MEDAN, SUARASUMUTONLINE.ID– Listrik sudah nyala sejak Sabtu (23/5). Tapi air bersih buat ribuan pelanggan Tirtanadi masih keruh, bau, bahkan nggak ngalir sama sekali.
Blackout 12 jam se-Sumatera Jumat (22/5) memang parah. Tapi yang bikin marah warga: manajemen Tirtanadi baru gerak setelah 3 hari, dan jawabannya cuma “turbulensi pipa”.
Direktur Utama Tirtanadi Ardian Surbakti bilang air keruh di IPA Sunggal, Deli Tua, Limau Manis, Hamparan Perak, Martubung, dan Mebidang itu “wajar” karena pipa terguncang saat listrik mati-hidup.
Wajar? Bagi pelanggan yang bayar tiap bulan, air keruh itu bukan wajar. Itu gagal layanan.
Lebih parah lagi, mesin pompa di IPAM disebut “terganggu” karena genset kerja ekstra. Pertanyaannya: bukannya genset memang disiapkan buat kondisi darurat kayak gini? Kalau genset aja nggak siap, buat apa ada?
Instruksi “buka wash out” baru keluar Senin (25/5). Artinya, selama 3 hari warga minum dan mandi pakai air keruh. Sementara Tirtanadi baru minta maaf lewat telepon.
Dewan Pengawas Andi Atmoko Panggabean cuma bisa bilang “semoga cepat pulih” dan “dukung petugas lapangan”. Nggak ada target waktu, nggak ada kompensasi buat pelanggan yang dirugikan.
Ini pola lama BUMN air daerah: pas lancar, klaim prestasi. Pas macet, lempar alasan teknis dan minta maklum.
Pertanyaannya sederhana: Kenapa sistem Tirtanadi begitu rapuh cuma karena blackout 12 jam?, Di mana SOP darurat yang katanya sudah ada? Dan Kapan pelanggan dapat kepastian dan ganti rugi?
Kalau Tirtanadi nggak bisa jamin air bersih saat listrik mati, apa gunanya bayar mahal tiap bulan?
Warga Medan nggak butuh alasan “turbulensi”. Mereka butuh air bersih sekarang.
Penulis : Yuli









