MEDAN, SSOL.ID – Ketua Yayasan Al Farizi Nusantara, S. Purwadi Mangunsastro, menilai tatanan dunia sedang bergeser dari unipolar ke multipolar. Pemicunya: tergerusnya kepercayaan global ke Dolar AS dan menguatnya konsolidasi ekonomi blok BRICS.
3 Poin Inti Refleksi Geopolitik Purwadi:
1. Ancaman Struktural Domestik
Purwadi menyebut Pemerintahan Prabowo mewarisi beban lama: kapitalisme Orde Baru, ekstraksi SDA masif, dan ketergantungan digital. Dampaknya masih kerasa: ketimpangan melebar, kelas menengah tertekan, Rupiah rentan guncangan eksternal.
2. Perangkap “Unequal Exchange”
Data BPS 2026 nunjukin batu bara, CPO, bijih logam masih dominasi >30% ekspor nonmigas RI. Pola ini, kata dia, bentuk neokolonialisme: RI ekspor bahan mentah murah, impor barang jadi mahal.
Solusinya: terobosan Danantara, badan ekspor satu pintu era Prabowo untuk kuatkan kedaulatan tawar RI.
3. Resep “Dekolonisasi Struktural”
Doktrin pasar bebas dinilai timpang karena negara maju masih proteksionis + subsidi, sementara RI dipaksa buka pasar. Ditambah “digital divide” yang bikin devisa bocor ke platform asing.
Jawabannya balik ke Trisakti Soekarno: Berdikari Politik, Ekonomi, Kebudayaan. Kuncinya: hilirisasi konsisten, SDM berkarakter, kuasai teknologi, dan kembangkan Rupiah Digital/CBDC + aliansi semikonduktor biar lepas dari hegemoni.
Penutup: Purwadi menekankan geopolitik multipolar jangan cuma jadi “tontonan”. Harus jadi alat dorong kedaulatan ekonomi sampai akar rumput lewat ekonomi kerakyatan + asas kekeluargaan sesuai UUD 1945.
Penulis : S. Purwadi Mangunsastro,









