Butuh Konsolidasi Politik Menuju Kembalinya UUD 1945 Asli

- Jurnalis

Kamis, 18 Juni 2026 - 09:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Seperempat abad pasca-reformasi, desakan “kembali ke UUD 1945 asli” makin kencang. Tapi gerakannya masih sporadis dan mentok di resistensi oligarki yang nyaman dengan konstitusi hasil amendemen. Penulis menilai: tanpa konsolidasi politik sistematis + kesadaran kolektif, haluan negara sulit diluruskan.

1. Evaluasi Ketatanegaraan: Jurang antara Pancasila vs Realitas
Menurut penulis, sistem pasca-amendemen sudah bergeser jauh dari cita-cita Pancasila. Cenderung liberal, kapitalistik, individualistik. Dampaknya:

– Matinya Kedaulatan Rakyat: Kedaulatan pindah ke segelintir elite parpol, bukan rakyat murni.
– Dominasi Eksekutif-Legislatif: Kewenangan presiden terlalu luas → checks & balances melemah → rawan sewenang-wenang & korupsi.
– Kemunduran Demokrasi: Penegakan hukum ditunggangi politik → lahir dinasti politik → rusak tatanan moral bernegara.

Baca Juga :  Refleksi akhir tahun Ketua MKGR Kota Medan. M.Ihsan Kurnia.

Bagi penulis, “kembali ke UUD 1945 asli” bukan nostalgia. Ini ikhtiar strategis penyelamatan negara. Kuncinya: redefinisi parpol jadi alat sosialisasi-rekrutmen-kontrol sosial, bukan mesin rebutan kuasa. Restorasi harus adaptif zaman, bukan copy-paste buta masa lalu.

2. Gagasan Inti: Pisahkan Kepala Negara & Kepala Pemerintahan
Untuk pecah penumpukan kuasa, penulis usulkan format berakar nilai Nusantara:

– Kepala Negara: Jaga visi bangsa. Sakral,       pemersatu, jaga moral & spiritualitas Ketuhanan. Fokus nation & character building.
– Kepala Pemerintahan: Eksekusi misi kenegaraan. Teknis-administratif-operasional berdasar GBHN untuk wujudkan keadilan sosial.

Baca Juga :  _Sambungan_ (Serial Opini Trisula Weda) "REZIM EDAN-EDANAN" NOTONEGORO INDONESIA AGREGASI KHALIFAH,_Sub Judul :_ SHANGYANG RASA DAN INSAN KHALIFAH

Dengan pemisahan ini, trias politica bisa jalan murni. Kekuasaan tak menumpuk di 1 figur/lembaga, potensi abuse of power diminimalisir.

3. Restorasi: Kembalikan Musyawarah Mufakat

Penulis tolak “voting terbanyak” yang transaksional & rentan modal. Hak politik warga harus kembali ke demokrasi permusyawarahan mufakat Sila ke-4.

Indonesia butuh “Pemimpin Agung” sebagai Kepala Negara: teladan, arif, bijaksana, representasi nilai luhur. Musyawarah dirujuk ke pemikiran Hatta/Soepomo soal sistem perwakilan khas Nusantara.

Catatan Akhir
NKRI harga mati. Tapi untuk akomodasi pemisahan Kepala Negara vs Kepala Pemerintahan, format presidensial + unsur musyawarah mufakat layak dikaji ulang menghadapi politik modern.

 

Penulis : S. Purwadi Mangunsastro

Follow WhatsApp Channel suarasumutonline.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menakar Kegagalan Sistemik UUD 1945 Pasca-Amandemen; Jalan Buntu dan Desakan  Rekonstruksi 
Melampaui Batas Kedaulatan: Menakar Tanggung Jawab Hukum Internasional dan Esensi Filosofi Indonesia ber-Pancasila dalam Krisis Asap Lintas Batas
Menggugat Kompas yang Patah: Panggilan Sumpah Pemuda 2026 untuk Merebut Kembali Arah Bangsa
Ketika Viral Mengalahkan Kebenaran
Akademisi: Pengawasan Ombudsman ke Lapas Harus Menjadi Momentum Pembenahan
ANALISIS KRISIS KONSTITUSIONAL PASCA-REFORMASI DAN URGENSI REKONSTRUKSI SISTEM PEMERINTAHAN
Saat Vonis Bebas Jadi Cermin Evaluasi Kejaksaan
KORUPSI MASSAL DI BIROKRASI SUMUT: 13 Kadis Terjerat, Kerugian Negara Rp53,6 Miliar Pengamat: Ada Budaya “Setoran” dan Lemahnya Pengawasan
Berita ini 43 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 12:04 WIB

Menakar Kegagalan Sistemik UUD 1945 Pasca-Amandemen; Jalan Buntu dan Desakan  Rekonstruksi 

Jumat, 30 Oktober 2026 - 17:13 WIB

Melampaui Batas Kedaulatan: Menakar Tanggung Jawab Hukum Internasional dan Esensi Filosofi Indonesia ber-Pancasila dalam Krisis Asap Lintas Batas

Rabu, 28 Oktober 2026 - 11:24 WIB

Menggugat Kompas yang Patah: Panggilan Sumpah Pemuda 2026 untuk Merebut Kembali Arah Bangsa

Selasa, 20 Oktober 2026 - 18:44 WIB

Ketika Viral Mengalahkan Kebenaran

Minggu, 27 September 2026 - 20:16 WIB

Akademisi: Pengawasan Ombudsman ke Lapas Harus Menjadi Momentum Pembenahan

Berita Terbaru

Daerah

Pemkab Deli Serdang Dukung Pelestarian Budaya Karo

Kamis, 5 Nov 2026 - 12:11 WIB