MEDAN, SSOL.ID – Dalam rangka edukasi kepada masyarakat dan pelanggan, Perumda Tirtanadi Provsu menerima kunjungan dari ibu-ibu pengajian Majelis Taklim dan Dzikir Al Haura Sumut, Rabu (22/7) ke Instalasi Pengolahan Air (IPA) PDAM Tirtanadi Sunggal, yang berlokasi di Jalan. Sunggal, Kota Medan.
Kunjungan tersebut langsung di sambut hangat oleh Kepala Sekretaris Perusahaan (Sekper) Perumda Tirtanadi Provinsi Sumatera Utara Nurlin dan kepala Cabang Instalasi Pengolahan Air PDAM Tirtanadi Sunggal beserta staf.
Dalam kunjungan tersebut, jemaah MTZ Al Haura di jelaskan secara detail bagaimana air bisa sampai ke tangan pelanggan dan mengapa di beberapa keadaan, air bisa keruh, kotor hingga mati, meskipun kondisi alam memungkinkan untuk pengolahan air, mulai dari debit air sungai yang tinggi hingga curah hujan yang tinggi.
” Fasilitas Sunggal merupakan salah satu instalasi vital yang terus dikembangkan oleh Perumda Tirtanadi untuk memaksimalkan pelayanan pelanggan,” buka Nurlin pada kunjungan tersebut.
Lebih lanjut Nurlin menjelaskan , bahwa Cara memenuhi kebutuhan terhadap air bersih adalah dengan melakukan pengolahan terhadap air baku yang berasal dari sungai. Ada beberapa proses yang dapat diterapkan dalam teknik pengolahan air sungai hingga dapat dikonsumsi.
Pertama, Proses koagulasi flokulasi, sendimentadi dengan menggunakan Clarifier settler/lamella, teknik pengolahan air minum yang pertama adalah menggunakan metode koagulasi dan flokulasi. Koagulasi merupakan proses penambahan zat kimia tertentu (koagulan) pada air baku, contohnya dari sungai. Tujuannya adalah untuk meningkatkan gaya tarik-menarik partikel koloid yang ada di dalam air.
“Jenis bahan koagulan di antaranya adalah Aluminium Sulfat (tawas), Aluminium Klorohidrat, dan Pollyaluminium Chloride (PAC), dalam hal ini iPAM Sunggal menggunakan PAC,” jelasnya.
Kemudian, zat ini dilarutkan pada air yang sudah ditampung dalam bak penampungan.
Langkah selanjutnya menginjeksikannya ke air baku dan melakukan pengadukan cepat agar partikel koloid membentuk gumpalan (flok). Proses pengadukan harus cepat untuk memudahkan koagulan larut dalam air dan mempercepat pembentukan flok.
“Saat gumpalan flok mulai terbentuk, pengadukan diubah menjadi lambat untuk lanjutan proses flokulasi menuju kondisi mengendap. Apabila pengadukan dilakukan terlalu cepat, justru akan membuat partikel terurai dan kembali tercampur dalam air. Penggunaan Settler/Lamela pada Clarifier membuat proses sedimentasi lebih baik sehingga dapat terjadi pengendapan atau sedimentasi dengan lebih cepat dan lebih efisien,” tambahnya.
Penggunakan clarifier settler/ lamella digunakan untuk memaksimalkan proses pengendapan yang terjadi. Dengan menggunakan clarifier settler/ lamella, maka dapat melakukan proses pengendapan dengan debit air yang sama, tetapi memakan waktu yang lebih pendek dan tempat yang lebih sedikit.
Kedua, Proses filtrasi, adalah filtrasi atau penyaringan. Tujuannya adalah untuk memisahkan air dari zat yang terbawa oleh air olahan, terutama zat yang berbentuk suspensi (dapat mengendap). Di samping itu, proses filtrasi ini juga berfungsi dalam mengurangi kandungan bakteri dan logam.
“Teknik Pengolahan menggunakan air sungai menjadi air minum ini menggunakan berbagai material porous yang dapat dilewati partikel air dan tidak membiarkan kotoran melewatinya. Beberapa jenis penyaring yang bisa dipakai adalah pasir, koral, batu zeolit, dan karbon aktif,” ucap Nurlin lagi.
Ada dua Teknik pengolahan menggunakan air sungai melalui penyaringan pasir ini, yaitu saringan pasir lambat dan cepat. Perbedaan di antara keduanya dapat dilihat dari kebutuhan lahan, kecepatan penyaringan, ukuran pasir, ketebalannya, dan hasil pengolahannya.
Setelah media penyaringan ini digunakan dalam waktu lama, biasanya akan ada kotoran yang menumpuk. Pada akhirnya, kondisi ini membuat proses filtrasi kurang efektif, sehingga harus dibersihkan.(backwash).
Ketiga, Disinfeksi, adalah proses pembubuhan atau penambahan zat kimia Chlorin sesuai ambang batas aman yang ditetapkan Pemerintah, bertujuan untuk membunuh bakteri-bakteri pathogen yang terkandung pada air.
Proses desinfeksi sebagai salah satu proses pengolahan air minum dilakukan tepat sebelum air minum didistribusikan kepada konsumen.
” Saya berharap kunjungan ini bisa memenuhi rasa ingin tahu ibu-ibu bagaiman caranya air di produksi hingga sampai ke rumah ibu-ibu. Kami juga minta maaf jika dalam pelayanan kami masih banyak kekurangan, mulai dari kwalitas air hingga air mati, saya berharap informasi yang kami sampaikan hari ini bisa sampai ke masyarakat melalui ibu-ibu pengajian Al Haura Sumut,” harap Nurlin.
Ditempat yang sama, ketua Majelis Taklim dan Dzikir Al Haura Sumut Ernawati Sitepu didampingi oleh Sekertaris MTZ AL Haura Sumut Yulinda Rahimah mengucapkan terima kasih atas sambutan pihak IPAL PDAM Tirtanadi Sumut.
” Terimakasih kami ucapkan kepada PDAM Tirtanadi Sumut beserta staf dan karyawan nya yang telah menerima kunjungan kami. Dengan ini kami pun tau bagaimana air sampai ke rumah kami dan penyebab air keruh, mati dan lainnya. Kami berharap kedepanya silahturahmi ini akan terus kita bina,” tutup Ernawati.
Penulis : Yuli









