Saat ini kita tengah menyaksikan sebuah fase yang layak disebut sebagai era anomali moral. Di masa transisi ini, kompas etika seolah kehilangan arah, di mana kemungkaran kerap kali dirayakan, dan kebatilan dikemas seolah-olah kebenaran. Kondisi fundamental ini terjadi akibat gerhana spiritual, di mana nilai-nilai transendental sering kali dikorbankan demi syahwat kekuasaan yang pragmatis.
Kecemasan ini bukannya tanpa alasan. Seiring dengan masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berjalan, masyarakat terus menagih janji politik untuk “membuat rakyat bahagia”. Sayangnya, pemerintahan ini mewarisi berbagai absurditas dan krisis dari era sebelumnya. Praktik korupsi, ketimpangan ekonomi, hingga kerusakan lingkungan masih membayangi. Merespons realitas ini, memori kolektif masyarakat Sunda-Jawa kembali mengingat Ramalan Jayabaya. Konon, masa kini adalah transisi dari zaman Kalabendu (zaman penuh bencana dan kesulitan) menuju Kalasuba (zaman kedamaian). Laksana menanti kedatangan pengantin, rakyat merindukan hadirnya kepemimpinan bersih yang membawa kesejahteraan.
Harapan ini tentu menuntut komitmen moral dari seluruh aparatur negara. Sumpah jabatan sejatinya adalah pengingat bahwa kekuasaan merupakan amanah untuk memakmurkan rakyat (habluminannas) dan menjaga keseimbangan alam (habluminalalam). Pejabat negara harus menjadikan kesadaran Ketuhanan sebagai rem moral yang paling utama. Di sinilah nilai spiritualitas transformatif atau ‘Trisula Iman’ menjadi krusial sebagai landasan nilai yang meliputi sikap lurus, benar, dan jujur. Agar Trilogi Agama lebih mudah dipahami dan tidak sekadar menjadi ajaran teoretis yang abstrak, diperlukan bentuk lokalisasi. Dengan demikian, nilai-nilai transendental tersebut lebih mudah diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari.
Ketiga nilai tersebut diwujudkan melalui tiga landasan doa transformatif. Kalimat Innalillahi wa Inna Ilaihi Raji’un mengingatkan bahwa kekuasaan mutlak milik Allah. Sementara itu, La Haula Wala Quwwata Illabillah memotong arogansi ego penguasa dan memotivasi rakyat untuk terus berjuang. Terakhir, Alhamdulillahirabbilalamin menuntut pemimpin untuk selalu bersyukur dan memuliakan rakyatnya, bukan mengeksploitasi mereka. Meski awalnya sering dipahami sebagai Trilogi Agama, makna Trisula Iman sebenarnya dapat ditarik lebih jauh sebagai pilar manifestasi spiritual.
Menghadapi struktur kekuasaan yang menggurita sering kali membuat masyarakat merasa tak berdaya. Dalam titik krusial ini, umat harus merefleksikan kembali pesan Surah Al-Anfal ayat 9 tentang Perang Badar. Kisah ini menegaskan bahwa dalam melawan kebatilan sistemik, kuantitas material bukanlah penentu mutlak. “Seribu malaikat” adalah simbol bantuan langit yang akan selalu turun bagi mereka yang konsisten berjuang di jalan kebenaran.
Tantangan pemerintahan saat ini adalah mencerahkan mental aparat agar mampu membedakan antara kebenaran substantif dan sekadar pembenaran. Masih ada kesempatan besar bagi pasangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka untuk membawa perubahan nyata. Dengan ketegasan, moralitas etika yang luhur, dan kebijakan pro-rakyat, cita-cita menuju zaman Kalasuba bukanlah utopia belaka.
Sayup-sayup, tembang dolanan karya Eyang Sunan Kalijaga kembali mengalun, menagih kesadaran kita:
” _Cah angon, cah angon_ ,
_Penekno blimbing kuwi_ .
_Lunyu-lunyu penekno_ ,
_Kanggo mbasuh dodotiro_ “.
(Anak gembala, panjatlah pohon belimbing itu. Biar licin tetaplah kau panjat, untuk membersihkan pakaianmu).
Bersama-sama, mari genggam nilai-nilai Trisula Iman, bersihkan jiwa, dan jemput pertolongan Tuhan untuk menegakkan peradaban yang berakhlak mulia.
Catatan :
– _Malaikat Badar merujuk pada ribuan malaikat yang diturunkan oleh Allah SWT untuk membantu pasukan Muslim dalam Perang Badar pada 17 Ramadan 2 H. Peristiwa ini diabadikan dalam Al-Qur’an, di mana malaikat hadir untuk menenangkan, memperkuat, hingga ikut bertempur bersama 313 Muslim melawan 1.000 pasukan Quraisy._
– _Dalam konteks ajaran Islam secara umum, Trisula Iman merujuk pada Trilogi Agama yang saling melengkapi: Iman, Islam, dan Ihsan._ _Namun, dalam tulisan ini, konsep tersebut dimaknai lebih dalam sebagai manifestasi spiritual yang diadaptasi dari kearifan lokal Nusantara (Trisula Weda). Terdapat tiga pilar utama yang menjadi landasan: Lurus (Kebenaran hakiki) Benar (Kebaikan tindakan) Jujur (Integritas moral)_. _Ketiganya diwujudkan melalui tiga landasan spiritual transformatif yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam semesta: Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un – Kesadaran bahwa segala sesuatu berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya. La haula wa la quwwata illa billah – Pengakuan atas keterbatasan manusia dan kepasrahan total kepada kuasa Tuhan. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin – Sikap syukur atas segala ketetapan dan anugerah Tuhan._
Penulis : S Purwadi Mangunsastro, Ketua Yayasan Al Farizi Nusantara









