Sekapur Sirih: Memperingati Hari Pahlawan 10 November

- Jurnalis

Senin, 10 November 2025 - 10:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: S Purwadi Mangunsastro, Wangsa Arya Penangsang – Kesultanan Demak ke 5, Ketua Yayasan Al Farizi Nusantara Jakarta.

JAKARTA, SUARASUMUTONLINE.ID – PERANG global; fenomena peperangan global ditengarai sebagai pertarungan dua kutub yakni Yahudi USA beserta sekutunya vs “Islam”, ini identik antara serbuan propaganda NWO (New World Order) vs THE BUILD THE WORLD A NEW. Tidak mengagetkan bila ada yang menganalogikan laksana peperangan dalam kisah Bharatayuda yaitu perang besar antara Kurawa vs Pendawa.

Bila dianalogikan sebagai potret geopolitik perjuangan islam, menjadi pertanyaan bagaimana Pendawa mampu memenangkan perang? Untuk menjawab ini, pertama-tama mari kita renungkan makna lirik lagu “LIR-ILIR” ciptaan Waliyulloh Eyang Sunan Kalijogo.

Dari sana kita akan mendapati “dakwah”, ajakan untuk bangkit dari kemalasan, bergerak menumbuhkan keimanan. Makna ini disampaikan melalui perumpamaan sederhana seperti tanaman yang bersemi (“tandure wis sumilir”), yang melambangkan keimanan yang harus dirawat, dan pohon belimbing dengan lima buahnya melambangkan lima Rukun Islam. Kita semua tahu pohon belimbing itu licin apalagi bila turun hujan. Memanjat pohon belimbing butuh perjuangan tidak mudah. Dari situ kita menemukan fakta empiris bahwa kerja dakwah itu sejatinya butuh perjuangan gigih, begitulah dakwah sebagai jihad.

Penunaian tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi sangatlah esensial implementasinya dalam bentuk kinerja dakwah. Oleh karenanya berjihad dalam dakwah memiliki fungsi sebagai panduan, motivasi dan praktek nyata dari tanggungjawab ke-khalifah-an itu sendiri. Dakwah memastikan bahwa tugas mengelola dan memakmurkan bumi dilaksanakan sesuai dengan ajaran agama dan nilai-nilai Illahi.

Berjuang memenangkan atau menjayakan islam berarti tidak dalam artian leterlek (letterlijk – bahasa Belanda) memerangi non islam (kafir) tetapi sesungguhnya berjuang meng-goal-kan perjuangan dakwah yakni menebarkan cahaya islam di setiap sanubari manusia, dengan kata lain mengokohkan khalifah. Tak terkecuali seluruh golongan makhluk tanpa mendikotomikan agamanya apa, sebab manusia diciptakan untuk tugas menjadi khalifah di muka bumi.

Langkah utama mengokohkan esensi khalifah di diri kita terlebih dahulu, menjadi individu yang bersih, berintegritas dalam kehidupan sehari-hari, dan paralelism konsepsi kerja dakwah menebarkan kebaikan pada individu sekitar kita, keluarga, komunitas masyarakat untuk tujuan membangun masyarakat islami (islam = selamat, damai).

Baca Juga :  Tali Asih Atlet di HAORNAS Deli Serdang Dibatalkan, Aktivis Muda, Ariswan" Jangan Lukai Semangat Olahraga di Hadapan Publik"

Menundukkan syaitan, jin, siluman yang ada di diri kita agar dia tidak menganggu kita menuju jalan Allah, dengan cara memberikan “kitab”; kitab itu adalah dzikir “Alhamdulillahi rabbilalamiin” – mensyukuri nikmat Allah seru sekalian alam. Dengan senantiasa amalkan dzikir itu, insyaallah diri kita akan bebas dari syaitan berperangai menganggu, bahkan kita bisa ditakuti syaitan.

Hasil akhir perjuangan dakwah adalah hadirnya sifat mulia “Pendawa” eksis di diri kita. Hasil kerja gerakan dakwah adalah terakumulasinya “energi Pendawa” untuk senjata melemahkan Kurawa. Jangan silaf, sifat Kurawa-Kurawa itupun juga ada di anak bangsa kita sendiri. Peperangan Bharatayuda melambangkan pertikaian antara kebatilan (Kurawa) dengan kebenaran (Pendawa). Bangsa Indonesia yang dulu dikenal memiliki keluhuran adab dan budi pekerti mulia sebagaimana karakteristik mulia dimiliki masyarakat Pendawa, kini mengalami pembelahan dan hal ini tidak luput dari serbuan gaya hidup dan ideologi liberal serta pola tatanan satu dunia yang dikembangkan NWO melalui ideologi kapitalism.

Menghadapi NWO, mewujudkan kemenangan ISLAM

Merunut historikal (jasmerah – jangan lupakan sejarah), slogan THE BUILD THE WORLD A NEW (Menata Dunia Baru Yang Baldatun) dijadikan judul pidato visioner Ir. Soekarno dikumandangkan tahun 1960 pada Sidang PBB, yang membuat dunia (Barat-Yahudi) terperangah hingga menginspirasi USA – German dan sekutunya menggagas NWO. NWO lah yang sekarang menggurita ke seluruh dunia untuk tujuan menggerogoti islam dengan target islam hapus dari muka bumi. Komponen freemansonry, keluarga-keluarga terkaya dunia berada dibalik NWO yakni dikenal sebagai kaum globalis Yahudi menebarkan ideologi kapitalism, liberalism, komunism, menyebarkan gaya hidup hedonism dan individualism dengan berkedok HAM menghancurkan adab dan akhlak manusia.

Perlu dipahami bagi kita bangsa Indonesia bahwa landasan modal mereka adalah aset harta amanah nusantara yang kini diubahnya kedalam sistem moneter digital berbasis Aset Global Nusantara yang sejatinya merupakan buah akuntansi politik “perampasan” saat perang dunia terdahulu dan saat ini dibawah kooptasi WB, IMF, THE FED serta mengakali lembaga dunia PBB (UN) sebagai tameng gerakan kapitalisme global?

Lalu bagaimana kita Indonesia atau Pendawa memenangkan peperangan? Jawabnya, terus berpegang teguhlah pada tali Allah, Al Quran dan Hadist; surah Al Anfal firman yang membentangkan harta rampasan perang. Dari situlah ada rahasia jihad dan termaktub kunci menaklukkan sifat buruk kurawa, yang arogan, jahat, angkuh,dan suka menyombongkan diri, penuh perilaku tipu daya, korup, menghalalkan riba, “molimo” dan sifat-sifat dajjalism, yakni dengan memperkuat benteng diri dengan perilaku bersih, bermoral bahkan harus revolutif dalam akal budi (revolusi akal budi) sehingga terbangun masyarakat yang memiliki struktur nilai, perilaku sosial dan budaya yang mulia.

Baca Juga :  Refleksi akhir tahun Ketua MKGR Kota Medan. M.Ihsan Kurnia.

Berdakwah dengan kelemahlembutan sebagaimana dicontohkan Rosululloh, adalah aktualisasi jihad disyiarkan dalam kerja dakwah. Semua perjuangan dakwah untuk memerdekakan islam dalam arti bukan hanya pembebasan fisik dari penjajah, tetapi lebih mendalam dari itu yakni kemerdekaan sejati dalam islam yang diraih dengan hanya tunduk kepada Allah SWT melalui kalimat tauhid “laa ilaaha illallaah” serta menjalankan ibadah dan akhlak mulia untuk menggapai kebebasan batin dan spiritual, tidak terbelenggu dalam perbudakan selain kepada Allah, seperti hawa nafsu, harta, jabatan atau kekuasaan dan makhluk ciptaan lainnya.

Kita mampu meraih kemerdekaan eksistensiil makhluk mulia ciptaan Allah sebagai “khalifah” di bumi untuk menegakkan perintah-perintah Allah (i’lai kalimatillah), hidup berdampingan secara damai dalam naungan masyarakat berfalsafah Pancasila bersemboyan Bhineka Tunggal Ika. Tapi benarkah atmosfer bangsa kita menujukkan kedamaian yang dicitakan manakala dasawarsa terakhir justru perang hujat- menghujat sesama anak bangsa terus berlangsung bahkan banyak pihak mengkhawatirkan mengarah Indonesia bubar?

Saatnya kita bangsa Indonesia perlu introspeksi betapa Pertempuran Surabaya 1945 telah mencatat babak heroik perjuangan para santri berjihad yang diserukan oleh para ulama, dipimpin Syekh KH Hasyim Asy’ari, membela tanah air melawan penjajah tentara sekutu dengan mempertaruhkan nyawa, merdeka atau mati!

Dalam konteks kekinian bangsa ini butuh perjuangan berani membela dan menegakkan kebenaran sebagai manifestasi memerangi kebatilan yang ditengarai justru batil dan kezaliman dipelihara oleh penguasa dan aparatur pemerintahan dan negara. Negeri Indonesia Yang Baldatun (baik) Thayyibatun (makmur) wa Rabbun Ghafur (mendapat ampunan dari Tuhan) hanya bisa diwujudkan manakala kaum islam, muslim berhijrah ke mukmin dan mengambil peran sebagai garda terdepan memerdekakan bangsa dan negara dari serbuan kurawa-kurawa.

Follow WhatsApp Channel suarasumutonline.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menyingkap Teorema Sunan Kalijaga: Harmoni Islam, Cahaya, dan Bayangan Kehidupan
Wan Chaidir Baros Menilai Masa Kejayaan Kesultanan Sumatera Timur Hanya Tinggal Sejarah
Membangun Karakter Utama: Mempresisi Jalan Rakyat Adil Makmur
Menjemput “Kalasuba” dan “Malaikat Badar” di Tengah Bayang-bayang Transisi Kekuasaan
Butuh Konsolidasi Politik Menuju Kembalinya UUD 1945 Asli
Restorasi Karakter: Jalan Tengah Menyelamatkan Peradaban Indonesia
Dari Hegemoni ke Multipolar: Purwadi Mangunsastro Sorot Kedaulatan Ekonomi RI Sambut “Indonesia Emas”
PERIODE TRANSISI: Rekonstruksi Menuju Kedaulatan Bangsa yang Holistik
Berita ini 103 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 8 Juli 2026 - 11:24 WIB

Menyingkap Teorema Sunan Kalijaga: Harmoni Islam, Cahaya, dan Bayangan Kehidupan

Minggu, 5 Juli 2026 - 16:06 WIB

Wan Chaidir Baros Menilai Masa Kejayaan Kesultanan Sumatera Timur Hanya Tinggal Sejarah

Sabtu, 27 Juni 2026 - 12:44 WIB

Membangun Karakter Utama: Mempresisi Jalan Rakyat Adil Makmur

Senin, 22 Juni 2026 - 21:16 WIB

Menjemput “Kalasuba” dan “Malaikat Badar” di Tengah Bayang-bayang Transisi Kekuasaan

Kamis, 18 Juni 2026 - 09:43 WIB

Butuh Konsolidasi Politik Menuju Kembalinya UUD 1945 Asli

Berita Terbaru