TANJUNG BALAI, SSOL.ID— Sejumlah organisasi kepemudaan di Kota Tanjungbalai, Sumatera Utara, menggelar Dzikir Bersama bertema “Stop Kekerasan Terhadap Anak” pada Sabtu (25/7/2026). Kegiatan keagamaan tersebut sekaligus menjadi ruang bagi pemuda untuk menyuarakan keresahan atas persoalan sosial di daerah itu.
Kegiatan ini diikuti oleh berbagai elemen pemuda, di antaranya PD KAMMI Tanjungbalai, BEM STAI Al-Hikmah, GEMAS, HIMMAH, PMII, IPNU, IPPNU, serta komunitas Pemuda Berbicara.
Founder Komunitas Pemuda Berbicara, Mhd. Teguh Rizki Silalahi, mengatakan kegiatan tersebut berangkat dari meningkatnya kekhawatiran publik terhadap kasus-kasus sosial, khususnya yang berkaitan dengan perlindungan anak.
Menurut dia, penanganan persoalan sosial di Tanjungbalai membutuhkan pendekatan yang lebih transparan dan akuntabel, tidak hanya seremonial.
“Kepercayaan masyarakat lahir dari keterbukaan. Tanpa transparansi, ruang spekulasi akan terus hidup dan merusak legitimasi hukum,” kata Teguh saat ditemui di sela kegiatan, Sabtu.
Teguh juga menyoroti implementasi visi Pemerintah Kota Tanjungbalai, yakni Tanjungbalai EMAS yang merupakan akronim dari Elok, Maju, Agamis, dan Sejahtera. Ia menilai, nilai agamis seharusnya tidak berhenti sebagai slogan, melainkan diwujudkan dalam kebijakan konkret.
Ia menyebut, kebijakan tersebut perlu tercermin dalam upaya perlindungan anak, pemberantasan narkoba, dan penanganan penyakit sosial lainnya.
Lebih jauh, Teguh mengatakan Dzikir Bersama ini merupakan bentuk refleksi spiritual sekaligus kritik moral terhadap para pemangku kebijakan. Tujuannya, agar pemerintah dan aparat penegak hukum lebih responsif terhadap persoalan yang terjadi di tengah masyarakat.
Ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan kegiatan tersebut sebagai momentum evaluasi bersama.
“Pemuda tidak lagi ingin menjadi penonton. Kami ingin menjadi bagian dari solusi untuk mengembalikan Tanjungbalai sebagai kota yang aman, bermartabat, dan layak bagi generasi mendatang,” ujarnya.
Penulis : Herman Chan









