Kacang Lokal Bisa Dijadikan Tempe, Alternatif Tekan Impor Kedelai 2,5 Juta Ton

- Jurnalis

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 12:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA, SSOL.ID– Indonesia memiliki potensi besar mengembangkan tempe dari kacang lokal seperti koro, gude, dan kecipir. Inovasi ini dinilai bisa menjadi alternatif bahan baku untuk mengurangi ketergantungan impor kedelai yang mencapai 2,5 juta ton per tahun.

Pakar dari IPB University menyebut, secara ilmiah tempe tidak ditentukan oleh jenis kacang, tetapi oleh proses fermentasinya.

Semua Jenis Kacang Bisa Jadi Tempe

Guru Besar Fakultas Teknik dan Teknologi IPB University sekaligus pakar biokimia pangan, Made Astawan, menjelaskan tempe dapat dibuat dari berbagai jenis kacang asalkan difermentasi dengan kapang _Rhizopus spp_.

“Disebut tempe jika kacang, apa pun jenisnya, difermentasi dengan inokulum kapang _Rhizopus spp_. Dalam bahasa awam disebut ragi tempe atau laru,” kata Made, Kamis (30/7/2026).

Baca Juga :  Kemenkes Klarifikasi Isu 522 Pelajar di Sidoarjo Kena HIV: Data Sebenarnya 60 Kasus Usia 11-17 Tahun

Kapang yang berperan di antaranya _Rhizopus oligosporus_, _Rhizopus oryzae_, dan _Rhizopus stolonifer_. Bakteri dan khamir juga bisa terlibat, meski perannya lebih kecil.

“Pada prinsipnya, semua jenis kacang dapat diolah menjadi tempe,” ujarnya.

Tantangan: Protein dan Rasa

Namun Made menyebut perbedaan bahan baku memengaruhi komposisi gizi dan cita rasa.

Tempe non-kedelai umumnya memiliki kadar protein lebih rendah, tekstur lebih keras, dan rasa yang kurang disukai. Berdasarkan SNI, kadar protein tempe minimal 15 persen.

Baca Juga :  RSU Murni Teguh Horas Insani Pematangsiantar Raih Penghargaan WSO Angels 2026

“Kedelai masih bahan baku paling ideal karena proteinnya paling tinggi dan karbohidrat paling rendah. Kualitas proteinnya juga hampir setara protein hewani, tapi harganya lebih terjangkau,” jelasnya.

Inovasi Teknologi Bisa Dekatkan Kualitas

Meski demikian, Made menilai kacang lokal tetap memiliki prospek besar. Dengan modifikasi proses dan inovasi teknologi pangan, tempe dari kacang lokal bisa didekatkan komposisi gizi dan penerimaan sensorinya dengan tempe kedelai.

“Pengembangan ini bisa menjadi upaya diversifikasi pangan sekaligus menekan impor kedelai,” kata Made.

Saat ini Indonesia masih mengimpor sekitar 2,5 juta ton kedelai setiap tahun untuk kebutuhan pangan dan industri tempe.

 

Penulis : Wahyu Danil

Follow WhatsApp Channel suarasumutonline.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kemenkes Klarifikasi Isu 522 Pelajar di Sidoarjo Kena HIV: Data Sebenarnya 60 Kasus Usia 11-17 Tahun
RSU Murni Teguh Horas Insani Pematangsiantar Raih Penghargaan WSO Angels 2026
Institut Kesehatan Helvetia Tingkatkan Kesadaran Ibu Hamil Lewat Edukasi ANC
Dosen Helvetia Medan Edukasi Ibu Balita Maksimalkan Buku KIA untuk Pantau Tumbuh Kembang Anak
Berita ini 11 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 12:34 WIB

Kacang Lokal Bisa Dijadikan Tempe, Alternatif Tekan Impor Kedelai 2,5 Juta Ton

Minggu, 26 Juli 2026 - 14:09 WIB

Kemenkes Klarifikasi Isu 522 Pelajar di Sidoarjo Kena HIV: Data Sebenarnya 60 Kasus Usia 11-17 Tahun

Minggu, 26 Juli 2026 - 09:44 WIB

RSU Murni Teguh Horas Insani Pematangsiantar Raih Penghargaan WSO Angels 2026

Rabu, 22 Juli 2026 - 18:11 WIB

Institut Kesehatan Helvetia Tingkatkan Kesadaran Ibu Hamil Lewat Edukasi ANC

Rabu, 22 Juli 2026 - 18:01 WIB

Dosen Helvetia Medan Edukasi Ibu Balita Maksimalkan Buku KIA untuk Pantau Tumbuh Kembang Anak

Berita Terbaru