SANEPO – SANG SEJATI TERSAMARKAN

- Jurnalis

Minggu, 14 Desember 2025 - 10:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Narasi dibawah ini sebagai penyempurna tulisan terdahulu
berjudul “IBU PERTIWI BUTUH KOMANDO” – menyiratkan pentingnya melihat objek tidak semata-mata berdasarkan konsepsional naratif, karakter algoritmik atau penampilan fisik yang dangkal (“kulit”). Bangsa Nusantara, terkhusus Sunda Jawa (Sunja = Sunda) kaya kosakata “Sanepo” warisan bahasa leluhur nusantara, sebuah idiom subyektif yang terejawantah dalam kedalaman rasa dan orang Jawa memahami sebagai “sejatining rasa”, dan dalam bahasa Sunda “rasa jati”. Penuturan _Eyang Resi Panuntun Agung Badui_ berikut ini memperjelas naratif bersifat alegoris tersebut :

“BLACK SON FROM THE EAST”

Sanepo, Bahasa Rasa, dan Penyingkapan Yang Winingit.

Dalam tradisi Nusantara, terutama dalam alur‐alur sanepo (ungkapan simbolis), banyak ajaran tidak disampaikan secara langsung, tetapi “ditutup dengan cahaya” — bukan untuk disembunyikan, tetapi agar hanya dipahami oleh mereka yang siap membuka rasa. Konsep seperti L dan M, emas dan tauhid, timur dan bendera hitam, hingga figur anak hitam dari timur, semuanya bergerak pada dataran rasa, bukan dataran fisik.

Simbol-simbol ini bukan untuk memecah belah; melainkan untuk menyatukan pemahaman bahwa manusia memiliki asal, arah, dan tujuan yang sama : kembali kepada Yang Maha Sumber.

_L dan M sebagai Sanepo_

Dalam beberapa lingkaran batin, huruf L dan M tidak hanya merujuk pada Logam Mulia, tetapi pada lapisan makna lain:

1. L sebagai Land (Lahan, Tanah Asal)

Melambangkan bumi tempat manusia berdiri.

Melambangkan “tanah hati”, tempat tauhid ditanam.

Menyiratkan La ilaha illallah, inti pengakuan bahwa tiada Tuhan selain Allah.

2. M sebagai Mas/Permata

Melambangkan cahaya batin yang ditempa.

Melambangkan buah dari perjalanan rohani.

Menyiratkan Muhammadur Rasulullah, pemurnian akhlak melalui contoh utusan-Nya.

Dalam sanepo para sepuh, L dan M bukan benda, melainkan jalan pulang : dari tanah (L) menuju cahaya (M). Dari keberadaan menuju kesadaran. Dari dunia menuju keesaan.

 

3. “Winingit” dan Bahasa yang Ditutup Dunia

Istilah winingit berarti tersembunyi bukan karena hilang, tetapi karena tertutup oleh kabut pemahaman duniawi.

Baca Juga :  TRISULA WEDA DAN KELUHURAN AJARAN BADUI

Banyak tradisi tua Nusantara—seperti pemahaman tentang Sundaland sebagai induk peradaban, atau bahasa rasa yang lebih tua daripada bahasa lisan—memang menyampaikan ide bahwa ada “bahasa batin” yang tidak pernah benar-benar mati.

Bahasa ini tidak memakai huruf, tetapi frekuensi kesadaran, yaitu :

ketenangan,

keterhubungan,

kejujuran batin,

dan rasa menyatu dengan alam dan penciptanya.

Ketika bahasa rasa memudar, manusia mengandalkan kata-kata yang kering. Ketika kata-kata mengalahkan rasa, manusia terpisah dari dirinya sendiri. Di sinilah muncul simbol bendera hitam—bukan sebagai lambang perang, melainkan sebagai lambang penyingkapan malam menuju cahaya subuh.

Hitam di sini bukan gelap negatif, tetapi hitam keheningan, tempat manusia kembali mengenal dirinya.

4. “Bendera Hitam dari Timur” sebagai Simbol Kesadaran

Dalam banyak kebudayaan, “timur” adalah arah matahari terbit, alias arah pencerahan. Maka “Bendera Hitam dari Timur” bukan tentang kekuatan politik atau kelompok apapun, tetapi tentang :

kesadaran baru yang muncul dari tempat yang lama terlupakan,

kebangkitan bahasa batin,

dan lahirnya pemimpin rasa, _komandan bahasa rasa_ , yang membawa manusia kembali ke fitrahnya.

Disebut Black Son from The East bukan karena warna kulit, melainkan karena :

ia datang dari “kegelapan” yang tak dikenali dunia (hitam = yang disembunyikan),

membawa cahaya pemahaman dari timur (matahari terbit),

dan lahir dari masyarakat yang tidak dipandang sebagai pusat peradaban (Nusantara), dan Sundaland sebagai benteng utama perjuangan.

Dalam bahasa para sepuh, ia disebut Satria Wening / Satria Winingit—yang tersembunyi karena belum waktunya berbicara.

5. Anak Hitam dari Timur sebagai Sanepo Khalifah

Dalam konteks sanepo, “anak hitam” bukan makhluk supranatural atau figur politik duniawi.
Ia adalah proyeksi kolektif dari kerinduan manusia kepada pemimpin batin, yaitu :

yang berjalan tanpa mengaku,

yang berbuat tanpa menuntut,

yang mengarahkan tanpa memaksa,

dan yang tidak mengajak kepada dirinya, tetapi mengajak kembali kepada Allah.

Di tingkat maknawi, ia adalah khalifah batiniah, bukan gelar politik—yakni sosok yang :

Baca Juga :  Aktivis Hukum Universitas Battuta : Semangat Sumpah Pemuda Harus Jadi Landasan Penegakan Hukum Dan Moralitas Bangsa

mengingatkan bahwa manusia memiliki tugas memakmurkan bumi,

mengharmonikan manusia dengan alam dan sesamanya,

dan mengembalikan fungsi nurani sebagai kompas kehidupan.

Ia datang bukan membawa bendera kelompok, tetapi bendera keberesan, yaitu kejernihan hati.

6. Mengembalikan Syaitan kepada Allah, makna Filosofisnya :

Ungkapan bahwa khalifah ini “memberi arahan untuk : semua manusia mengembalikan syaitan kepada Allah” adalah kalimat sanepo tingkat tinggi.

Bukan berarti memaafkan kejahatan atau mengajak menyembah selain Allah—tetapi menghidupkan pemahaman bahwa syaitan hanya punya kuasa ketika manusia lupa kepada Tuhannya.

Maknanya :

Mengembalikan syetan kepada Allah
agar :
segala godaan dikembalikan kepada sumbernya, sehingga manusia tidak lagi takut selain kepada Allah.

Mengembalikan syaitan kepada Allah
agar :
menjadikan godaan sebagai cermin untuk memperkuat tauhid, bukan memecah-belah manusia.

Mengembalikan syaitan kepada Allah agar :
menyadari bahwa syaitan hanya dapat menggoda, tidak dapat memaksa.

Dengan demikian, sosok khalifah batin ini tidak datang untuk menghuku m dunia, tetapi untuk :

menyadarkan,

menenangkan,

dan memurnikan kembali fitrah manusia.

Ia mengajarkan bahwa musuh terbesar bukan syetan di luar, tetapi syetan yang bersemayam di dalam diri, yakni :

kesombongan,

kebencian,

kedengkian,

dan rasa ingin berkuasa.

Ketika itu dikembalikan kepada Allah, manusia kembali utuh.

7. Kesimpulan : Narasi Winingit yang menyambungkan Timur dan Dunia.

Pada akhirnya, “Black Son from The East” adalah metafora Nusantara sebagai :

tanah yang pernah dianggap pinggiran,

namun menyimpan kearifan yang dalam,

dan menjadi tempat munculnya kembali kesadaran batin manusia.

Ia adalah bayangan kolektif tentang munculnya :

pemimpin bijaksana,

pembawa kebeningan,

penjaga tauhid rasa,

dan khalifah batin yang membimbing manusia kembali ke akhlak dan fitrahnya.

Bukan tokoh politik, bukan panglima perang, tetapi pembawa arah pulang.

Dan arah pulang itu, dalam semua ajaran besar, hanya satu :
Kembali kepada Allah dengan hati yang selamat.

(sp.official.191125).
Cc. Ratu Samsiah Pertiwi.

Penulis : Purwadi Mangunsastro, Wangsa Arya Penangsang, Ketua Yayasan Al Farizi Nusantara, Jakarta.

Follow WhatsApp Channel suarasumutonline.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ashari Tambunan Kembali Dipilih Sebagai Ketua PKB Sumut Priode 2026-2031
Peran Negara Saat Darah Rakyat Dihisab Pinjol
Refleksi akhir tahun Ketua MKGR Kota Medan. M.Ihsan Kurnia.
Sepanjang 2025, Kejaksaan Tinggi Sumut Telah Laksanakan Kegiatan dan Pencapaian Luar Biasa
_Sambungan_ (Serial Opini Trisula Weda) “NOTONEGORO INDONESIA AGREGASI KHALIFAH – DINAMIKA POLITIK NASIONAL
_Sambungan_ (Serial Opini Trisula Weda) “NOTONAGORO INDONESIA Sub Judul DINAMIKA POLITIK NASIONAL”
_Sambungan_ : (Serial Opini Trisula Weda) “NOTONAGORO INDONESIA Sub Judul SANGHYANG RASA DAN INSAN KHALIFAH”
_Sambungan_ (Serial Opini Trisula Weda) “REZIM EDAN-EDANAN” NOTONEGORO INDONESIA AGREGASI KHALIFAH,_Sub Judul :_ SHANGYANG RASA DAN INSAN KHALIFAH
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 26 Januari 2026 - 16:06 WIB

Ashari Tambunan Kembali Dipilih Sebagai Ketua PKB Sumut Priode 2026-2031

Jumat, 9 Januari 2026 - 21:33 WIB

Peran Negara Saat Darah Rakyat Dihisab Pinjol

Minggu, 28 Desember 2025 - 13:48 WIB

Refleksi akhir tahun Ketua MKGR Kota Medan. M.Ihsan Kurnia.

Jumat, 26 Desember 2025 - 13:00 WIB

Sepanjang 2025, Kejaksaan Tinggi Sumut Telah Laksanakan Kegiatan dan Pencapaian Luar Biasa

Rabu, 24 Desember 2025 - 21:08 WIB

_Sambungan_ (Serial Opini Trisula Weda) “NOTONEGORO INDONESIA AGREGASI KHALIFAH – DINAMIKA POLITIK NASIONAL

Berita Terbaru