MEDAN, SSOL.ID – Aktivis dan Pengamat Politik Sutrisno Pangaribuan ST, menekankan bahwa saat ini yang dirasakan rakyat Indonesia terasa terjajah namun dipaksakan bahagia yang disampaikan langsung dalam mimbar Dialog Kemerdekaan 81 Tahun dimana dirinya merupakan salah satu sebagai nara sumber. Minggu (23/8/26).
Pernyataan Sutrisno Pangaribuan ini seketika mendapat tepukan dari para undangan yang hadir seakan menggambarkan perasaan yang sama dirasakan dengan kalimat ucapan tersebut.
Tidak hanya itu, Politisi yang pernah duduk sebagai Anggota DPRD Medan dari PDI-P ini juga menyampaikan bahwa
“Saat ini negara-negara yang terus berkembang dan mengalami kemakmuran 80 % nya menganut faham Demokrasi Federal,” ungkapnya sambil mengingatkan bahwa Indonesia juga dulunya pernah menjadi negara federal yaitu Republik Indonesia Serikat (RIS).
Dialog Kemerdekaan ini diselenggarakan oleh Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumatera Utara (LIPPSU) dengan Tema “Negara Merdeka, Rakyat Terjajah” di Kopi Kereta API Jl. Sena Medan yang dimulai sekitar pukul 10.00 Wib Sampai dengan selesai sekira pukul 17.00 WIB, Sabtu (22/8/26).
Selain menghadirkan Sutrisno Pangaribuan, ST sebagai Nara Sumber, LIPPSU juga menghadirkan Rafriandi Nasution dari Pengamat ekonomi dan Politik dan Dahsyat Tarigan, SH dari Dewan Etik Advokat Indonesia serta menggandeng Indra Buana Tanjung sebagai Moderator.
Direktur Eksekutif LIPPSU Datok Azhari A.M. Sinik menyatakan bahwa dialog ini digelar untuk membuka ruang kritik dan refleksi publik. Menurutnya, kemerdekaan tidak boleh berhenti pada upacara dan simbol, tetapi harus diwujudkan dalam pemerintahan yang transparan, hukum yang adil, pembangunan yang merata dan kesejahteraan masyarakat.
LIPPSU menilai kritik terhadap pemerintah merupakan bagian dari demokrasi. Karena itu, masyarakat, akademisi, organisasi kemasyarakatan dan generasi muda didorong aktif mengawasi kebijakan publik agar cita-cita kemerdekaan tidak hanya menjadi slogan setiap 17 Agustus. (*)
Penulis : Dt. Arifin









