Perusahaan Besar Belum Tentu Bernilai Tinggi

- Jurnalis

Senin, 10 November 2025 - 12:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Anita Putri, S.E., M.Si

MEDAN, SUARASUMUTONLINE.ID – Di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap investasi saham, ada satu hal yang sering terlupakan: membeli saham bukan hanya mengikuti tren harga, melainkan membaca kualitas perusahaan. Harga saham yang naik belum tentu selalu mencerminkan perusahaan yang benar-benar sehat, begitu pula penurunan harga saham tidak selalu berarti perusahaan kehilangan masa depannya. Karena itu, literasi keuangan menjadi sangat penting agar masyarakat tidak hanya melihat pasar dari permukaan. Pasar saham pada dasarnya mempertemukan harapan, kepercayaan, dan penilaian investor terhadap perusahaan. Di sana, setiap keputusan manajemen dapat diterjemahkan menjadi sinyal. Ketika perusahaan mampu menjaga kinerja dan mengelola keuangannya secara hati-hati, pasar cenderung memberi respons positif. Sebaliknya, ketika perusahaan tampak tidak efisien atau terlalu berisiko dalam mengambil keputusan pendanaan, kepercayaan investor dapat melemah.

Salah satu sektor yang menarik untuk dibaca melalui sudut pandang ini adalah sektor consumer non-cyclicals. Sektor ini dikenal sebagai sektor yang memproduksi kebutuhan dasar masyarakat, seperti makanan, minuman, dan produk konsumsi sehari-hari. Karena produknya terus dibutuhkan, sektor ini sering dianggap lebih tahan terhadap tekanan ekonomi dibandingkan sektor lain. Namun, anggapan tersebut tidak boleh membuat kita menutup mata terhadap persoalan kinerja perusahaan di dalamnya. Dalam kenyataannya, perusahaan yang berada di sektor kebutuhan pokok tetap menghadapi tantangan serius. Stabilitas permintaan tidak otomatis menjamin kuatnya nilai perusahaan. Perusahaan tetap harus mampu membuktikan bahwa mereka memiliki tata kelola keuangan yang sehat, mampu menghasilkan laba dari aset yang dimiliki, serta memiliki kebijakan pendanaan yang tidak membebani masa depan usaha.

Dari penelitian yang saya lakukan bersama tim di Politeknik Negeri Medan, perhatian utama diarahkan pada hubungan antara struktur modal, kinerja keuangan, ukuran perusahaan, dan nilai perusahaan. Penelitian ini melihat bagaimana perusahaan-perusahaan sektor consumer non-cyclicals yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2020 sampai 2024 membangun nilainya di mata pasar. Dengan menggunakan pendekatan analisis moderasi, penelitian ini mencoba membaca lebih jauh apakah ukuran perusahaan benar-benar dapat memperkuat pengaruh kebijakan keuangan terhadap nilai perusahaan. Salah satu hal penting yang dapat dipetik adalah bahwa struktur modal memiliki peran strategis. Struktur modal berkaitan dengan komposisi pendanaan perusahaan, terutama antara utang dan ekuitas. Perusahaan yang mampu menjaga komposisi tersebut secara proporsional akan terlihat lebih terkendali dalam mengelola risiko. Utang dapat menjadi alat untuk memperluas usaha, tetapi jika penggunaannya berlebihan, ia dapat berubah menjadi tekanan yang mengganggu stabilitas perusahaan.

Baca Juga :  Ketidak Sesuaian UUPA dan Aturan Turunannya Memperuncing Polemik Pertanahan

Karena itu, keputusan menggunakan utang tidak dapat dilihat hanya dari sisi kebutuhan dana. Ada pesan yang dibaca investor dari keputusan tersebut. Apakah perusahaan sedang tumbuh secara sehat, atau justru sedang menanggung beban yang terlalu besar? Apakah utang digunakan untuk memperkuat produktivitas, atau hanya untuk menutup kelemahan operasional? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini penting karena pasar tidak hanya menilai angka, tetapi juga membaca arah kebijakan perusahaan. Selain struktur modal, kinerja keuangan juga menjadi dasar penting dalam membentuk nilai perusahaan. Salah satu ukuran yang digunakan adalah Return on Assets atau ROA. Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dari aset yang dimiliki. Semakin baik kemampuan perusahaan mengelola aset, semakin besar pula peluang pasar memberikan penilaian positif terhadap perusahaan tersebut. Dalam konteks ini, efisiensi menjadi kata kunci. Perusahaan yang memiliki banyak aset belum tentu mampu menciptakan nilai apabila aset tersebut tidak dikelola secara produktif. Sebaliknya, perusahaan yang mampu memaksimalkan asetnya untuk menghasilkan laba akan terlihat lebih menarik di mata investor. Dengan kata lain, pasar tidak hanya bertanya “seberapa besar perusahaan ini?”, tetapi juga “seberapa efektif perusahaan ini bekerja?”

Temuan mengenai ukuran perusahaan juga layak mendapat perhatian. Selama ini, banyak orang beranggapan bahwa perusahaan besar selalu lebih aman, lebih kuat, dan lebih menjanjikan. Pandangan tersebut dapat dipahami, karena perusahaan besar biasanya memiliki sumber daya lebih luas, jaringan pasar lebih kuat, dan reputasi yang lebih dikenal publik. Namun, ukuran besar tidak selalu menjadi jaminan bahwa perusahaan mampu menciptakan nilai yang tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran perusahaan dapat memperkuat hubungan antara kinerja keuangan dan nilai perusahaan. Artinya, ketika perusahaan besar mampu menunjukkan kinerja keuangan yang baik, pasar cenderung merespons dengan lebih kuat. Akan tetapi, ukuran perusahaan tidak selalu memperkuat hubungan antara struktur modal dan nilai perusahaan. Hal ini memberi pesan bahwa investor tidak cukup hanya melihat skala perusahaan, tetapi juga harus menilai kualitas keputusan pendanaannya.

Baca Juga :  Ashari Tambunan Kembali Dipilih Sebagai Ketua PKB Sumut Priode 2026-2031

Bagi perusahaan, hal ini menjadi pengingat bahwa reputasi dan ukuran aset tidak boleh dijadikan satu-satunya modal kepercayaan. Di era keterbukaan informasi seperti sekarang, investor semakin mudah membandingkan kinerja antarperusahaan. Perusahaan yang besar, tetapi tidak hati-hati dalam mengelola struktur modalnya, tetap dapat dipandang berisiko. Sebaliknya, perusahaan yang disiplin menjaga kinerja dan kebijakan keuangan dapat memperoleh kepercayaan pasar secara lebih kuat. Bagi investor, temuan ini memberikan pelajaran bahwa keputusan investasi perlu dilakukan dengan lebih rasional. Merek yang dikenal luas, ukuran perusahaan yang besar, atau posisi perusahaan di sektor kebutuhan pokok tidak cukup dijadikan alasan untuk membeli saham. Investor perlu membaca laporan keuangan, memahami profitabilitas, memperhatikan struktur pendanaan, dan melihat apakah perusahaan benar-benar mampu menciptakan nilai secara berkelanjutan. Bagi dunia pendidikan, kajian seperti ini juga menunjukkan pentingnya memperkuat literasi keuangan berbasis riset. Masyarakat membutuhkan pemahaman yang lebih membumi tentang bagaimana pasar saham bekerja. Literasi keuangan tidak hanya berbicara tentang menabung atau berinvestasi, tetapi juga tentang kemampuan membaca risiko, memahami informasi keuangan, dan mengambil keputusan ekonomi secara lebih bijaksana.

Pada akhirnya, nilai perusahaan bukanlah sesuatu yang terbentuk hanya karena perusahaan dikenal luas atau memiliki aset besar. Nilai perusahaan lahir dari kepercayaan, dan kepercayaan dibangun melalui kinerja, efisiensi, serta kebijakan keuangan yang bertanggung jawab. Sektor consumer non-cyclicals memang memiliki karakter yang relatif stabil, tetapi stabilitas pasar tidak akan berarti banyak apabila tidak diikuti oleh kualitas pengelolaan perusahaan. Karena itu, baik perusahaan maupun investor perlu melihat nilai perusahaan dengan cara yang lebih dalam. Perusahaan harus mampu menunjukkan bahwa pertumbuhan mereka ditopang oleh keputusan finansial yang sehat. Sementara investor perlu memahami bahwa saham bukan sekadar angka di layar, melainkan cerminan dari cara sebuah perusahaan mengelola masa depannya.

Editor : Rahmat

Follow WhatsApp Channel suarasumutonline.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menavigasi Krisis Global: Kompas Moral Pancasila dari Indonesia untuk Dunia
Menyingkap Teorema Sunan Kalijaga: Harmoni Islam, Cahaya, dan Bayangan Kehidupan
Wan Chaidir Baros Menilai Masa Kejayaan Kesultanan Sumatera Timur Hanya Tinggal Sejarah
Membangun Karakter Utama: Mempresisi Jalan Rakyat Adil Makmur
Menjemput “Kalasuba” dan “Malaikat Badar” di Tengah Bayang-bayang Transisi Kekuasaan
Butuh Konsolidasi Politik Menuju Kembalinya UUD 1945 Asli
Restorasi Karakter: Jalan Tengah Menyelamatkan Peradaban Indonesia
Dari Hegemoni ke Multipolar: Purwadi Mangunsastro Sorot Kedaulatan Ekonomi RI Sambut “Indonesia Emas”
Berita ini 18 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 10 Juli 2026 - 16:02 WIB

Menavigasi Krisis Global: Kompas Moral Pancasila dari Indonesia untuk Dunia

Rabu, 8 Juli 2026 - 11:24 WIB

Menyingkap Teorema Sunan Kalijaga: Harmoni Islam, Cahaya, dan Bayangan Kehidupan

Minggu, 5 Juli 2026 - 16:06 WIB

Wan Chaidir Baros Menilai Masa Kejayaan Kesultanan Sumatera Timur Hanya Tinggal Sejarah

Sabtu, 27 Juni 2026 - 12:44 WIB

Membangun Karakter Utama: Mempresisi Jalan Rakyat Adil Makmur

Senin, 22 Juni 2026 - 21:16 WIB

Menjemput “Kalasuba” dan “Malaikat Badar” di Tengah Bayang-bayang Transisi Kekuasaan

Berita Terbaru

Kriminal

Anak di Medan Bakar Ayah Kandung, Diduga Pengaruh Narkoba

Sabtu, 18 Jul 2026 - 14:24 WIB

Sepak Bola

PSMS Medan Rekrut 6 Pemain Liga 1 Jelang Piala Presiden 2026

Sabtu, 18 Jul 2026 - 12:59 WIB