Harga Cabai Tembus Rp90 Ribu, Pemprov Sumut Sibuk Bangga dengan Pasar Murah

- Jurnalis

Sabtu, 11 Oktober 2025 - 08:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MEDAN, SUARASUMUTONLINE.ID – Klaim Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) soal keberhasilan menekan harga pangan lewat ratusan pasar murah ternyata berbanding terbalik dengan kenyataan di lapangan.

Meski menggelar 524 kali gerakan pangan murah sepanjang tahun 2025, inflasi Sumut justru melonjak menjadi yang tertinggi di Indonesia, menembus 5,32 persen (year-on-year) pada September 2025. Angka itu jauh di atas rata-rata inflasi nasional yang hanya 2,65 persen, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS).

Kepala Biro Perekonomian Setdaprov Sumut, Poppy Marulita Hutagalung, mengklaim pihaknya telah bekerja keras menjaga stabilitas harga melalui intervensi pasokan dan pasar murah.

“Gerakan pangan dan pasar murah masih terus berlangsung. Ini langkah cepat untuk menjaga daya beli masyarakat,” ujar Poppy di Medan, Jumat (10/10/2025).

Namun, data di lapangan justru memperlihatkan hal sebaliknya. Harga cabai merah di pasar tradisional Medan masih bertengger di Rp90 ribu/kg, beras medium Rp16 ribu/kg, dan bawang merah Rp45 ribu/kg jauh dari kondisi ideal yang diharapkan.

Impor Cabai dari Jember, Bukti Lemahnya Produksi Lokal

Alih-alih memperkuat produksi dalam negeri, Pemprov Sumut justru mendatangkan 50 ton cabai merah dari Jember, Jawa Timur.

Langkah ini diklaim sebagai bentuk intervensi cepat, namun menimbulkan tanda tanya besar: mengapa provinsi penghasil hortikultura harus bergantung pada daerah lain?

Baca Juga :  Pemprov Sumut Surati BI Minta Penjelasan Dana Ngendap Rp3,1 Triliun yang Disebutkan Menkeu Purbaya

“Kita beli 50 ton dari Jember menggunakan mobil ter-moking agar kualitas tetap terjaga. Ini intervensi awal untuk menekan harga,” ungkap Poppy.

Sayangnya, kebijakan itu tak banyak menolong. Harga cabai tetap tinggi di kisaran Rp80 ribu/kg, memperlihatkan lemahnya daya kendali pemerintah terhadap mekanisme pasar.

Peran BUMD Mandul, Distribusi Tak Terkontrol

Kritik juga mengarah pada Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang dinilai tak berfungsi sebagai penyangga harga (buffer stock) komoditas strategis seperti cabai dan beras.

“BUMD tidak boleh menolak gabah petani, tapi juga harus menjaga agar tidak merugi. Tujuannya menjaga inflasi, bukan menekan petani,” kata Poppy.

Namun, petani di lapangan justru mengeluhkan anjloknya harga di tingkat produsen, sementara harga di pasar konsumen tetap tinggi. Kondisi ini memperlihatkan rantai pasok yang timpang dan tidak efisien.

APBD Turun, Strategi Fiskal Tersendat

Poppy mengakui penurunan APBD Sumut 2025 akibat berkurangnya dana transfer pusat turut mempersempit ruang gerak fiskal daerah dalam mengendalikan inflasi.

“Dana transfer dari pusat berkurang, tentu ini berpengaruh terhadap strategi fiskal daerah,” ujarnya.

Pertumbuhan ekonomi Sumut yang hanya 4,85 persen dinilai belum cukup kuat menahan gejolak harga. Upaya memperkuat produksi lokal, sinergi antarwilayah, serta aktivasi peran BUMD masih berjalan lambat.

Baca Juga :  Kebijakan Bobby Dinilai Beratkan Warga, Aceh Malah Jadi Pilihan Baru Bayar Pajak!

Inflasi “Tanda Pertumbuhan”? Pernyataan Kontraproduktif

Ironisnya, di tengah tekanan harga yang kian menekan daya beli masyarakat, Pemprovsu menilai inflasi yang tinggi masih dalam batas wajar.

“Inflasi tidak selalu buruk. Kalau disertai peningkatan aktivitas ekonomi, itu tanda pertumbuhan yang sehat,” ujar Poppy.

Pernyataan ini dinilai kontraproduktif, karena di lapangan masyarakat justru kesulitan memenuhi kebutuhan pokok. Inflasi yang dianggap sebagai “tanda pertumbuhan” justru berpotensi menekan konsumsi rumah tangga — pilar utama ekonomi Sumut.

Ekonom USU: Pasar Murah Tak Sentuh Akar Masalah

Ekonom Universitas Sumatera Utara (USU), Dr. Rahmad Hidayat, menilai kebijakan Pemprovsu hanya bersifat reaktif dan tidak menyentuh akar persoalan.

“Masalah inflasi di Sumut sudah struktural. Kalau rantai pasok dan tata niaga tidak dibenahi, seribu kali pasar murah pun tidak akan efektif,” tegasnya.

BPS mencatat, beras, cabai merah, cabai rawit, bawang merah, bawang putih, cabai hijau, dan daging ayam ras menjadi penyumbang utama inflasi Sumut. Lonjakan tertinggi terjadi pada harga cabai dalam tiga bulan terakhir.

Editor : Rhm

Follow WhatsApp Channel suarasumutonline.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Iduladha 1447, Bobby Nasution Sholat Id di Binjai dan Akan Salurkan Kurban ke Daerah-daerah
Ustad Dasad Latif Hadiri Tabligh Akbar bersama Gubsu di Mesjid Raya Al-Mashun
Sekolah Rakyat Medan Tekankan Kesiapan Mental Siswa, Dorong Program Parenting Day
Komisi 3 DPRD Medan Soroti Tarif Parkir Progresif dan Tunggakan Gaji PUD Pembangunan
PT. Socfindo Indonesia Medan Gelar Pelatihan Pembuatan Super Food Tempe
Warga Keluhkan Pungli Parkir di CFN Medan, Rico Waas Instruksikan Tindakan Tegas
Sambut May Day, Rico Waas: Momentum Perkuat Sinergi Nyata Pemerintah dan Pekerja
273 Unit BRT akan Hubungkan Medan, Binjai dan Deliserdang Mulai Juni 2027
Berita ini 23 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 5 Mei 2026 - 20:17 WIB

Iduladha 1447, Bobby Nasution Sholat Id di Binjai dan Akan Salurkan Kurban ke Daerah-daerah

Selasa, 5 Mei 2026 - 20:15 WIB

Ustad Dasad Latif Hadiri Tabligh Akbar bersama Gubsu di Mesjid Raya Al-Mashun

Selasa, 5 Mei 2026 - 14:29 WIB

Sekolah Rakyat Medan Tekankan Kesiapan Mental Siswa, Dorong Program Parenting Day

Selasa, 5 Mei 2026 - 08:47 WIB

Komisi 3 DPRD Medan Soroti Tarif Parkir Progresif dan Tunggakan Gaji PUD Pembangunan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:04 WIB

PT. Socfindo Indonesia Medan Gelar Pelatihan Pembuatan Super Food Tempe

Berita Terbaru