MEDAN, SSOL.ID – Gelombang kemarahan masyarakat terhadap dugaan dampak pemadaman listrik kembali memuncak. Ratusan massa yang tergabung dalam Dewan Peduli Negeri (DPN) menggeruduk kantor PLN Wilayah pada Selasa (2/6) menuntut kepastian kompensasi atas kerusakan sejumlah alat elektronik warga yang diduga terjadi akibat pemadaman listrik beberapa waktu lalu.
Massa yang datang dari berbagai titik memadati area depan kantor sejak pagi hari. Mereka membawa berbagai barang elektronik yang disebut mengalami kerusakan, mulai dari televisi, mesin cuci, hingga bola lampu sebagai bentuk protes dan simbol keresahan masyarakat atas kerugian yang dialami.
Situasi di lokasi sempat berlangsung panas dan menegangkan. Desakan massa yang ingin masuk dan meminta bertemu langsung dengan Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) PLN membuat kondisi di depan kantor tidak terkendali hingga pagar kantor PLN Wilayah dilaporkan jebol.
Ketegangan disebut terjadi karena massa merasa aspirasi mereka tidak direspons secara serius. Kekecewaan semakin memuncak saat peserta aksi hanya diterima oleh pihak manajemen komunikasi, sementara sosok pimpinan wilayah yang dinilai memiliki kewenangan mengambil keputusan tidak hadir menemui massa.
Bagi para demonstran, persoalan ini bukan lagi sekadar meminta penjelasan, melainkan menuntut tindakan nyata dari PLN terhadap masyarakat yang mengaku terdampak.
“Kami tidak butuh permintaan maaf. Kami butuh bukti nyata terkait kompensasi. Jangan terlalu lama masyarakat menunggu,” tegas Acil Tattoo, koordinator aksi, saat menyampaikan orasi di hadapan ratusan peserta demonstrasi.
Menurut Acil, masyarakat telah cukup bersabar menunggu kejelasan dari PLN terkait pertanggungjawaban atas dugaan kerusakan peralatan elektronik rumah tangga. Ia menilai absennya Kakanwil PLN dalam pertemuan dengan massa justru memperbesar kekecewaan publik dan memunculkan pertanyaan mengenai keseriusan PLN dalam menyikapi tuntutan masyarakat.
“Ratusan orang datang membawa keresahan, tetapi yang ditemui hanya perwakilan. Ada apa dengan PLN? Kenapa pimpinan wilayah tidak
Penulis : Yuli









