NOTODIRI, MENATA QOLBU KHALIFAH

- Jurnalis

Minggu, 14 Desember 2025 - 10:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

_Sambungan_
(Serial Opini Trisula Weda)
“MEREDUPNYA CAHAYA IMAN”

Kaum zalim. Pergeseran UUD 1945 menjadi UUD 2002 produk amandemen 1,2,3,4 telah menimbulkan ekses kerusakan bangsa dan negara yg luar biasa. Andai diibaratkan penyakit kronis implikasi dari UUD 2002 itu era rezim Jokowi adalah penuai perusakan paling masif dalam perjalanan 80 tahun usia kemerdekaan.

Tipu daya, kebohongan, ketidakadilan, hukum alat kekuasaan, pemiskinan dan penindasan tidak bisa disangkal terjadi dimana-mana. Jikapun ada keberhasilan seperti peningkatan drastis jalan tol, jumlah bendungan, bandara dan sebagainya ternyata pembangunan infrastruktur itu akhirnya meninggalkan beban hutang.

Uang hutang dari pemilik menjadi jerat bagi penghutang. Ini menindas. Berakibat jarum zalim, bisa bagi penghutang apalagi pemberi hutang. Riba itu senjata kaum kapitalism. UUD 2002 itu membuka pintu liberal, agar riba dan jarum-jarum perusak akhlak manusia makin bebas menusuk dari segala penjuru.

Inilah cermin kondisi sosial, politik, dan ekonomi Indonesia saat ini. Mau diperdebatkan apalagi. Dampaknya setiap individu manusia Indonesia jadi kurban. Bingung, tidak tahu lagi arah kemana para pemimpin bangsa membawa perjalanannya.

_Khilafah jelas beda dengan khalifah._

Diskursus publik mengenai kondisi Indonesia terus menjadi perbincangan di media. Pro-kontra amandemen UUD 1945, dampak utang negara, kesenjangan ekonomi, dan kualitas penegakan hukum semua ini menyangkut kebijakan negara dan landasan konstitusionalnya.

Padahal founding father sudah menyusun landasan konstitusi yakni UUD 1945 tapi hanya selembar naskah Pembukaan-nya saja yang ditempelkan di depan naskah Batang Tubuh UUD 2002.
Amandemen telah menggeser filosofis bangsa ini menjadi tak berketentuan bentuknya.

Implikasinya, rakyat dan penguasa saling klaim antara kebenaran dan pembenaran. Individu setiap warga bangsa ini kebingungan. Manusia secara universal sebagai _khalifatul fil ardhi_ (khalifah) dan diakui seluruh agama dan penganut kepercayaan di Indonesia menjadi luntur keyakinan eksistensi diri mereka ditakdirkan sebagai khalifah.

Gelaplah perjalanan bangsa ini. Jati diri sebagai khalifah yang memiliki budi luhur dilahirkan di Indonesia, Nusantara, terpinggirkan. Inilah penyakit bangsa. Perbaiki jati diri bangsa ini dulu, bukan mencari-cari jawaban lain seperti mengganti republik menjadi monarkhi atau mewacanakan merombak ke sistem kekhilafahan.

Al-Qur’an sendiri lebih ditekankan pada konsep khalifah, bukan khilafah. Istilah dan konsep khalifah dalam Al-Qur’an termaktub dalam firman tentang penciptaan manusia, berbunyi :
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi” . Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” , [Surat Al-Baqarah (2) ayat 30].

Dari firman ini Al-Qur’an lebih menekankan
pada konsep khalifah, bukan khilafah.Al-Qur’an maupun hadits sebenarnya tidak secara eksplisit mendorong umat untuk membangun imperium khilafah. Konsep khalifah lebih bersifat personal, sedangkan khilafah cenderung institusional
-organisasional. Secara filosofis, sesungguhnya setiap diri manusia seyogyanya menekankan moral peran aktifnya sebagai khalifatullah fil-ardh ( _agent of God_ ) di muka bumi yang bertanggungjawab bagi kemakmuran peradaban dunia. Lalu, bagaimana dengan kondisi saat ini di Indonesia yang dihadapkan tantangan serius terkait moralitas (krisis moral), kerusakan lingkungan, dan ancaman terhadap persatuan di tengah kemajemukan?

Dalam menghadapi situasi ini peran Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika menjadi krusial sebagai landasan moral dan filosofis menuntut kepada kita seluruh anak bangsa untuk memohon pertolongan Allah SWT menurut keyakinan agama masing-masing dipandang sebagai premise upaya kolektif manusia untuk kembali kepada nilai-nilai luhur dan terjadi perbaikan nyata. Ini merupakan bagian dari solusi holistik yang harus dilakukan individu manusia dalam kesejatian
diri sebagai khalifah merupakan jawaban mengatasi permasalahan bangsa bukan merumuskan gagasan kekhilafahan.

Pemaksaan terus sistem khilafah justru akan terjadi benturan ideologis-politis bahkan structural-birokratis antara umat islam dengan penganut non-muslim, dan juga diantara muslim sekuler sendiri, dan bilamana itu terjadi akan berdampak mundurnya kembali kisah sukses umat islam di masing-masing negara yang telah dibina dan diraih selama ini, seperti yang terjadi belahan dunia barat dan bagian dunia timur lainnya.

_Resep menata diri khalifah_

Katanya 80 persen penduduk bangsa ini beragama islam. Jika manusia Indonesia menata kesejatian dirinya diciptakan menjadi khalifah (pemimpin) di muka bumi seperti halnya pengakuan universal bahwa kita manusia adalah anak cucu Adam sebagai pengelola bumi, maka sebagai khalifah manusia wajib memimpin dirinya yang merupakan amanah dan tugasnya adalah mengelola bumi, membangun kemakmuran, menjaga keseimbangan, dan membawa kemaslahatan alam dan lingkungan bagi seluruh makhluk.
Sehingga tidak perlu terikat pada sistem “khilafah” politik tertentu yang memicu kontroversial. Yang penting manusia bisa melaksanakan ibadah dengan khusyuk, sehingga kesejatian dirinya sebagai khalifah itu tumbuh dengan baik ke jalan yang benar, fokus pada esensi spiritual pada substansi peran manusia sebagai pemimpin.

Inilah yang akan menghidupkan “cahaya” yang menerangi setiap jalan kehidupan. “Cahaya” tersebut adalah cahaya iman sebagai petunjuk, kebijaksanaan, dan moralitas dalam menjalani peran kepemimpinan di bumi. Resep penataan diri manusia ini melahirkan thesis transformasi internal melalui spiritualitas dalam menjalankan peran kepemimpinan universal manusia di muka bumi yang akan berlangsung secara efektif dan benar, terlepas dari label politik eksternal.

Bahwa Al-Quran merupakan kitab suci kaum muslimin dan menjadi sumber ajaran islam yang pertama dan utama yang harus mereka imani dan diaplikasikan dalam seluruh aspek kehidupan (akidah, ibadah, akhlak, muamalah) untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akherat.

Kedudukan sentral
Al-Qur’an sebagai kitab suci, sumber ajaran utama, dan pedoman hidup bagi seluruh umat manusia, membimbing ke arah kebenaran, kebaikan, dan kesejahteraan dunia akherat, berfungsi sebagai cahaya iman yang mengeluarkan dari kegelapan, serta pembeda antara yang hak dan batil, dengan keimanan memperbesar potensi seseorang dalam meraih petunjuk-Nya, seperti yang disebutkan dalam QS. Al-Baqarah: 185 dan Al-Maidah: 15-16.

Namun dengan keimanan yang dimiliki seorang muslim, tentunya mereka memiliki potensi yang lebih besar untuk meraih petunjuk Al-Qur’an dibandingkan dengan orang-orang yang tidak beriman. Intinya Al-Quran merupakan fondasi spiritual dan praktis yang memberikan petunjuk fundamental untuk kehidupan yang benar dan bermakna bagi semua, terutama bagi orang beriman, sehingga seluruh umat manusia mengesakan satu Tuhan.

Jika manusia memiliki “cahaya” berarti ada kehadiran energi cahaya iman, yakni Nur Allah – Nur Muhammad, maka Allah akan mendekat. Sinergi firman Al-Qur’an yang terdiri 30 juz, 114 surah dan 6.236 ayat dan hadist [ hadist adalah segala perkataan (sabda), perbuatan, ketetapan (persetujuan), dan sifat-sifat dari Nabi Muhammad SAW yang menjadi sumber hukum kedua dalam islam setelah Al-Qur’an, berfungsi untuk menjelaskan, merinci, memperkuat, dan mengkhususkan hukum-hukum Al-Qur’an ] akan mempersenjatai cahaya iman di diri individu khalifah, dengan kata lain didalam “nama” seseorang dan “tanggal lahirnya” ada firman dan hadist.

Dengan demikian, cahaya iman di diri seseorang berimplikasi pada masalah-masalah dalam kehidupannya sehingga sekecil apapun masalah dihadapi oleh seseorang maka seyogyanya dikembalikan pada firman dan hadist sebagai peran sentral kedua sumber hukum islam dalam membimbing kehidupan seorang Muslim.

Baca Juga :  Trisula Weda dan Keluhuran Ajaran Baduy

Inti dari nasihat tersebut adalah:

• Sentralitas Iman: Cahaya iman diposisikan sebagai pemandu utama dalam menghadapi setiap tantangan hidup.

• Sumber Hukum Islam sebagai Solusi: Sekecil apa pun masalahnya, solusi seyogyanya dicari dan dikembalikan kepada Al-Qur’an (firman) dan Hadis.

• Tauhid sebagai Fondasi: Prinsip ketauhidan (keesaan Allah yang kuat) berfungsi sebagai kerangka untuk membangun akhlak mulia (akhlakul karimah) melalui transformasi spiritual.

• Integrasi Fiqih dan Tasawuf: Argumen ini menjembatani kerangka hukum Islam (fiqih) dengan dimensi spiritual (tasawuf/akidah) untuk mencapai kesempurnaan akhlak dan ketenangan jiwa.

Secara keseluruhan, “resep” ini menawarkan panduan komprehensif bagi muslim untuk mencapai kehidupan yang tenang dan terarah dengan menjadikan keyakinan tauhid sebagai pusat dari setiap tindakan dan keputusan ( rangkuman filosofi spiritual yang mendasari pendekatan hidup seorang Muslim, disampaikan dari perspektif Resi Panuntun Agung Badui ).

_Memastikan server GPS sebagai khalifah_

Dalam tradisi universal keagamaan, terutama dalam tasawuf islam dikenal frasa “Kenalilah dirimu sebelum engkau mengenal Tuhanmu” atau secara populer tradisi islam mengenalnya sebagai hadist : “Man ‘Arafa Nafsahu, Faqad ‘Arafa Rabbahu”.  Sebagai sebuah filosofis, semangat filosofi ini sangat selaras dengan prinsip-prinsip dalam Sunda Wiwitan, yang menekankan pada hubungan harmonis antara manusia dengan diri sendiri, sesama manusia, dan alam, sebagai jalan untuk memahami Sang Pencipta.

Relevansi filosofis ajaran Sunda Wiwitan yang dianut oleh masyarakat adat seperti suku Badui berakar kuat pada penghormatan terhadap karuhun (leluhur) dan pemahaman akan tatanan alam semesta yang sakral. Mengenal diri dalam konteks Sunda Wiwitan berarti memahami posisi manusia sebagai bagian integral dari alam dan ciptaan Tuhan, hal ini mencakup kesadaran akan asal usul, peran, dan tanggung jawab manusia di bumi.

Pengenalan Tuhan Yang Maha Esa bagi mereka tidak dicari melalui dogma yang kompleks, melainkan melalui manifestasi-Nya di alam dan dalam kehidupan sehari-hari, dengan menghargai dan menjaga alam, menjalankan pikukuh (aturan adat) yang diwariskan leluhur, yang secara tidak langsung seseorang telah menjalankan ibadah dan mengenali keagungan Sang Pencipta. Dalam praktek kehidupan nyata dengan prinsip “Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh” (saling mengasihi, saling mengajari, saling mengayomi) dan sikap hidup ramah lingkungan, seperti tidak menebang pohon sembarangan atau menjaga kesucian sumber air.

Jadi, meskipun kalimat persisnya bukan frasa asli Sunda Wiwitan (“Man ‘Arafa Nafsahu, Faqad ‘Arafa Rabbahu”) , esensi dari ajaran tersebut – bahwa pemahaman akan eksistensi diri dan alam adalah kunci menuju pengenalan akan Tuhan – sangat relevan dan terpatri dalam cara hidup penganut Sunda Wiwitan. Dalam kosmologi islam hati (qolbu) digambarkan sebagai pusat kesadaran, spiritualitas, dan niat, yang merupakan sentral dan fundamental “pemimpin”, sementara anggota tubuh adalah pengikutnya. Jika kondisi hati baik, anggota tubuh yang mengikutinya juga akan baik. Demikian pula sebaliknya. Baik buruknya perilaku seseorang bergantung pada keadaan qolbunya.

Menata qolbu agar senantiasa baik maka perilaku kita pun ikut baik. Penataan qolbu yang presisi membuat hati seseorang menjadi “adem” (tidak agresif), dengan kata lain syaitan dalam darahpun ikut “adem”. Upaya tirakat (tirakat iman) seseorang akan membuat semakin menguatnya cahaya iman (Nur Allah-Nur Muhammad). Diibaratkan sebagai buah di pohon, jika buah matang maka akan datang atau jatuh sendirilah buah itu, ini alegoris betapa dekatnya Allah SWT melalui tirakat maka (rahmat) dunia akan datang dengan sendirinya hadir di diri seseorang.

Rangkaian proses penataan qolbu melalui aktifitas tirakat pada dasarnya upaya memperkuat fondasi qolbu sehingga seseorang akan terlatih untuk bersikap berbaik sangka (husnudzon = sikap mental positif yang mengedepankan asumsi kebaikan pada orang lain atau situasi) dan bukan berpikir suudzon (selalu berprasangka negatif tanpa dasar kuat, yang dilarang agama karena merusak hati dan hubungan sosial) terhadap ujian-ujian yang akan dialami selama tirakat. Tirakat (seperti puasa, salat malam, atau bentuk ibadah lainnya) membutuhkan pengorbanan dan disiplin spiritual atau asketisme, dan bukanlah sekadar ritual, melainkan sebuah “bootcamp” spiritual. Aktivitas ini sengaja menciptakan kesulitan atau tantangan terkontrol untuk melatih jiwa. Melalui penempaan ini, hati menjadi lebih kuat, lebih jernih, dan tidak mudah goyah oleh kesulitan eksternal.

Tujuan utamanya tirakat adalah memperkuat fondasi qolbu untuk menggeser paradigma berpikir:

• Dari Suudzon (berburuk sangka): Ketika menghadapi ujian (baik selama tirakat maupun dalam kehidupan sehari-hari), hati yang lemah cenderung melihatnya sebagai hukuman, ketidakadilan, atau nasib buruk.
• Menuju Husnudzon (berbaik sangka): Hati yang terlatih melalui tirakat
akan secara otomatis menafsirkan ujian sebagai bentuk kasih sayang, pelajaran, pembersihan dosa, atau peluang untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

Sikap selalu husnudzon akan melekat pada diri orang-orang yang bertirakat, dalam arti energi negatif tidak bisa masuk ke diri seseorang. Aktifitas ini akan membuahkan pencapaian tujuan mencapai selamat dunia dan akherat, dan dalam situasi apapun terus bersyukur (alhamdulillah robbilalamin).

Sebagaimana ghalibnya manusia, manusia bertirakat pasti tidak mau membunuh makhluk (Islam mengajarkan kasih sayang dan adab yang baik terhadap semua makhluk, termasuk hewan) karena dirinya sadar bahwa semua makhluk ber SPK. Sebagai ciptaan Allah, manusia dan makhluk lain (syaitan, jin, siluman, iblis) ciptaan Allah SPK nya berbeda satu dengan lainnya dimana manusia bertugas sebagai khalifah yang dijanjikan surga di akherat, sementara syaitan dan sebagainya untuk menggoda manusia. Manusia sempurna adalah manusia yang terus ikhlas bersyukur, menghindari ujub, dan menempatkan diri sebagai murid murid Allah, sementara makhluk yang dilaknat tak akan sanggup melawan Nur Allah – Nur Muhammad. Untuk itu diperlukan terus menerus mengasah dan selama “nafas” itu masih ada syukurilah ( alhamdulillahi rabbilalamiin ), dan menjadi catatan penting manakala rasa syukur terus melekat di diri manusia hal ini menjadikan Allah SWT tidak cemburu.

Di jaman kenabian dikenal ada mukjizat (kejadian luar biasa di luar hukum alam yang terjadi atas kehendak Tuhan, untuk menunjukkan kekuasaan-Nya, membuktikan kebenaran risalah, serta menguatkan iman manusia). Bagi orang beriman, mujizat bukan hanya peristiwa spektakuler, tetapi juga bisa berupa kemampuan melihat karya Tuhan dalam setiap keadaan hidup sehari-hari, bahkan tanpa sensasi besar.

Bagi kita manusia biasa, air yang didoakan dari presisi tubuh kita berbasis firman dan hadist, tentunya bila diminum akan menyatu dengan sel atau darah merah, dan ini akan bersinergi dengan jantung, paru-paru, sel-sel tubuh lainnya, maka air akan terserap kembali “Innalillahi wa inna ilaihi rojiun”, dan akhirnya “alhamdulillahi rabbilalamiin”.

Manakala manusia terus ikhlas bersyukur dan mengamalkannya dengan dzikir maka akan hadir kekuatan dengan Sang Khalik dan manusia selaku khalifah dengan amalan dzikirnya akan terbentengi dirinya dari gangguan atau godaan makhluk yang dilaknat, dan tak akan sanggup melawan Nur Allah -Nur Muhammad. Ibarat server, presisi firman dan hadist pada manusia yang bertirakat akan memiliki akurasi presisi GPS karena dengan mengarahkan “nama” dan “tanggal lahir” sesuai surah dan ayat-ayat (masing- masing ada numeriknya) diminum maka air yang didoakan dari presisi tubuh kita akan berbasis firman dan hadist.

Baca Juga :  _Sambungan_ (Serial Opini Trisula Weda) "REZIM EDAN-EDANAN" NOTONEGORO INDONESIA AGREGASI KHALIFAH,_Sub Judul :_ SHANGYANG RASA DAN INSAN KHALIFAH

Secara teknis presisi diri khalifah dilakukan dengan membelah “nama” hingga terbagi dua bagian yakni sebelah kanan dan sebelah kirim. Jumlah huruf sebelah kiri adalah menunjukkan nomor surah, sedangkan jumlah huruf sebelah kanan menunjukkan nomor ayat. Penjumlahan kiri dan kanan menunjukkan nomor hadist (ulama dunia menyepakati hadist shahih Muslim yang paling shahih). Hasil pencarian surah dan ayat (firman Al-Qur’an) serta hadist dari “nama” tersebut, dibaca, kemudian bacaan dihembuskan pada segelas air yang sudah disiapkan sebelumnya.

Sedangkan untuk “tanggal lahir”, dengan mengikuti cara teknis seperti di atas maka tanggal menunjukkan nomor surah, bulan menunjukkan nomor ayat, dan tahun kelahiran menunjukkan nomor hadist. Dengan cara yang sama bacaan dihembuskan pada segelas air yang sudah disiapkan. Proses teknis tersebut di atas akan menjadi akumulasi di diri khalifah memiliki cahaya iman yang didalamnya ada firman dan hadist.

_Syaitan Butuh Kitab_

Amalan berdzikir mendatangkan kemuliaan di diri seseorang. Dzikir sebagai sebuah proses penataan qolbu penting mendapatkan perhatian bagaimana dan dari mana harus memulai serta langkah dan upaya yang perlu dilakukan.

Menurutnya banyak ulama yang berpengalaman dalam urusan qolbu dan pendakian ruhani telah menjawab hal ini. Salah satunya Syekh Khalib ibn ‘Utsman ibn al-Sabt, seperti yang diungkapkannya dalam kitab Nuzhatul-Fudhalâ, hal 607, sebelumnya menyebutkan upaya-upaya menekankan pentingnya niat dan itikad kuat dari qolbu itu sendiri untuk memperbaiki dirinya. Sebab, mustahil suatu perubahan dan perbaikan akan tercapai tanpa itikad yang kuat.

Sulaiman al-Khawash menuturkan, “Zikir bagi hati ibarat makanan bagi tubuh. Namun, tubuh tidak akan merasakan lezatnya makanan selama tubuh tersebut sakit. Demikian halnya dengan hati. Ia tidak akan merasakan manisnya zikir selama ia sedang cinta kepada dunia.” Dan perlu diingat bahwa berzikir akan mendatangkan ketenangan hati. Amalan
dzikir (mengingat Allah) sesering mungkin merupakan upaya yang sangat dianjurkan dan efektif untuk menjaga kewaspadaan diri dari godaan setan. Ini adalah pendekatan spiritual yang mendalam dalam Islam.

Dzikir ini adalah pengakuan bahwa tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah. Ini menunjukkan ketergantungan penuh kepada-Nya untuk menghadapi segala kesulitan, termasuk godaan setan. La hawla wa la quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adzim dianggap sebagai salah satu “harta karun surga” dan sangat efektif dalam menolak kejahatan dan memudahkan urusan. Godaan dari syaitan, jin, untuk menguji manusia merupakan SPK diterima dari Allah SWT hanya bisa dikalahkan dengan Nur Allah – Nur Muhammad, maka yang terjadi tidak akan dapat masuk energi negatif ke diri ahli dzikir dan dengan kata lain terjadi penundukan dan tidak akan perang terlebih bilamana di diri seseorang disematkan firman dan hadist sebab telah dilakukan pembelahan nama dan tanggal lahir. Seorang khalifah yang pada dirinya memancarkan Nur Allah – Nur Muhammad maka akan melekat kuat dan akan kembali innalillahi wa inna ilaihi rojiun yang akhirnya terus berpuji syukur alhamdulillahirabbilalamiin kepada Sang Khalik.

Khalifah yang mempersenjatai cahaya iman dalam menghadapi pasukan hitam seperti iblis (bercokol di arab Saudi, wilayah mediteranian), lucifer (bercokol di Eropa, USA), dajjal atau samiri (bercokol di Israel) yang dibawah komando iblis termasuk serangan penyakit ain (sihir, sintetis, pelet) akan memiliki kesiapsiagaan untuk memberikan kitab kepada pasukan hitam tersebut. Sebagaimana telah diketahui umum bahwa di jazirah arab tepatnya di Al Ula dibangun pusat hiburan dan kemaksiatan berbagai macam terbesar di dunia, adalah isyarat bahwa dajjal telah hadir bermarkas di Al Ula dan hal ini menandakan sinyal peringatan bahwa dunia telah memasuki phase akhir jaman. Al ula yang merupakan suatu tempat di jazirah arab dekat Jeddah yang disabdakan Rosululloh untuk tidak boleh ditinggalkan justru sekarang dengan terang-terangan dibuat menjadi pusat maksiat dunia.

Bukan tidak mungkin adzab Allah akan turun di lokasi tersebut dan akhirnya pasukan hitam kalang kabut dan sasarannya adalah Indonesia atau tanah sundaland di belahan timur yang notabene menjadi populasi muslim terbesar untuk mereka berupaya mendapatkan kitab. Sebab, pasukan hitam akhirnya menyadari bahwa mereka butuh kitab untuk dapat masuk surga kelak ketika kiamat tiba, dan tidak ingin dibenamkan di neraka jahanam. Gambaran situasi akhir zaman yang tidak akan lama lagi terjadi harus menjadi peringatan bagi kita untuk terus istiqomah di jalan kebenaran.

Rasulullah SAW dalam hadits menekankan pentingnya pokok-pokok keimanan dan amal shaleh dasar yang menjadi kunci keselamatan dunia dan akhirat, dan dalam sebuah riwayat seorang Badui bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, “Wahai Rasulullah, kabarkanlah kepadaku tentang sesuatu yang mendekatkanku ke surga dan menjauhkanku dari neraka?”, dan Nabi SAW lalu menjelaskan hal-hal yang wajib dilakukan seperti:
• Menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya.
• Mendirikan shalat.
• Menunaikan zakat.
• Menyambung tali silaturahim.
menunjukkan bahwa hadits ini adalah bagian dari pembahasan tentang dasar-dasar Islam dan amal shaleh yang penting.

Seorang khalifah menyadari betapa takwa dan amal saleh merupakan fundamen bagi kaum mukmin untuk mengingat karunia dan perjanjian Allah, yaitu “Kami mendengar dan kami menaati”
(dalam ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya), serta bertakwa karena Allah Maha Mengetahui isi hati, menekankan pentingnya mengingat nikmat, menaati perjanjian, dan menjaga ketakwaan. Khalifah secara natural dan netral tanpa memandang agama dan ras apapun akan menebarkan kehidupan akhlakul kharimah dan dengan kasih sayangnya sebagai bijak melakukan Asih, Asah, Asuh dan dengan aktualisasi lahaula walaquwata illabillah di setiap momentum dan tempat maka Allah SWT akan menghadiahi mahkota dari surga.

Membangunkan sistem sinergial firman dan hadist bagi seorang khalifah ke komunitas masyarakat berimplikasi pada sistem sosial kemasyarakatan manusia sebagai entitas penyempurnaan umat mengesakan satu Tuhan. Sundaland di bumi wilayah timur menjadi keniscayaan terbangunnya masyarakat damai, makmur, sejahtera dan bahagia dan melalui pendekatan keratuan (sinonim Ratu Semut pada kehidupan semut) akan menjadi pusat penebaran moral akhlakul kharimah ke seluruh penjuru dunia hingga komunitas masyarakat berakurasi presisi dari fitrah dan hadist akan merepresenrasikan Indonesia, Nusantara, mercusuar dunia oleh sebab dunia akan tersadarkan ketika seluruh makhluk menerima kehadiran energi cahaya iman Nur Allah – Nur Muhammad. Betapa Sundaland akan menjadi pusat peradaban baru manusia bermoral karakter building mumpuni dan seluruh penjuru dunia berbondong-bondong laksana entitas kehidupan semut dimana masyarakat saling bersapa, bergotong royong bahu membahu membangunkan akhlak akhlakul kharimah. Inilah mercusuar yang memancarkan cahaya iman dari timur menerbitkan tingkat kesempurnaan peradaban dan darinya kehidupan dunia penuh dengan rasa syukur yang menjadikan Allah tidak cemburu lagi berhubung umat terus istiqomah berdzikir Alhamdulilahirobilalamin.

(sp.official.111225). Cc. Bunda Ratu Samsiah Pertiwi.

Penulis : S Purwadi Mangunsastro, Wangsa Arya Penangsang, Ketua Yayasan Al Farizi Nusantara Jakarta.

Follow WhatsApp Channel suarasumutonline.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ashari Tambunan Kembali Dipilih Sebagai Ketua PKB Sumut Priode 2026-2031
Peran Negara Saat Darah Rakyat Dihisab Pinjol
Refleksi akhir tahun Ketua MKGR Kota Medan. M.Ihsan Kurnia.
Sepanjang 2025, Kejaksaan Tinggi Sumut Telah Laksanakan Kegiatan dan Pencapaian Luar Biasa
_Sambungan_ (Serial Opini Trisula Weda) “NOTONEGORO INDONESIA AGREGASI KHALIFAH – DINAMIKA POLITIK NASIONAL
_Sambungan_ (Serial Opini Trisula Weda) “NOTONAGORO INDONESIA Sub Judul DINAMIKA POLITIK NASIONAL”
_Sambungan_ : (Serial Opini Trisula Weda) “NOTONAGORO INDONESIA Sub Judul SANGHYANG RASA DAN INSAN KHALIFAH”
_Sambungan_ (Serial Opini Trisula Weda) “REZIM EDAN-EDANAN” NOTONEGORO INDONESIA AGREGASI KHALIFAH,_Sub Judul :_ SHANGYANG RASA DAN INSAN KHALIFAH
Berita ini 25 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 26 Januari 2026 - 16:06 WIB

Ashari Tambunan Kembali Dipilih Sebagai Ketua PKB Sumut Priode 2026-2031

Jumat, 9 Januari 2026 - 21:33 WIB

Peran Negara Saat Darah Rakyat Dihisab Pinjol

Minggu, 28 Desember 2025 - 13:48 WIB

Refleksi akhir tahun Ketua MKGR Kota Medan. M.Ihsan Kurnia.

Jumat, 26 Desember 2025 - 13:00 WIB

Sepanjang 2025, Kejaksaan Tinggi Sumut Telah Laksanakan Kegiatan dan Pencapaian Luar Biasa

Rabu, 24 Desember 2025 - 21:08 WIB

_Sambungan_ (Serial Opini Trisula Weda) “NOTONEGORO INDONESIA AGREGASI KHALIFAH – DINAMIKA POLITIK NASIONAL

Berita Terbaru