SIMALUNGUN, SUARASUMUTONLINE. ID – Dalam setahun terakhir, petani di Nagori Pematang Sidamanik, Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun, menghadapi krisis air yang semakin parah. Irigasi yang selama puluhan tahun menghidupi ratusan hektare sawah kini tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan dasar pertanian.
Masalah ini diduga kuat dipicu oleh alih fungsi lahan dari tanaman teh menjadi sawit. Debit air menurun drastis, membuat sistem pembagian air antarpenggarap tak lagi mencukupi. Dampak paling terasa sejak April lalu ketika umbul-umbul, sumber air utama setempat mulai mengering.
“Air tidak terbagi lagi ke persawahan. Pembagian sudah tidak cukup. Umbul juga mulai mengering. Bahkan air konsumsi masyarakat mulai bermasalah,” ujar Anton, salah seorang warga setempat,Senin (24/11).
Kondisi terburuk dialami petani di Dusun Pematang Tiga Urung, Parmahanan, dan Sinaman 1. Dari total sekitar 100 hektare sawah, irigasi kini hanya mampu mengaliri sekitar 15 hektare.
“Tidak berani lagi kami menanam padi. Air tak ada. Sawah di ambang mati,” keluh sejumlah petani lainnya.
Damanik, seorang petani paruh baya, menuturkan bahwa warga kini harus mengatur air dengan sistem giliran berdasarkan waktu dan blok sawah.
“Kami tidak bisa tidur. Air kurang terus. Menjaga air malah sering bertengkar. Ini bisa jadi konflik sosial,” ujarnya.
Di lokasi terlihat tiga umbul di Nagori Pematang Sidamanik mulai mengering. Kincir-kincir air tradisional yang dulunya mengaliri sawah kini tidak lagi berfungsi.
Warga menyebut penurunan debit air mulai dirasakan sejak lahan PTPN yang sebelumnya merupakan kebun teh mulai diratakan untuk penanaman sawit.
“Mulai diratakan tempat untuk sawit itu, di situlah terasa debit air berkurang. Kami harus jaga air malam pun tak bisa istirahat,” tutur seorang petani lainnya.
Di Nagori Ambarisan, warga menyebut kini hanya seperempat lahan PTPN yang belum ditanami sawit.
Menurut warga, perubahan tutupan lahan mengubah pola serapan air. Saat musim hujan, air cepat menggenang karena banyak cekungan baru. Namun setelah beberapa bulan, air tidak lagi meresap ke mata air seperti Bah Biak dan Bah Butong.
“Ketika hujan Desember datang, lihat saja, pasti banjir. Simantin 3 itu banjir. Tapi setelah itu kering total,” ungkap warga lainnya.
Krisis air ini membuat banyak petani gagal bertanam dan kehilangan keberanian untuk kembali menanam padi karena risiko terlalu besar. Situasi ini dinilai berpotensi mengancam ketahanan pangan lokal jika tidak segera ditangani.
Tidak hanya kekeringan, kawasan kebun teh di sekitar juga mengalami banjir ketika hujan deras. Sebelumnya, pada Jumat (14/11), kawasan kebun teh di Afdeling III, Nagori Simantin, Kecamatan Pematang Sidamanik, tergenang air deras di area yang sedang dalam proses konversi ke sawit oleh PTPN IV. Yoelie
Penulis : Youlie









