MEDAN, SSOL.ID – Para Kesultanan di Sumatera Timur pernah mengalami masa Kejayaan dalam Pemerintahannya sebelum terjadi Revolusi Sosial pada 3 Maret 1946 yang lebih tepat disebut Genosida yang dialami oleh pihak kesultanan dan orang-orang kepercayaannya dari kelompok berhaluan kiri berpaham komunis.
Dimasa Demokrasi saat ini dan dalam Pemerintahan Republik Indonesia, hak menjadi kepala pemerintahan sudah hilang sama sekali dan hanya sebatas melestarikan budaya dengan status sebagai organisasi adat dan yang menjadi pertanyaan apakah masyarakat saat ini masih mau menghormati Sultan walau hanya sebagai kepala adat?
Raja Urung Senembah Wan Chaidir Baros menilai Kejayaan Kesultanan Sumatera Timur hanya tinggal sejarah dan perlu ada pembaharuan
“Kesultanan-kesultanan Sumatra Timur hari ini ibarat seekor harimau tua yang kehilangan taring, belangnya masih menjadi lambang kebesaran dan jati diri, tetapi tanpa kepemimpinan yang kuat, wibawa dan perannya semakin memudar,”sindirnya.
Lanjut “Warisan sejarah tidak akan bertahan hanya dengan mengandalkan kebesaran masa lalu. Sebuah institusi adat memerlukan pemimpin yang berintegritas, berilmu, mampu mempersatukan masyarakat, menjaga marwah adat, serta menjawab tantangan zaman,” terangnya.
“Sudah saatnya dilakukan pembaruan melalui kepemimpinan yang visioner, berpegang teguh pada adat, menghormati sejarah, dan mengutamakan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi atau golongan. Dengan demikian, kebesaran Kesultanan tidak hanya dikenang sebagai sejarah, tetapi kembali hidup sebagai sumber persatuan, budaya, dan kehormatan,” sarannya menutup komentar.
Penulis : Dt. Aripin









