SINERGI OPTIMALISASI PERAN MASYARAKAT MADANI – PEMERINTAHAN BIROKRASI REFORMASI DIALOGIS
(STRATEGI TWO WAYS TRAFFIC)
Gagasan ini sebagai wacana mengenai optimalisasi peran masyarakat madani yang bersinergi dengan birokrasi reformasi dialogis, dengan mendasarkan diri pada nilai-nilai Pancasila dan spiritualitas keagamaan, serta menawarkan suatu pendekatan teoretis yang bercita-cita tinggi untuk memperbaiki penyelenggaraan negara dan meruntuhkan oligarki.
Keberhasilan strategi ini bertumpu pada keyakinan bahwa kekuatan kolektif, kemandirian rakyat, dan intervensi ilahi (pertolongan Allah), yang dijabarkan dalam premis di atas merupakan pilar-pilar utama untuk mencapai perubahan fundamental tersebut.
Berikut adalah analisis bagaimana strategi yang diajukan mungkin dapat meraih keberhasilan:
Strategi dua jalur ini mengoptimalkan peran masyarakat madani yang bersinergi dengan pemerintahan birokrasi yang reformis dan dialogis. Sebagaimana berikut ini ditawarkan kerangka kerja untuk memperbaiki tata kelola negara dan mengurangi pengaruh oligarki dengan berfokus pada pemberdayaan masyarakat dan interaksi konstruktif dengan negara.
Keberhasilan pendekatan ini bergantung pada implementasi prinsip-prinsip ini secara efektif.
Analisis tentang bagaimana strategi ini dapat mencapai keberhasilan dapat dilihat dari beberapa aspek utama :
1. _Pemberdayaan Masyarakat dan Relevansi Pembangunan._
Strategi ini menekankan pentingnya pembangunan kemandirian rakyat dan kegiatan gotong royong sebagai dasar melakukan perubahan dimana kegotong royongan di nusantara merupakan peradaban kultural yang mengutamakan budaya kolektivitas di atas budaya individualism dan hal ini merupakan kekuatan modal sosial yang senantiasa terjaga yang penting ditumbuhkan sebagai kesadaran kolektif seluruh komponen bangsa.
Kekuatan utama dari pendekatan ini terletak pada kemampuan untuk memobilisasi masyarakat di tingkat akar rumput dan memastikan bahwa program pembangunan benar-benar relevan dengan kebutuhan mereka. Beberapa parameter mendasar dalam pendekatan ini adalah :
• Pembangunan yang Relevan. Dengan mengintegrasikan masukan langsung dari masyarakat yang terkena dampak atas deviasi program pembangunan yang selama ini dijalankan oleh pemerintah. Parameter ini dimaksudkan untuk dapat lebih efektif menargetkan masalah nyata di lapangan. Hal ini akan mengurangi kemungkinan inefisiensi dan potensi penyalahgunaan sumber daya yang seringkali dikaitkan dengan pengaruh oligarki yang mencari keuntungan pribadi. Proyek yang didukung dan dimiliki oleh masyarakat cenderung lebih berkelanjutan karena adanya partisipasi aktif dan rasa tanggung jawab.
• Membangun Modal Sosial: Aktivitas gotong royong memperkuat ikatan sosial dan rasa kebersamaan dalam masyarakat. Parameter ini menciptakan basis sosial yang kuat yang dapat bertindak sebagai penyeimbang terhadap konsentrasi kekuasaan dan pengaruh yang berlebihan oleh kelompok elite.
2. _Sinergi antara Masyarakat Madani dan Pemerintahan._
Sinergi antara masyarakat madani yang aktif dan pemerintahan birokrasi yang terbuka dan dialogis sangat penting untuk menciptakan tata kelola yang baik. Beberapa parameter mendasar dalam pendekatan ini adalah :
• Pengurangan Konflik: Keterlibatan semua pemangku kepentingan, termasuk masyarakat sipil, dalam proses pengambilan kebijakan sejak dini melalui dialog dapat membantu mengidentifikasi dan mengelola potensi konflik. Hal ini mempromosikan pemahaman bersama dan penerimaan terhadap kebijakan publik.
• Peningkatan Inovasi dan Adaptabilitas: Mekanisme umpan balik yang terstruktur dari masyarakat madani dapat mendorong inovasi dalam perumusan dan implementasi kebijakan. Birokrasi yang responsif terhadap masukan dari luar akan lebih mampu beradaptasi dengan perubahan kebutuhan dan tantangan, sehingga mengurangi ruang bagi kepentingan oligarkis mendominasi agenda publik.
3. _Pentingnya Kepemimpinan yang Berintegritas._
Peran kepemimpinan yang memiliki karakter kuat, adil, amanah, dan berwawasan luas sangat krusial dalam konteks ini. Beberapa parameter mendasar dalam pendekatan ini adalah :
• Benteng Korupsi dan Nepotisme: Kepemimpinan dengan integritas tinggi menjadi pertahanan utama terhadap praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme yang seringkali menjadi ciri khas sistem yang dipengaruhi oligarki. Pemimpin yang berintegritas akan cenderung mengelola sumber daya negara demi kepentingan publik, bukan untuk memperkaya diri atau kelompoknya.
• Visi dan Arah Strategis: Pemimpin yang waskita, wicaksono, dan wibisono (berwawasan luas, bijaksana, dan berwibawa) mampu merumuskan dan menjalankan kebijakan yang tidak hanya mengatasi masalah jangka pendek tetapi juga memiliki visi strategis jangka panjang untuk kesejahteraan nasional, serta mampu menjaga kedaulatan dan kepentingan negara di panggung regional dan global.
_Kesimpulan_ :
Dengan memfokuskan pada penguatan kapasitas dan peran masyarakat madani dalam bersinergi dengan birokrasi yang reformis dan dialogis, strategi ini berpotensi untuk meruntuhkan pengaruh oligarki.
Keberhasilan akan sangat bergantung pada seberapa efektif elemen-elemen kunci ini diimplementasikan :
a) pemberdayaan masyarakat di tingkat akar rumput,
b) terjalinnya sinergi yang tulus antara masyarakat sipil dan negara, dan
c) hadirnya kepemimpinan yang berintegritas dan memiliki visi.
Pendekatan ini menawarkan jalur non-kekerasan untuk mencapai perubahan struktural dalam penyelenggaraan negara menuju tata kelola yang lebih adil dan akuntabel. (sp.official.241225). Cc. Ratu Samsiah Pertiwi.
Penulis : S Purwadi Mangunsastro, Wangsa Arya Penangsang, Ketua Yayasan Al Farizi Nusantara, Jakarta.









