MEDAN, SSOL.ID Beberapa minggu terakhir, warga Kota Medan seperti diuji berturut-turut. Listrik padam berhari-hari, kini disusul air PDAM yang berhenti mengalir sejak 10/6/2026. Dua kebutuhan dasar yang mati bersamaan.
Dampaknya nyata dan langsung dirasakan. UMKM berhenti berproduksi karena mesin mati. Rumah tangga kesulitan memasak, mandi, mencuci. Aktivitas dasar yang biasanya sepele, tiba-tiba jadi perjuangan.
Listrik dan air bukan barang mewah. Itu kebutuhan pokok. Ketika dua-duanya terganggu, beban warga jadi berlipat. Apalagi bagi pelaku usaha kecil yang marginnya tipis. Sehari tak buka, omzet hilang. Seminggu, bisa gulung tikar.
Warga berhak tahu. Penyebab pasti padamnya listrik dan air, langkah perbaikan yang sedang dilakukan, serta estimasi waktu normalisasi. Keterbukaan informasi dari PLN dan PDAM penting untuk meredam keresahan dan spekulasi. Janji “dalam beberapa hari” perlu diiringi kepastian dan update berkala.
Pemerintah Kota Medan juga perlu hadir. Bukan hanya menunggu laporan, tapi aktif mengawal agar layanan dasar segera pulih. Skema bantuan darurat untuk UMKM terdampak bisa jadi opsi, agar roda ekonomi mikro tidak lumpuh total.
Ujian ini mengingatkan kita: ketahanan kota diukur dari seberapa tangguh layanan dasarnya. Medan, sebagai kota metropolitan ketiga terbesar di Indonesia, pantas mendapat layanan yang lebih andal.
Semoga padam ini cepat berlalu. Tapi lebih dari itu, semoga jadi momentum evaluasi menyeluruh. Agar ke depan, warga Medan tak lagi harus memilih: mau masak atau mau kerja, karena listrik dan air mati bersamaan.
Penulis : B. Nasution









