provinsi lain di Indonesia.

Korban jiwa akibat gelombang banjir dan longsor yang melanda sejumlah provinsi di Pulau Sumatra terus bertambah. Berdasarkan data resmi BNPB per 5 Desember 2025, total sudah 836 orang meninggal, 509 orang hilang, dan sekitar 2.700 orang luka-luka.

Dari angka itu, di provinsi Sumatera Utara (Sumut) tercatat 311 korban meninggal. Selain itu, kerusakan meluas, misalnya lebih dari 10.500 rumah rusak bahkan.

Penulis : Yuli

Follow WhatsApp Channel suarasumutonline.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

FORDIMKA Gelar Bukber, Pererat Silaturahmi Antara Pengurus dan Anggota
Pemkot Medan Anggarkan Rp 2,4 M untuk Beli Mobil Dinas Walkot-Wawalkot
Sekretariat DPRD Medan Anggarkan Rp 3,1 M untuk Beli 4 Unit Mobil
Menimipas Distribusikan 2.000 Paket Bansos di Medan Tuntungan
Toke Bangunan Tanpa PBG Rajawali Anggar Beking
Ramadhan Berbagi, Kemenimipas Salurkan 5.000 Paket Bantuan
Mahasiswa Prodi Hukum Pidana Islam STAIN Bagikan 100 Paket Minuman dan Gelar Buka Puasa Bersama
LPA Sumut Dukung Pembatasan Media Sosial bagi Anak di Bawah 16 Tahun
Berita ini 19 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 17 Maret 2026 - 13:09 WIB

FORDIMKA Gelar Bukber, Pererat Silaturahmi Antara Pengurus dan Anggota

Selasa, 17 Maret 2026 - 12:03 WIB

Pemkot Medan Anggarkan Rp 2,4 M untuk Beli Mobil Dinas Walkot-Wawalkot

Selasa, 17 Maret 2026 - 12:02 WIB

Sekretariat DPRD Medan Anggarkan Rp 3,1 M untuk Beli 4 Unit Mobil

Selasa, 17 Maret 2026 - 11:56 WIB

Menimipas Distribusikan 2.000 Paket Bansos di Medan Tuntungan

Senin, 16 Maret 2026 - 22:13 WIB

Toke Bangunan Tanpa PBG Rajawali Anggar Beking

Berita Terbaru