PERIODE TRANSISI: Rekonstruksi Menuju Kedaulatan Bangsa yang Holistik

- Jurnalis

Minggu, 14 Juni 2026 - 19:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Masa transisi kepemimpinan nasional menuntut lahirnya strategi solutif dan holistik yang menggabungkan koreksi tata kelola ekonomi makro dengan restorasi ideologis dan moral kenegaraan.

Strategi ini berfokus pada dua pilar utama: (1) menutup kebocoran ekonomi melalui kemandirian sektor strategis, sebagaimana fondasi yang dirintis oleh pemerintahan Prabowo Subianto yakni dengan langkah mewujudkan Indonesia yang mandiri dan berdaulat, serta (2) mengembalikan nilai bernegara pada konstitusi UUD 1945 asli dan Pancasila dengan pembenahan tertentu melalui pasal 37 dan atau Adendum.

Langkah-langkah strategis ini tidak hanya menjadi beban pemerintah, tetapi juga tanggung jawab rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah dan masyarakat mutlak diperlukan.

Baca Juga :  H Andre Renardi Nasution Raih Gelar Doctor Dengan Predikat Magna Cumlaude.

Periode transisi harus menjadi momentum bagi seluruh elemen bangsa untuk bersikap kritis, menjaga persatuan, dan mengawal arah kebijakan agar senantiasa berpihak pada kesejahteraan rakyat banyak.

Untuk mewujudkannya, terdapat empat langkah strategis yang perlu dipersiapkan:

1.Kembali ke Konstitusi Asli:
Menjaga agar sistem pemerintahan tetap berlandaskan pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sesuai dengan UUD 1945, serta mencegah segala bentuk pelemahan institusi demokrasi yang mengarah pada otoritarianisme.

2.Restorasi Nilai Pancasila: Mengembalikan esensi Pancasila—dari yang kini bergeser ke arah individualistis liberal-kapitalis—menjadi nilai gotong royong, keadilan sosial, dan kesejahteraan bersama yang sejati.

3. Pembangunan Karakter Bangsa (Nation and Character Building): Memfokuskan kembali program pembentukan karakter agar masyarakat memiliki kesadaran politik yang kuat, mental mandiri, dan tidak mudah dipecah belah oleh kepentingan pragmatis.

Baca Juga :  Urgensi Menghidupkan (Kembali) Siskamling

4. Negara Melayani Rakyat:

Mengubah paradigma tata kelola agar negara berfungsi sepenuhnya sebagai pelayan dan pelindung rakyat, bukan sebaliknya di mana aparatur negara dan kekuasaan justru mengkooptasi kedaulatan rakyat.

Guna mengawal periode transisi ini, kehadiran lembaga masyarakat yang kuat seperti _Dewan Kecendekiawanan_ sangatlah dibutuhkan. Dewan ini berperan sebagai transformator, kanalisator, dan mediator masyarakat madani untuk menciptakan iklim dialogis yang sehat. Selain itu, lembaga ini juga bertindak sebagai watchdog guna memastikan pemerintahan berjalan menuju tata kelola yang bersih dan akuntabel yakni pemerintahan Good Governance.

Follow WhatsApp Channel suarasumutonline.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Polemik Retribusi Parkir di Daerah
H Andre Renardi Nasution Raih Gelar Doctor Dengan Predikat Magna Cumlaude.
Anatomi Kepemimpinan “Auto-Pilot”: Setahun Letnan-Levi dan Pertaruhan Marwah Padangsidimpuan
Uang Pribadi dalam Jabatan Publik : Sah atau Menyimpang
Ashari Tambunan Kembali Dipilih Sebagai Ketua PKB Sumut Priode 2026-2031
Peran Negara Saat Darah Rakyat Dihisab Pinjol
Refleksi akhir tahun Ketua MKGR Kota Medan. M.Ihsan Kurnia.
Sepanjang 2025, Kejaksaan Tinggi Sumut Telah Laksanakan Kegiatan dan Pencapaian Luar Biasa
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 14 Juni 2026 - 19:23 WIB

PERIODE TRANSISI: Rekonstruksi Menuju Kedaulatan Bangsa yang Holistik

Selasa, 17 Maret 2026 - 11:54 WIB

Polemik Retribusi Parkir di Daerah

Minggu, 8 Maret 2026 - 21:33 WIB

H Andre Renardi Nasution Raih Gelar Doctor Dengan Predikat Magna Cumlaude.

Jumat, 13 Februari 2026 - 22:45 WIB

Anatomi Kepemimpinan “Auto-Pilot”: Setahun Letnan-Levi dan Pertaruhan Marwah Padangsidimpuan

Sabtu, 7 Februari 2026 - 10:03 WIB

Uang Pribadi dalam Jabatan Publik : Sah atau Menyimpang

Berita Terbaru