Sutrisno Pangaribuan “Gagal Antisipasi Demo, Presiden Prabowo Harus Pecat Listyo dan Tito!”

- Jurnalis

Senin, 8 September 2025 - 13:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MEDAN, SUARASUMUTONLINE. ID – Jika Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) pro aktif, maka jatuhnya 10 orang korban meninggal dunia dan ratusan orang luka berat dan ringan, pada aksi massa (25-31 Agustus 2025), dapat dihindari.

” Sebab Kemendagri memiliki perangkat hingga lingkungan dan dusun, sedang Polri memiliki bhayangkara pembina keamanan dan ketertiban masyarakat (Bhabinkamtibmas) dan satuan intelkam di desa/ kelurahan. Pemerintah memiliki perangkat lengkap untuk mengantisipasi setiap dinamika di tengah masyarakat,” tegas Sutrisno Pangaribuan
Presidium Kongres Rakyat Nasional (Kornas)
Presidium Pergerakan Rakyat Indonesia Makmur Adil (Prima), Senin (8/9).

Sutrisno membeberkan, Selain Kemendagri dan Polri, Pemerintah juga memiliki Badan Intelijen Negara (BIN), Badan Intelijen Strategis (BAIS), Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), serta Komponen Cadangan (Komcad).

” Pemerintah memiliki perangkat lengkap yang jika bekerja dan loyal kepada Presiden Prabowo Subianto pasti tidak akan jatuh korban jiwa dan luka berat dan ringan. Maka Presiden Prabowo dapat meminta pertanggungjawaban dari Kapolri, Mendagri, Kepala BIN, Kepala BAIS, Kepala BSSN, dan Menkomdigi, ” sambungnya.

Seharusnya, masih kata Sutrisno, pemerintah khususnya Kemendagri dan Polri sudah dapat mengantisipasi gejolak sejak aksi unjuk rasa rakyat di Kabupaten Pati Jawa Tengah (10-13 Agustus 2025). Aksi terbesar dalam sejarah Pati tersebut diikuti lebih dari 100.000 orang massa.

” Kita lihat saja bagana Reaksi rakyat Pati yang semula terjadi karena naiknya Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) sebesar 250%, kemudian diikuti tuntutan pemakzulan bupati Sudewo. Meskipun demikian, pemerintah tetap santai, padahal Kemendagri telah mengeluarkan data per (15/8) terdapat 125 daerah yang menaikkan PBB-P2., ” urainya.

Baca Juga :  Polemik Ketua DPRD Medan Wong Chun Sen Buat Pertemuan Di Hotel Hasyim SE : Itu Bukan Cara Diajarkan Partai PDI Perjuangan

Selain di Pati, aksi protes atas naiknya (PBB-P2) juga terjadi di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, Kota Cirebon, Jawa Barat, Kabupaten Semarang Jawa Tengah, dan Kabupaten Jombang Jawa Timur. Rakyat biasa yang selalu menghindari aksi demonstrasi, justru turun ke jalan, protes kepada kebijakan kepala daerah yang dipilihnya. Kemendagri dan Polri abai terhadap gejolak rakyat yang dimulai dari Pati, Jawa Tengah.

Kemendagri yang memiliki jaringan intelijen di badan kesatuan bangsa dan politik (Bakesbangpol) setiap Pemda, dan satuan Intelkam Polri tidak bekerja atau hasil kerjanya diabaikan.

Maka aksi mahasiswa, buruh, dan rakyat yang belajar dari rakyat Pati pun tumpah pasca pengumuman uang pengganti rumah dinas anggota DPR. Aksi “jogetin aja” dari sejumlah anggota DPR pun semakin melengkapi kemarahan massa.

” Ironisnya, pemerintah tidak serius mengendalikan aksi massa hingga mengakibatkan 10 orang meninggal, ratusan massa mengalami luka berat dan ringan, dan diduga masih ada massa yang hilang. Komnas Ham menyebut sejumlah massa mengalami tindakan kekerasan ringan dan berat yang diduga dilakukan aparat Polri, ” sesalnya.

Menurut Sutrisno, Pemerintah tidak berhasil meredam aksi massa yang mendatangi rumah sejumlah pejabat negara.

” Pemerintah gagal melindungi rumah Nafa Urbach, Ahmad Sahroni, Uya Kuya, Eko Patrio, dan Sri Mulyani. Massa leluasa mengambil apapun dari rumah para pejabat negara tersebut, sebagian dibawa pulang. Massa meluapkan kemarahan tanpa kehadiran negara, memberi pelajaran mahal kepada pemerintah. Sesaat negara tanpa hukum, tanpa ada kekuasaan yang mengatur dan menghukum, ” Katanya.

Baca Juga :  Ricky Anthony Desak Pemkab Langkat Tanggapi Aspirasi Rakyat Soal Infrastruktur

Atas ketidakmampuan Kapolri, Mendagri, Kepala BIN, dan alat negara lainnya untuk mengantisipasi berbagai dinamika sosial rakyat dari Pati ke Jakarta dan menjalar ke seluruh Indonesia, maka Kapolri dan Mendagri secara gentelemen harus mundur.

” Jika tidak mundur, maka Presiden Prabowo diminta memberhentikannya. Secara khusus Kapolri dan Mendagri yang sudah terlalu lama berada dalam jabatan yang sama menimbulkan stagnasi program dan regenerasi. Listyo Sigit Prabowo dan Tito Karnavian dapat diberi tugas baru mengurus makanan bergizi gratis atau duta besar, ” tegasnya lagi.

Pemerintah secara resmi menyatakan bahwa biaya kerusakan fasilitas umum/ pemerintah sebesar Rp 950 miliar. Jumlah tersebut tidak termasuk biaya perobatan para korban kekerasan selama aksi yang akan ditanggung pemerintah. Belum lagi biaya operasional aparat dalam rangka pengamanan aksi. Maka terlalu besar anggaran negara yang terbuang percuma karena ketidakmampuan deteksi dini aksi massa dan potensi kericuhan yang timbul. Maka Presiden Prabowo harus meminta tanggung jawab dari anak buahnya atas kerugian negara tersebut.

“Keberanian Presiden Prabowo dibutuhkan oleh negara ini seperti keberanian Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) mengambil alih perkebunan sawit rakyat dan korporasi tanpa putusan pengadilan. Jika Komandan Satgas PKH saja berani melakukan pengambilalihan lahan sawit rakyat dan korporasi, mengapa Presiden Prabowo tidak berani memberhentikan Listyo dan Tito? Pemberhentian keduanya sebagai bab pendahuluan bagi buku baru kepemimpinan Presiden Prabowo. Keberanian Presiden Prabowo akan menentukan kita sebagai macan Asia” Tutupnya.

Penulis : Youlie

Follow WhatsApp Channel suarasumutonline.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jamuan Makan Malam Prananda – Bobby Nasution, NasDem Dukung Langkah Politik Bobby Nasution
Ahmad Doli Tegaskan Penataan Dapil Jadi Penentu Kemenangan 2029
Muscab PKB di Sumut Sukses, 130 Calon Ketua Tanfidz DPC akan Jalani Uji Kelayakan dan Kepatutan
Muscab DPC PKB Kota Medan Resmi Dibuka
Enam Kandidat Kuat Warnai Bursa Pemilihan Ketua DPC PKB Deli Serdang
Ketua pemekaran Serdang Bedagai Resmi ber KTA PSI
Golkar Sumut Pasca Musda: Andar Amin Telponan dengan Hendri Yanto Sitorus, Yasyir Ridho Ketemu Erni
Golkar Tetapkan Musda Sumut ke-11 Digelar 31 Januari–2 Februari 2026 di Medan
Berita ini 36 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 28 April 2026 - 21:28 WIB

Jamuan Makan Malam Prananda – Bobby Nasution, NasDem Dukung Langkah Politik Bobby Nasution

Sabtu, 25 April 2026 - 13:25 WIB

Ahmad Doli Tegaskan Penataan Dapil Jadi Penentu Kemenangan 2029

Kamis, 23 April 2026 - 11:21 WIB

Muscab PKB di Sumut Sukses, 130 Calon Ketua Tanfidz DPC akan Jalani Uji Kelayakan dan Kepatutan

Selasa, 7 April 2026 - 11:15 WIB

Muscab DPC PKB Kota Medan Resmi Dibuka

Sabtu, 4 April 2026 - 11:00 WIB

Enam Kandidat Kuat Warnai Bursa Pemilihan Ketua DPC PKB Deli Serdang

Berita Terbaru