MEDAN, SSOL.ID— Kualitas air bersih yang disuplai Perumda Tirtanadi Sumatera Utara ke pelanggan diduga belum sesuai standar. Lembaga Information Corruption Watch ICW RI menemukan sejumlah fasilitas vital pengolahan air mengalami kerusakan, tidak terawat, hingga proses pengolahan bahan kimia jauh dari standar ideal pelayanan publik.
Ironisnya, Tirtanadi disebut tetap mengalirkan dana untuk perawatan dan perbaikan fasilitas vital tersebut. Sementara kondisi sejumlah bak pemancar justru tidak terawat dan pencampuran bahan kimia dinilai tak standar.
1. Temuan ICW RI: Clarifier & Aerasi Bermasalah
Di IPA Deli Tua, ICW RI menyebut 4 clarifier tabung punya tube settler rusak. Clarifier I 10 kolom, II 13 kolom, III 10 kolom, IV 14 kolom dari total 16 kolom per clarifier. Akibatnya partikel mengambang berisiko lolos ke filter.
Di IPA Sibolangit, bak pemancar III Lau Kaban disebut 10 unit springkle tidak terpasang, bak pemancar IV Puang Adja 39 unit. Tanpa springkle, aerasi untuk menaikkan pH air tak terjadi. Mesin pengaduk soda ash rusak dan mesin pengaduk kalsium hipoklorit tidak ada, sehingga pelarutan dilakukan manual.
2. Klarifikasi Tirtanadi: Semua Berjalan Normal
Kepala IPA Deli Tua Azanil Putra membantah temuan tersebut. Melalui siaran pers, ia menyatakan “Tube settler setiap clarifier memiliki 16 sel kesemuanya berjalan normal.”
Azanil mengakui kondisi tube settler saat ini perlu perawatan ekstra, namun masih dapat digunakan dan perbaikan dilakukan kontinyu. “Jadi gak benar itu bu yang diisukan tidak standar, kesemuanya masih berjalan secara normal dan sesuai standar,” tegasnya.
Ia menyebut IPA Deli Tua kapasitas terpasang 1400 liter/detik melayani Cabang Delitua, Medan Kota, HM Yamin, Medan Denai, dan Tuasan. Pengolahan air pakai bahan kimia standar sesuai Permenkes No 2 Tahun 2003. “Air ini kan dipergunakan untuk hajat hidup orang banyak mana mungkin kami dalam pengelolaannya tidak sesuai standar,” ujarnya.
Kepala IPA Sibolangit Subhandi juga membantah. Ia memastikan springkle di pemancar Lau Kaban sudah terpasang baik untuk menangkap oksigen dan menaikkan pH. Pipa penyalur soda ash dan kaporit akan ditutup serta dibersihkan tiap 3 bulan. Kualitas air diperiksa pakai turbidity meter tiap 1 jam sekali sesuai Permenkes No 2 Tahun 2003.
“Air yang keluar dari IPA Sibolangit pengolahannya sudah sesuai standar sehingga masyarakat tidak perlu ragu dalam menggunakannya,” kata Subhandi.
3. Catatan Perencanaan ICW RI
ICW RI tetap menyoroti Tirtanadi diduga belum punya data potensi pelanggan untuk perencanaan pengembangan. Target sambungan baru di RKA disebut tidak berdasarkan data dan tidak realistis. Sarana prasarana pendukung produksi-distribusi juga dinilai belum memadai.
Hingga berita ini diturunkan, redaksi masih menunggu keterangan resmi manajemen Perumda Tirtanadi terkait temuan ICW RI secara keseluruhan.
Penulis : Red









