Indonesia gelap. Frasa ini menghebohkan jagad netizen di awal pemerintah Prabowo-Gibran. Trendingnya Tagar Indonesia Gelap bukan karena tak ada cahaya tapi netizen menengarai mereka yang berkuasa memilih menutup mata atas sorotan berbagai permasalahan karena pemerintah dinilai mengorbankan kebutuhan dan hak-hak rakyat kelas menengah ke bawah demi proyek-proyek pro korporat. Proyek Danantara menyedot besar APBN dibanding program pro rakyat seperti MBG yang jauh lebih kecil anggarannya menjadi pemicu jagad netizen dibanjiri Tagar Indonesia Gelap.
Anak-anak GenZ, dimotori BEM Seluruh Indonesia, bangkit protes menyuarakan hak-hak rakyat. Rakyat menilai pemerintah tidak adil. Ketidakadilan dirasakan rakyat sejak pemerintahan Jokowi. Rakyat berkali-kali demo atas ketidakadilan dan kebijakan yang dinilai jauh dari mensejahterakan rakyat. Rakyat dibuat lelah karena kebohongan tak putus-putus dipertontonkan Jokowi. Setahun sudah berlangsung pemerintahan Prabowo, Tagar Indonesia Gelap tidak lagi tranding. Akankah indikasi cahaya terang sudah menyinari Indonesia?
Tagar Indonesia Gelap, dan tagar-tagar lain yang pernah dan akan terus bermunculan di Indonesia bukan tidak mungkin akan muncul susul menyusul selama penguasa dan rakyat belum terjalin langkah-langkah akomodatif dalam mengatasi ketidakadilan yang terjadi sementara Pemerintah belum signifikan dapat mengatasi jurang atau gap besar antara si kaya dan si miskin.
Secara realistis perang global “memaksa yang lemah tunduk pada yang kuat” dalam hubungan internasional, yang berfokus pada kekuasaan, keamanan; dan jerat hutang LN yg dialami Indonesia adalah bagian dari hegemoni global. Ekses ditimbulkan adalah kerusakan moral melalui berbagai entitas seperti gaya hidup hedonism, judol, minuman kamar yang merebak beredar luas, narkoba, sex bebas dll.
Inilah perang global sesungguhnya. Penghancuran moral dengan kerahkan kekuatan IT sebagai martir senjata perang. Serangan kapitalism dan liberalism sebagai platform medan perang. Perang akhir jaman jangan dibayangkan sebagai bunuh membunuh seperti di Gaza. Jikapun terjadi itu bukan agenda utama perang dunia.
Indonesia sebagai negara muslim terbesar dunia jadi sasaran tembak melumpuhkan akhlak dan adab manusia. Kerusakan ditimbulkan tidak bisa diatasi dengan cara politik biasa-biasa saja. Elitis penguasa dan pengusaha sudah sangat berkerak dan bernoktah pekat lantaran berpolitik sebagai tameng mengejar harta dan kekuasaan. Perilaku korup sudah penyakit akut bangsa. Generasi bangsa ini, terkhusus anak-anak GenZ penting diberikan pembentengan diri agar memiliki jiwa dan iman (islam)
yang kokoh dalam menghadapi serangan perang global; generasi GenZ menjadi sasaran tembak untuk melemahkan moral karakter bangsa nusantara, Indonesia.
Kelihatannya tidak masuk akal dan terlalu lebay bila kita gaungkan Gerakan Kebenaran. Gerakan untuk menghadirkan qolbu (fuad) bercahaya ilahi disetiap insan agar aqidah duduknya “benar dan pener” selaku tunaikan tugas khalifah di muka bumi. Fuad harus diasah melalui dzikir, kejujuran batin, dan kesiapan moral. Dengan itu, bangsa ini melakukan perlawanan global perang akhir jaman.
Memasuki 2026 momentum untuk membangunkan perlawanan perang global ala keluhuran bangsa nusantara. Perang global sesungguhnya adalah strategi Yahudi Komunis (dajjalis) mempertahankan penguasaan asset global nusantara yang dirampasnya melalui Green Hilton Memorial Agrement.
Surah Al-Anfal ayat (1) itu menegaskan kepada Muhammad SAW bahwa harta rampasan perang itu milik Allah dan Rosulnya. Orang-orang beriman yang bertakwa kepada Allah dan perbaiki silaturahim kepada sesama, mengerjakan shalat, menginfakkan sebagian rejeki akan memingkat derajad menjadi mukmin, dan melaksanakan perintah Allah berjuang di jalan kebenaran [QS Al Anfal, ayat (2), (3) , (4), (5)].
Surah Al Anfal ayat (29), (41), (69), menegaskan 20 persen rampasan perang milik Allah, Rosul, kerabat Rosul, anak yatim, orang miskin dan ibnu sabil; niscaya Allah akan memberikan Furqon (kemampuan membedakan antara yang haq dan batil) sebagaimana “yang demikian jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqon, yaitu pada hari bertemunya dua pasukan. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.
Maka, bangsa ini harus melumpuhkan pasukan dajjal dengan firman dan hadist agar centrum dajjalis di Al Ulla hancur binasa. Inilah isyarat kemenangan perang akhir jaman dan sembari kita menyongsong akan kehadiran Imam Mahdi dan Nabi Isa untuk mengibarkan islam kaffah di seluruh muka bumi; kejayaan islam dari timur akan menjadi sebuah keniscayaan. Indonesia mercusuar dunia adalah eksistensi Islam dari nusantara Indonesia memakmurkan bumi dengan cara Allah SWT, jadi bukan mengejar kedigdayaan ekonomi dan politik.
Al-Maidah 5 (7) : Ingatlah nikmat Allah kepadamu dan perjanjian-Nya yang telah Dia ikatkan kepadamu ketika kamu mengatakan, “Kami mendengar dan kami menaati.” Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati.
Kunci pengibaran Gerakan Kebenaran termaktub pada Surah Al Maidah ayat (7), berisi anjuran untuk mengingat nikmat dan janji Allah, serta menegaskan pentingnya menaati-Nya dengan ucapan, _”Kami mendengar dan kami menaati”._ Ayat ini juga menekankan kewajiban bertakwa kepada Allah karena Ia Maha Mengetahui segala isi hati manusia. Inilah ujud konkrit memperkuat benteng dan persenjataan di diri insan bangsa Indonesia dengan menebarkan cahaya ilahi (Nur Allah – Nur Muhammad) pada setiap jiwa jiwa muslim dan muslimah bangsa leluhur nusantara dan Sundaland merupakan basis atau benteng utama perjuangan amal makruf nahi munkar.
Dalam hadist shahih Muslim no 12, dikemukakan riwayat (diriwayatkan Abu Ayyub) ada orang Badui yang menyetop perjalanan Rosulullah SAW, dan kemudian orang Badui berkata, ‘Wahai Rasulullah, wahai Muhammad, kabarkanlah kepadaku tentang sesuatu yang mendekatkanku ke surga dan sesuatu yang menjauhkanku dari neraka?’ Abu Ayyub berkata, ‘Lalu Nabi saw. berhenti, kemudian melihat para sahabat-sahabatnya kemudian bersabda, ‘Dia telah diberi taufik atau telah diberi hidayah.’ Dia bertanya, ‘Apa yang kamu katakan?’. Abu Ayyub berkata, ‘Lalu dia mengulanginya.’ Maka Nabi saw. bersabda : Kamu menyembah Allah, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menyambung tali silaturahim.
In syaa Allah dengan membangkitkan Gerakan Kebenaran dengan menebarkan cahaya ilahi (Nur Allah – Nur Muhammad) di setiap tubuh manusia maka Allah SWT pemilik aset rampasan perang akan membuka rahmat terbukanya harta amanah Aset Global Nusantara kepada siapa yang dikehendaki-Nya.
(sp.official.061225). CC. Ratu Samsiah Pertiwi.
Penulis : Oleh. S Purwadi Manngunsastro, Wangsa Arya Penangsang - Ketua Yayasan Al Farizi Nusantara Jakarta.









