_Sambungan_ (Serial Opini Trisula Weda) “REZIM EDAN-EDANAN” NOTONEGORO INDONESIA AGREGASI KHALIFAH,_Sub Judul :_ SHANGYANG RASA DAN INSAN KHALIFAH

- Jurnalis

Jumat, 19 Desember 2025 - 21:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ayat-ayat tentang cahaya Ilahi, terutama Surah An-Nur ayat 35 (Allah adalah cahaya langit dan bumi) dan Surah Al-Maidah ayat 15 (“Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan”), yang ditafsirkan oleh sebagian ulama tasawuf bahwa Nur Muhammad adalah manifestasi cahaya Allah yang menerangi alam semesta dan petunjuk bagi manusia.

Surah ini sebagai wahyu yangberisihukum-hukum
jelas dari Allah (surah An-Nur ayat 1). Ayat “Nur” yang paling terkenal, menjelaskan Allah sebagai “Nur” (Cahaya) bagi langit dan bumi, menggambarkan petunjuk-Nya (surah An-Nur ayat 35). Menggambarkan orang-orang yang tidak dilalaikan oleh jual beli dari mengingat Allah, juga termasuk dalam cahaya-Nya (surah An-Nur ayat 37).Secara ringkas keseluruhan surah An-Nur berbicara tentang cahaya, petunjuk, hukum, dan adab dalam kehidupan.

Kajian subuh di sebuah mesjid di Sidoarjo, Jawa Timur ,17 Desember 2025, mengemukakan bahwa setiap yang hidup pasti mengalami siklus kehidupan sebagaimana yang Allah takdirkan untuk hamba-Nya. Dalam kehidupan ada siang dan malam, ada pagi dan sore dan pergantian tersebut sebagai tanda-tanda kebesaran Allah.

Allah subhanallahu wa ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an : “Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran Kami), kemudian Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang benderang, agar kamu (dapat) mencari karunia dari Tuhanmu, juga agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas” (Surah Al-Isra’ [17] ayat 12).

Di ayat yang lain Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an : “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ” Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS Ali Imran [3] ayat 190-191)”.

Firman tersebut begitu menyentuh hati (qolbu) mengenai hikmah di balik kesusahan. Sejalan dengan ajaran universal dalam firman Allah SWT yang merupakan petunjuk agama, hukum, dan adab kehidupan, menggarisbawahi bahwa setiap perjuangan dan kesabaran adalah bagian integral dari pengalaman manusia yang sering kali mengarah pada kebahagiaan dan kesuksesan yang lebih besar.

Allah SWT senantiasa memberikan harapan dan keringanan setelah kesulitan. Disinilah setiap individu manusia perlu menanamkan kesadaran bahwa usaha meraih cahaya (Cahaya Allah), petunjuk, adalah pintu untuk meraih kesuksesan dan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Merefleksikan situasi kebangsaan dan dinamika perjalanan pemerintahan di Negara Kesatuan Republik Indonesia setelah 80 tahun kemerdekaan; dimana anak-anak bangsa berupaya keras untuk mewujudkan tujuan nasional yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Timbul preferensi di satu sisi menilai sudah meraih keberhasilan dan disisi lain menilai justru telah terjadi kegagalan fatal.

Secara bijaksana rakyat bangsa ini perlu memaknai firman Allah SWT yakni : “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (Surah Alam Nasyrah [94] ayat 5-6), maka Allah Maha Adil pasti akan tiba masanya di mana jejak-jejak sakit, tangis, lelah dan luka dalam mengarungi berbangsa bernegara seketika akan sirna diganti dengan senyum bahagia, karena Allah Subhanallahu wa ta’ala telah mewujudkan doa-doa seluruh rakyat.

Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an : “Katakanlah – Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan.
Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu” (surah Ali Imran [3] ayat 26). Firman ini menyatakan kekuasaan Allah SWT atas segala sesuatu, menjadi landasan kuat untuk bersikap sabar dan berprasangka baik (husnudzon) dalam menghadapi takdir (qada dan qadhar)-Nya.

Memaknai firman tersebut manusia dituntut untuk bersabar dalam menghadapi setiap kepahitan hidup, sebab setiap kebahagiaan tidak selalu hadir di bungkus dengan sesuatu yang indah, namun kadang kala juga di bungkus dengan musibah. Meyakini bahwa apa yang kita alami tersebut akan membawa kebaikan bagi kita, meskipun kadang itu terasa berat, pahit dan menyakitkan.

Baca Juga :  Ashari Tambunan Kembali Dipilih Sebagai Ketua PKB Sumut Priode 2026-2031

Dengan alegori kebaikan sebagai ‘energi positif’ dan kepahitan hidup sebagai ‘energi negatif’ maka diibaratkan laksana pertemuan dua kutub listrik ‘anoda’ dan ‘katoda’ maka disanalah akan menimbulkan cahaya, dan fenomena baik – buruk, kebenaran – kebatilan, kebohongan – kejujuran dan sebagainya dengan sebab musabab itu Cahaya Allah (Nur Allah – Nur Muhammad) terbuka hadir menjadi jalan penerang bagi kehidupan manusia.

Epistemologi tradisi nusantara Shangyang Rasa dapat menjadi landasan kuat bagi Muslim untuk bersabar (sabar) dan berprasangka baik (husnudzon) terhadap kehendak-Nya, bahwa kesulitan hidup membawa kebaikan tersembunyi seperti pertemuan kutub listrik menghasilkan cahaya, menyingkap Nur Allah – Nur Muhammad sebagai penerang, dan hal ini sejalan dengan konsep membangun manusia paripurna (insan khalifah) yang beriman dan bertakwa.

Fenomena kebangsaan dalam kurun dasawarsa terakhir dengan kita dipertotonkan di depan hidung kecarut-marutan (amburadul – hukum ditabrak sana-sini) pengelolaan negara / pemerintahan oleh rezim Jokowi. Tampaknya belum pupus juga di masa Prabowo – Gibran tentang pahit getir, susah senang, ketidakjujuran, kebatilan, korupsi menggurita dalam dinamika politik nasional yang masih terus berlangsung.

Perjalanan sejarah Nusantara Indonesia sedemikian panjang, sejak jaman purba memiliki peran penting dengan kontribusi besar pada khazanah epistemologi manusia dimana konsep Sanghyang Rasa bukan sebagai konsep lokal semata. Tetapi konsep Sanghyang Rasa sebagai kontribusi Nusantara pada khazanah epistemologi universal manusia di dunia dan dalam puncak elaborasinya mencapai bentuk terbaiknya dan paling praktis dalam tradisi Nusantara. Bukan sesuatu yang eksklusif, melainkan sesuatu yang universal dipadankan dengan tradisi-tradisi lain (MEMBACA KITAB SEMESTA : Sanghyang Rasa dan Kearifan Intuitif Universal, Tim Riset IPCE, 1 Desember 2025).

Sanghyang Rasa merupakan kemampuan intuitif yang dalam tradisi Nusantara dan dalam tasawuf Islam sebagai al-dhawq, dalam tradisi Hindu sebagai pratibha, dalam Buddhisme sebagai prajna, dan dalam filsafat Yunani sebagai nous.

Sanghyang Rasa dalam kosmologi Nusantara termaktub dalam beberapa kidung atau ajaran tradisional seperti :
“Rarasaan téh cahya nu nyaho, nu ngahuma di jero jiwa, nu ngaliwatan sagara rasa nepi ka tepi kaayaan.” —Sanghyang Siksa Kandang Karesian.
(Rasa adalah cahaya yang mengetahui, yang bercocok tanam di dalam jiwa, yang mengarungi samudera rasa hingga ke tepi hakikat).

“Ulah salah rasa, ulah leungit rasa,
sabab rasa téh pancer pangaweruh, jembar langit, lega bumi, taya nu leuwih ti rasa.”—Amanat dari Galunggung
(Jangan salah rasa, jangan hilang rasa, karena rasa adalah pusat pengetahuan, lebih luas dari langit, lebih lebar dari bumi, tak ada yang melebihi rasa).

Dalam Tasawuf Islam:
“Al-dhawq miftah al-ma’rifah”— Ibn ‘Arabi
(Rasa adalah kunci makrifat).
“Al-‘ilm bila dhawq kal-jasad bila ruh” — Al-Ghazali
(Ilmu tanpa rasa seperti tubuh tanpa ruh).

Dalam Tradisi Hindu:
“Pratibha jnanam rtam vada”— Yoga Sutra Patanjali III.33 (Pengetahuan intuitif adalah kebenaran tertinggi).

“Yato yato ni-calati manas cañcalam asthiram tatas tato niyamyaitad atmany eva vaśam nayet”— Bhagavad Gita VI.26.
(Dari mana pun pikiran yang gelisah dan tidak stabil mengembara, dari sanalah ia harus ditarik dan dibawa di bawah pengendalian diri).

Dalam Buddhisme:
“Prajñā pāramitā”— Sutra Hati (Kesempurnaan kebijaksanaan intuitif).

Dalam Filsafat Yunani:
“Nous”— Aristoteles
(Akal intuitif yang menangkap prinsip-prinsip pertama).

“Epistēmē” — Plato
(Pengetahuan sejati yang melampaui opini).

Dalam Tradisi Cina:
“Wu wei”— Tao Te Ching
(Tindakan tanpa paksaan, pengetahuan melalui keselarasan).

“Zhi” (智) — Konfusianisme
(Kebijaksanaan yang muncul dari pengalaman batin).

Dari Nusantara:
“Rasa ingsun iki rasa kang tanpa rupa,
tanpa warna, tanpa swara, nanging nyata anggayuh kawruh sejati.” —R.Ng. Ranggawarsita.

(Rasaku ini adalah rasa tanpa wujud, tanpa warna, tanpa suara, tetapi nyata meraih pengetahuan sejati).

Dari Yunani Kuno:
“Ho nous horā ta noēta”— Plotinus
(Akal intuitif melihat hal-hal yang dapat dipahami).

Baca Juga :  Dotang Serge, "Simanis" Yang Mulai Rajai Pasar Cemilan Serge dan Sekitarnya

Dari India:
“Yogaja pratyakṣa”— Nyaya Sutra
(Persepsi langsung yang lahir dari disiplin spiritual).

Dari Persia:
“Kashf al-maḥjūb”— Al-Hujwiri
(Penyingkapan tabir realitas).

Semua tradisi-tradisi kebijaksanaan manusia tersebut bertemu pada satu prinsip : “Ada cara mengetahui yang melampaui akal diskursif”. Apa yang membuat Sanghyang Rasa istimewa adalah kemampuannya mensintesis berbagai tradisi :
“Sebagai Pancer (Pusat) – Pancer pangaweruh di rasa, pancer kawicaksanaan di hati, pancer kasampurnaan di jiwa, tilu-tiluna ngahiji
dina rasa.” —Sanghyang Siksakanda ng Karesian. Pusat pengetahuan di rasa, pusat kebijaksanaan
di hati, pusat kesempurnaan di jiwa, ketiganya menyatu dalam rasa, bagai Guru Sejati : “Rasa téh guru sejati, nu teu bisa diajar,
tapi kudu dialaman, ditempuh jeung dihudangkeun.”
—Ajaran Sunda Wiwitan.
(Rasa adalah guru sejati, yang tidak bisa diajar, tapi harus dialami, ditempuh dan dibangkitkan).

Dalam dunia yang terjebak dalam positivisme dan reduksionisme, Sanghyang Rasa menawarkan jalan keluar : ‘sebagai koreksi atas Rasionalisme Berlebihan’ : “Urip iku urup, nanging urip tanpa urup iku mati, urup tanpa rasa iku pati.” —Syaikh Siti Jenar. (Hidup itu menyala, tetapi hidup tanpa cahaya adalah mati, cahaya tanpa rasa adalah kematian).

Sebagai Integrasi Pengetahuan:
“Rasa iku dados guru, akal iku dados kanca, sarehne padha gegayuhan.” —Ki Ageng Suryomentaram. (Rasa menjadi guru, akal menjadi sahabat, karena keduanya sama-sama meraih kebenaran).

Dalam dunia yang modern yang penuh dengan seringnya terjadi benturan dalam sudut pandang kosmologi kontemporer, pengetahuan Sanghyang Rasa dapat memulihkan organ pengetahuan yang hilang. Maka, siapa pun yang menolak rasa sebagai pintu pengetahuan hakiki, sesungguhnya telah membonsai dirinya sendiri. Ia memilih untuk hidup dalam penjara rasio yang sempit, mengurbankan keluasan samudera kesadaran demi kolam renang logika yang dangkal.

Seperti kata Rumi (Jalaludin Rumi) : “Ada seribu cara mengenal Tuhan, tetapi hanya satu yang sampai, yaitu ketika rasa telah menjadi penuntun, dan akal menjadi sahabat, bukan tuan”. Mereka yang hanya mengandalkan rasio ibarat burung yang memotong satu sayapnya, lalu berusaha terbang, padahal yang ia capai hanyalah lompatan pendek yang cepat berakhir di tanah. Akal rasio hanyalah puncak gunung es dari kesadaran manusia, sementara di bawah permukaan terbentang lautan rasa yang menghubungkan kita dengan kosmos.

Dalam konteks global yang menghadapi krisis epistemik, Sanghyang Rasa menawarkan kontribusi berharga : ‘sebuah epistemologi yang memadukan ketajaman intuisi dengan kedalaman spiritual, sebuah cara mengetahui yang menghormati misteri tanpa mengorbankan rigor’.

Rigor sendiri adalah disiplin metodologis yang justru membebaskan : “ketat dalam prosedur namun luwes dalam penafsiran, mendalam dalam analisis namun terbuka dalam kesimpulan”. Dalam tradisi Nusantara bukan berarti kaku, melainkan ketelitian batin yang menjaga kemurnian pengetahuan dari distorsi nafsu dan kepentingan.

Memulihkan Sanghyang Rasa berarti memulihkan kemanusiaan kita yang paling utuh “kemampuan untuk mengetahui dengan seluruh keberadaan kita, bukan hanya dengan sebagian kecil akal kita”. Ia adalah undangan untuk menjadi manusia sepenuhnya, bukan sekadar robot yang berpikir. Penyadaraan setiap individu manusia untuk menjadi manusia sepenuhnya akan menempatkan kedudukan qolbu kita dalam tingkat spiritual yang disebut insan kamil.

Hal ini sesuai dengan konsep spiritual mendalam “Memulihkan Sanghyang Rasa” yakni menghidupkan kembali kesadaran utuh manusia (hati, akal, tubuh), melampaui logika sempit, menuju insan kamil (manusia paripurna), sebuah panggilan untuk menjadi sepenuhnya manusia dengan “merasakan”, bukan hanya berpikir seperti robot. Dalam jagad perpolitikan konsep membangun diri sejati manusia sebagai khalifah atau ujud insan kamil beriman dan bertakwa.

Betapa dahsyatnya aura bangsa nusantara Indonesia bila semakin banyak insan-insan kamil bertebaran di bumi Indonesia, dan hal ini akan terakumulasi sebagai agregasi khalifah. Energi positif yang memancar dari agregasi khalifah akan menarik keridhoan Allah SWT menurunkan rahmat-Nya di muka bumi.

Implikasi menguatnya cahaya Allah di bumi nusantara Indonesia akan menumbuhkan spirit energi positif sehingga akan turun atau hadir petunjuk-petunjuk, perbaikan tatanan hukum, dan kemuliaan adab dalam kehidupan sebagai manifestasi peningkatan keimanan masyarakat dan bangsa. (sp.official.181225).

Penulis : Setyo Purwadi

Follow WhatsApp Channel suarasumutonline.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ashari Tambunan Kembali Dipilih Sebagai Ketua PKB Sumut Priode 2026-2031
Peran Negara Saat Darah Rakyat Dihisab Pinjol
Refleksi akhir tahun Ketua MKGR Kota Medan. M.Ihsan Kurnia.
Sepanjang 2025, Kejaksaan Tinggi Sumut Telah Laksanakan Kegiatan dan Pencapaian Luar Biasa
_Sambungan_ (Serial Opini Trisula Weda) “NOTONEGORO INDONESIA AGREGASI KHALIFAH – DINAMIKA POLITIK NASIONAL
_Sambungan_ (Serial Opini Trisula Weda) “NOTONAGORO INDONESIA Sub Judul DINAMIKA POLITIK NASIONAL”
_Sambungan_ : (Serial Opini Trisula Weda) “NOTONAGORO INDONESIA Sub Judul SANGHYANG RASA DAN INSAN KHALIFAH”
Refleksi Akhir Tahun Diukur dari IPM ” Peran Bank Plat Merah Penyalur Dana Kur Tidak Lepas
Berita ini 20 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 26 Januari 2026 - 16:06 WIB

Ashari Tambunan Kembali Dipilih Sebagai Ketua PKB Sumut Priode 2026-2031

Jumat, 9 Januari 2026 - 21:33 WIB

Peran Negara Saat Darah Rakyat Dihisab Pinjol

Minggu, 28 Desember 2025 - 13:48 WIB

Refleksi akhir tahun Ketua MKGR Kota Medan. M.Ihsan Kurnia.

Jumat, 26 Desember 2025 - 13:00 WIB

Sepanjang 2025, Kejaksaan Tinggi Sumut Telah Laksanakan Kegiatan dan Pencapaian Luar Biasa

Rabu, 24 Desember 2025 - 21:08 WIB

_Sambungan_ (Serial Opini Trisula Weda) “NOTONEGORO INDONESIA AGREGASI KHALIFAH – DINAMIKA POLITIK NASIONAL

Berita Terbaru