MEDAN, SSOL.ID – Pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menargetkan Rupiah kembali ke level Rp15.000 per Dolar AS pada Juni 2026, membuka ruang optimisme sekaligus debat publik. Di tengah kurs yang masih tertahan di atas Rp18.000/USD, target itu terdengar berani. Tapi beranikah pasar percaya?
1. Optimisme Berbasis Data, Bukan Wacana
Purbaya tidak sekadar “berharap”. Ia mematok target itu pada dua mesin suplai dolar: Devisa Hasil Ekspor SDA yang wajib parkir di Himbara mulai 1 Juni 2026, dan penerbitan obligasi global pemerintah. Logikanya sederhana: devisa banyak masuk → tekanan ke Rupiah berkurang. Ditambah fundamental ekonomi Q1 2026 masih kuat di 5,6%, inflasi terkendali, konsumsi naik. Dari sisi neraca, ada alasannya.
2. Luka Psikologis Pasar Masih Dalam
Masalahnya, pasar tidak hanya membaca neraca. Ia membaca “rasa aman”. Setahun terakhir Rupiah jadi korban confidence crisis: kebijakan populis mendadak, Danantara sentralisasi ekspor, hingga revisi UU TNI yang memicu tuduhan “militerisme”. Ketika _The Economist_ menulis “Archipelagoing Fast”, investor asing langsung cut exposure. Menyebut “jangan panik kayak 1998” justru mengingatkan pasar pada trauma itu.
3. Ujian Kebijakan, Bukan Sekadar Kurs
Target Rp15.000 itu sebenarnya ujian. Kalau DHE SDA beneran mampir lama di Himbara dan tidak “mampir sebentar lalu ke Singapura” seperti evaluasi Purbaya sendiri, maka cadangan devisa akan tebal. Kalau hilirisasi + Danantara benar-benar naikkan nilai tambah ekspor, maka fondasi penguatan ada. Tapi kalau komunikasinya tetap “mendadak” dan koordinasi fiskal-moneter tidak sinkron, maka Rp15.000 hanya jadi “angan-angan”.
Penutup Editorial
Bangsa ini butuh optimisme. Tapi optimisme tanpa disiplin kebijakan sama dengan euforia. Tugas pemerintah sekarang bukan cuma “mendorong Rupiah”, tapi memulihkan kepercayaan. Pasar valas butuh kepastian, bukan kejutan. Rakyat butuh harga stabil, bukan janji kurs.
Tak cukup kerja keras Menkeu Purbaya saja, Bank Indonesia pun harus memperkuat bauran kebijakan suku bunga dan intervensi valas guna menjaga kepercayaan pasar di tengah ketidakpastian geopolitik. Keberhasilan target ini bergantung pada realisasi devisa hasil ekspor (DHE) SDA serta konsistensi kebijakan moneter dan fiskal dalam meredam trauma psikologis pasar.
Kalau Juni 2026 Rupiah benar menyentuh Rp15.000-an, itu kemenangan Purbaya dan Kemenkeu. Kalau tidak, maka pertanyaannya balik ke kita: mau terus jadi negara ekspor bahan mentah yang nilai tukarnya ditentukan pasar luar, atau berani “dekolonialisasi struktural” seperti yang diingatkan Purwadi Mangunsastro pekan lalu?
Waktunya membuktikan, bukan beretorika. Karena di geopolitik multipolar ini, kedaulatan ekonomi diukur dari Rupiah yang kuat, bukan dari headline yang lantang.
Penulis : Wahyu Danil









