DELI SERDANG, SUARASUMUTONLINE.ID – Bengkel sederhana Rumah Pengrajin Bahagia kini mampu menghasilkan 30 hingga 50 miniatur kapal kayu setiap bulan. Angka tersebut meningkat sedikitnya dua kali lipat dibandingkan kondisi sebelumnya yang rata-rata hanya mencapai 15 unit per bulan. Perubahan itu berlangsung setelah tim pengabdian kepada masyarakat Politeknik Negeri Medan (Polmed) memadukan modernisasi alat produksi dengan pendampingan pencatatan keuangan di usaha milik Zulfansyah Damanik. Senin (20/10/2025).
Peningkatan kapasitas bukan satu-satunya hasil. Evaluasi pada tiga bulan awal penerapan program menunjukkan omzet usaha naik sekitar 25-30 persen. Penggunaan alat yang lebih presisi juga menurunkan kerusakan dan pemborosan bahan kayu sekitar 15-20 persen. Bagi usaha kerajinan yang mengandalkan detail dan ketelitian, perbaikan ini membuat pengerjaan pesanan menjadi lebih cepat sekaligus menjaga mutu produk tetap seragam.
Rumah Pengrajin Bahagia telah dirintis sejak 2009. Zulfansyah mengembangkan miniatur kapal dan lampion kayu dengan menggabungkan keterampilan kerajinan tangan, inspirasi warisan maritim Indonesia, dan pemanfaatan potongan kayu serta bambu. Karakter buatan tangan memberi setiap produk nilai artistik, tetapi cara kerja yang dominan manual sebelumnya membatasi jumlah pesanan yang dapat diselesaikan tepat waktu.
Pada asesmen awal, sejumlah pekerjaan presisi masih dikerjakan dengan alat sederhana. Proses pemotongan, penghalusan, dan pengukiran membutuhkan waktu panjang, sedangkan hasil akhirnya belum selalu konsisten. Di sisi lain, pengelolaan keuangan baru sebatas catatan pemasukan dan pengeluaran. Kondisi itu menyulitkan pemilik usaha menghitung biaya produksi, mengetahui laba yang sebenarnya, menentukan harga jual, dan merencanakan pembelian bahan baku.
15 menjadi 30-50 unit/bulan | omzet +25-30% | kerusakan bahan turun 15-20%
Tim Polmed kemudian menjalankan program secara partisipatif, dimulai dari observasi kebutuhan, pelatihan, penerapan alat, hingga monitoring. Dukungan produksi mencakup jigsaw elektrik, ketam kayu elektrik, mesin bais duduk, dan peralatan ukir modern. Pelaku usaha tidak hanya menerima peralatan, tetapi juga dibimbing mengenai penggunaan, perawatan, pengendalian kualitas, serta cara mengurangi pemborosan bahan baku.
Hasilnya terlihat pada alur kerja bengkel. Pemotongan dan penghalusan kayu dapat dilakukan lebih cepat, detail ukiran menjadi lebih rapi, dan ukuran produk lebih konsisten. Kapasitas yang bertambah memberi ruang bagi Rumah Pengrajin Bahagia untuk melayani lebih banyak pesanan, termasuk permintaan dari luar daerah, tanpa mengorbankan karakter handmade yang menjadi kekuatan produknya.

Transformasi juga terjadi di balik meja pencatatan. Melalui latihan berbasis transaksi nyata, Zulfansyah dibimbing mencatat pembelian bahan, biaya operasional, dan pendapatan penjualan setiap hari. Catatan tersebut kemudian diolah menjadi laporan laba rugi bulanan dan arus kas sederhana. Dengan data yang lebih tertib, keputusan mengenai harga, jumlah produksi, dan kebutuhan bahan tidak lagi semata-mata mengandalkan perkiraan.
Kombinasi antara mesin dan pembukuan menjadi pembeda utama program ini. Peralatan memperkuat kemampuan produksi, sedangkan laporan keuangan membantu memastikan kenaikan aktivitas benar-benar memberikan keuntungan. Pembukuan yang lebih akuntabel juga dapat menjadi modal penting saat usaha membutuhkan akses pembiayaan formal untuk menambah kapasitas atau mengembangkan variasi produk.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh tim pengabdian yang diketuai Rihat Sebayang, S.T.,M.T dengan anggota Marlya Fatira AK, S.E., M.Si, Dr. Surya Dharma, S.T., M.T, Eli Safrida, S.E., M.Si dan Anita Putri, S.E., M.Si.
Pendekatan pendampingan dipilih agar pelaku usaha terlibat dalam setiap tahap dan mampu melanjutkan praktik produksi serta pengelolaan keuangan secara mandiri setelah program berakhir.
Ke depan, konsistensi pencatatan bulanan, perawatan mesin, dan pemasaran digital menjadi agenda penting agar pertumbuhan usaha tetap terjaga. Pengalaman Rumah Pengrajin Bahagia menunjukkan bahwa penguatan UMKM kerajinan tidak cukup hanya dengan menambah alat. Produktivitas akan lebih berkelanjutan ketika peningkatan teknologi berjalan bersama disiplin manajemen dan kemampuan membaca data usaha.
Program tersebut didukung melalui dana DIPA Politeknik Negeri Medan Tahun 2025. Bagi Polmed, pendampingan ini sekaligus menjadi pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang diarahkan pada solusi terukur bagi usaha lokal: memperbaiki proses kerja, memperkuat akuntabilitas, dan membuka peluang pertumbuhan yang lebih kompetitif.
Editor : Rhm









