PANDAN, SUARASUMUTONLINE.ID-. Jalan yang amblas, longsoran tanah, listrik yang tak menyala, serta keterbatasan jaringan internet menjadi keseharian yang dihadapi tim medis Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara (FK UISU) saat menjalankan misi kemanusiaan di desa-desa terisolir Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng).
Namun di tengah segala keterbatasan itu, semangat para dokter dan perawat tak pernah surut. Mereka tetap melangkah, bahkan harus berjalan kaki berjam-jam menyusuri medan rusak demi memberikan pelayanan kesehatan kepada warga terdampak bencana.
“Kami dibagi menjadi dua tim. Tim pertama menuju Desa Sait Kalangan II dan tim kedua ke Desa Tapian Nauli Saur Manggita,” ujar Dr Nanda, dokter dari FK UISU, Sabtu (20/12).
Akses menuju lokasi menjadi tantangan utama. Jalan darat tak lagi bisa dilewati akibat amblas dan tertimbun longsor. Satu-satunya cara mencapai desa dan dusun terpencil itu hanyalah dengan berjalan kaki atau menggunakan helikopter.
Tak hanya medan berat, keterbatasan fasilitas juga menjadi ujian tersendiri. Hingga kini, listrik di wilayah tersebut belum pulih sepenuhnya. Tim medis terpaksa mengandalkan mesin genset milik warga, itupun dengan penggunaan yang sangat terbatas. Untuk komunikasi dan laporan, mereka hanya mengandalkan jaringan internet dari perangkat Starlink.
“Genset dan Starlink itu saling bergantung. Kalau genset hidup, barulah kami bisa mendapatkan sinyal internet,” ungkap Nanda.
Meski demikian, rasa lelah seakan terbayar saat melihat antusiasme dan sambutan hangat masyarakat. Setiap hari, warga datang ke posko kesehatan untuk memeriksakan kondisi tubuh, berkonsultasi, serta menyampaikan berbagai keluhan penyakit yang mereka alami pascabencana.
Pengalaman ini sangat berarti bagi kami. Di tengah keterbatasan, kami justru merasa bahagia bisa membantu masyarakat,” katanya.
Nanda juga menyampaikan terima kasih atas dukungan Bupati Tapteng Masinton Pasaribu dan Kepala Dinas Kesehatan Tapteng Lisnawati Panjaitan yang telah memfasilitasi kehadiran tim medis FK UISU di daerah terisolir tersebut.
Apresiasi juga disampaikan kepada Basarnas dan BNPB yang telah menyediakan helikopter untuk mengantar dan menjemput tim medis, mengingat jalur darat sama sekali tidak memungkinkan untuk dilalui.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Tapteng Lisnawati Panjaitan menegaskan bahwa pihaknya terus memberikan perhatian khusus kepada wilayah-wilayah terisolir pascabencana.
“Mulai dari pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat hingga penyediaan pelayanan kesehatan terus kami lakukan secara berkelanjutan,” ujar Lisnawati.
Ia menambahkan, Dinas Kesehatan Tapteng siap menjalankan instruksi Bupati Masinton Pasaribu dalam upaya penanggulangan bencana, khususnya pada aspek pelayanan kesehatan masyarakat.
“Kami terus berkoordinasi dengan Basarnas dan BNPB menggunakan helikopter untuk menjangkau daerah terisolir yang tidak bisa ditempuh melalui jalur darat,” pungkasnya.
Penulis : Yuli









