Dialog Kemerdekaan 81 Tahun, Sutrisno Pangaribuan Sebut Rakyat Terjajah Namun Di Paksa Bahagia

- Jurnalis

Minggu, 23 Agustus 2026 - 14:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MEDAN, SSOL.ID – Aktivis dan Pengamat Politik Sutrisno Pangaribuan ST, menekankan bahwa saat ini yang dirasakan rakyat Indonesia terasa terjajah namun dipaksakan bahagia yang disampaikan langsung dalam mimbar Dialog Kemerdekaan 81 Tahun dimana dirinya merupakan salah satu sebagai nara sumber. Minggu (23/8/26).

Pernyataan Sutrisno Pangaribuan ini seketika mendapat tepukan dari para undangan yang hadir seakan menggambarkan perasaan yang sama dirasakan dengan kalimat ucapan tersebut.

Tidak hanya itu, Politisi yang pernah duduk sebagai Anggota DPRD Medan dari PDI-P ini  juga menyampaikan bahwa

“Saat ini negara-negara yang terus berkembang dan mengalami kemakmuran 80 % nya menganut faham Demokrasi Federal,” ungkapnya sambil mengingatkan bahwa Indonesia juga dulunya pernah menjadi negara federal yaitu Republik Indonesia Serikat (RIS).

Baca Juga :  Musyawarah Parsadaan Toga Siregar Indonesia Di Gelar di Muara Tapanuli Utara, Daulat Raja Parluatan Siregar di Daulat Menjadi Ketua

Dialog Kemerdekaan ini diselenggarakan oleh Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumatera Utara (LIPPSU) dengan Tema “Negara Merdeka, Rakyat Terjajah” di Kopi Kereta API Jl. Sena Medan yang dimulai sekitar pukul 10.00 Wib Sampai dengan selesai sekira pukul 17.00 WIB, Sabtu (22/8/26).

Selain menghadirkan Sutrisno Pangaribuan, ST sebagai Nara Sumber, LIPPSU juga menghadirkan Rafriandi Nasution dari Pengamat ekonomi dan Politik dan Dahsyat Tarigan, SH dari Dewan Etik Advokat Indonesia serta menggandeng Indra Buana Tanjung sebagai Moderator.

Baca Juga :  HEADLINE HOT: Geger! Bupati Langkat "Diamankan" KPK, Istana Kecil di Langkat Berguncang?

Direktur Eksekutif LIPPSU Datok Azhari A.M. Sinik menyatakan bahwa dialog ini digelar untuk membuka ruang kritik dan refleksi publik. Menurutnya, kemerdekaan tidak boleh berhenti pada upacara dan simbol, tetapi harus diwujudkan dalam pemerintahan yang transparan, hukum yang adil, pembangunan yang merata dan kesejahteraan masyarakat.

LIPPSU menilai kritik terhadap pemerintah merupakan bagian dari demokrasi. Karena itu, masyarakat, akademisi, organisasi kemasyarakatan dan generasi muda didorong aktif mengawasi kebijakan publik agar cita-cita kemerdekaan tidak hanya menjadi slogan setiap 17 Agustus. (*)

Penulis : Dt. Arifin

Follow WhatsApp Channel suarasumutonline.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Intruksi Gubsu, Satpol PP Terlibat Membantu Kepolisian Dalam Memberantas Narkoba  
HMI Madina Lantik Dewi Wahyuni Hasibuan Sebagai Ketua Umum KOHATI Periode 2026- 2027
Komandan Madina Desak Bupati Copot Kadisdik Madina
Bapenda Medan Dorong Digitalisasi Pajak Restoran, Fountain Daftar QRESTO
Zakiyuddin Harahap Buka Padel Cup 2026,Ajak Pemuda Pancasila Perkuat Kegiatan Positif
Rico Waas Siapkan 26 Truk dan 151 Becak Motor Pengangkut Sampah
Aduan Pasien BPJS Ditolak, Rico Waas Perintahkan Dinkes Panggil RS Bunda Thamrin
Surat Keterangan Ahli Waris Gratis, Rico Waas: Aparat Terbukti Pungli Dicopot 
Berita ini 133 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 25 Oktober 2026 - 17:05 WIB

Intruksi Gubsu, Satpol PP Terlibat Membantu Kepolisian Dalam Memberantas Narkoba  

Minggu, 25 Oktober 2026 - 12:01 WIB

HMI Madina Lantik Dewi Wahyuni Hasibuan Sebagai Ketua Umum KOHATI Periode 2026- 2027

Minggu, 25 Oktober 2026 - 11:55 WIB

Komandan Madina Desak Bupati Copot Kadisdik Madina

Minggu, 25 Oktober 2026 - 11:51 WIB

Bapenda Medan Dorong Digitalisasi Pajak Restoran, Fountain Daftar QRESTO

Minggu, 25 Oktober 2026 - 11:49 WIB

Zakiyuddin Harahap Buka Padel Cup 2026,Ajak Pemuda Pancasila Perkuat Kegiatan Positif

Berita Terbaru

Daerah

Komandan Madina Desak Bupati Copot Kadisdik Madina

Minggu, 25 Okt 2026 - 11:55 WIB