MEDAN, SUARASUMUTONLINE.ID – Dinas Kesehatan Sumatera Utara menemukan sebanyak 162 balita yang menderita stunting. Jumlah tersebut didapat setelah dilakukan pemeriksaan terhadap 79.926 balita.
“Stunting dan gizi buruk ini dua hal yang berbeda sebenarnya, walaupun sama-sama masalah gizi. Jadi kalau untuk di Kota Medan, data stunting kita sampaikan bahwasanya per tanggal 10 Februari 2026, itu dilaporkan ada 162 balita yang kondisinya stunting. Nah, data ini bersumber dari aplikasi SiGizi Terpadu kita. Jadi, dari jumlah balita yang diukur sebanyak 79.926, ditemukanlah 162 balita dalam kondisi stunting. Itu khusus untuk di Kota Medan,” jelas Sekretaris Dinas Kesehatan Sumatera Utara, Hamid Rijal Lubis Pada wartawan, Senin (30/3)
Menurut Hamid, ada dua penyebab adanya stunting. Penyebab langsung nya dapat berupa asupan gizi yang kurang memadai secara gizi dan penyakit menular seperti TBC, diare, dan cacingan.
“Ada penyebab langsung dan penyebab tidak langsung. Penyebab langsung itu yang pertama adalah asupan gizi. Bagaimana asupan gizi yang masuk ke balita itu, apakah secara kuantitas atau volumenya kurang, atau secara kualitas atau gizinya yang tidak memadai. Kemudian penyebab langsung yang kedua adalah penyakit menular. Jadi kalau balitanya menderita penyakit menular seperti TBC, diare, atau kecacingan, maka asupan gizi yang masuk itu akan ‘dimakan’ oleh penyakitnya tadi, sehingga balitanya menjadi gizi buruk,” ujarnya.
Untuk penyebab tidak langsung dapat berupa kesalahan dalam pola asuh dan pemberian makan terhadap anak, misalnya pemberian makanan berat untuk bayi yang seharusnya masih ASI ekslusif.
“Pengetahuan atau pola asuh dari orang tua atau pengasuhnya. Misalnya bayi usia 0 sampai 6 bulan yang harusnya hanya mendapat ASI eksklusif, tapi sudah diberikan makanan padat atau makanan berat. Ini kan sebenarnya belum bisa diterima oleh pencernaannya dan bisa merusak sistem pencernaan si bayi,” jelasnya.
Penulis : Yuli









