Salam Cerdas.
Wacana yang membandingkan Demo Mahasiswa dan Demo Buruh kerap muncul tiap kali jalanan Jakarta-Medan dipenuhi spanduk. Ada yang bilang demo mahasiswa “tidak berpengaruh”, ada yang bilang demo buruh “paling berdampak”. Keduanya benar, tapi juga sama-sama kurang lengkap kalau dilihat terpisah.
1. Otot yang Berbeda
Demo buruh punya otot ekonomi. Ketika buruh pabrik, pelabuhan, atau transportasi berhenti kerja massal, roda produksi terhenti. Dampaknya langsung: distribusi macet, ekspor telat, APBN terganggu. Karena itu tekanan buruh cepat direspons pemerintah. Ini fakta.
Demo mahasiswa punya otot gagasan dan moral. Massa mungkin tidak sebesar buruh, tapi sejarah mencatat: Tritura 1966 dan Reformasi 1998 dimulai dari kampus. Mahasiswa tidak melumpuhkan pabrik, tapi melumpuhkan legitimasi kekuasaan. Itu juga bentuk pengaruh terhadap sistem pemerintahan.
Jadi pertanyaannya bukan “siapa lebih kuat”, tapi “ot apa yang dipakai”.
2. Sia-Sia atau Tidak?
Mengatakan demo tanpa buruh adalah “sia-sia” sama kelirunya dengan mengatakan demo tanpa mahasiswa “tidak penting”.
Demo menjadi sia-sia ketika 3 hal ini hilang: tujuan tidak jelas, data lemah, dan solusi tidak ditawarkan. Mau yang turun mahasiswa atau buruh, kalau 3 hal itu kosong, hasilnya memang hanya kebisingan.
Sebaliknya, demo mahasiswa 1998 tanpa buruh tetap menjatuhkan rezim 32 tahun. Demo buruh 2012 menolak outsourcing tanpa mahasiswa tetap memaksa revisi PP Pengupahan. Artinya, pengaruh ada, hanya jalurnya beda.
3. Hati-hati Penunggang
Yang paling “sedih” bukan demo mahasiswa atau demo buruh. Yang sedih adalah ketika gerakan rakyat ditunggangi kepentingan politik sempit. Baik mahasiswa maupun buruh, kalau jadi alat politikus busuk, ujungnya tuntutan rakyat dikorbankan.
Tugas pers dan publik di sini: mengawal. Lihat siapa koordinatornya, dari mana dananya, tuntutannya masuk akal atau tidak. Jangan sampai idealisme jalanan dijual murah.
Penutup
Mahasiswa tanpa buruh tetap punya gema. Buruh tanpa mahasiswa tetap punya daya tekan. Tapi ketika dua otot itu jalan bersama, seperti 1998, maka sistem paling tidak nyaman.
Demo tidak pernah sia-sia selama ia jujur, terukur, dan berpihak pada rakyat. Yang sia-sia adalah ketika kita sibuk berdebat “siapa lebih hebat”, sementara masalah yang didemo tetap tidak selesai.
Salam dari Anak NKRI 🇮🇩
Penulis : Red









