Konsep Jawa Sangkan ( _asal-usul_ ) Paraning ( _tujuan akhir_ ) Dumadi ( _keberadaannya_ ) selaras dengan ajaran Islam yang menyatakan bahwa manusia berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya.
Filosofi ini mengajarkan bahwa hidup adalah perjalanan spiritual yang harus dijalani dengan kesadaran, tidak hanya mencari kebahagiaan duniawi, melainkan mempersiapkan diri untuk pulang kembali kepada Sang Pencipta sehingga manusia harus menjalani hidup dengan lebih bijaksana dan bertanggung jawab.
Bagi banyak masyarakat Jawa merenungkan sangkan paraning dumadi adalah merupakan falsafah untuk menyadari diri dari mana manusia berasal, mau kemana akan kembali. Bagi orang Jawa jati dirinya sebagai manusia sadar bahwa hidup bukan kebetulan, hidup dari yang Maha Ada, dibuat dari tanah diberi roh dari langit, yang tahu diri bahwa hidup ini perjalanan pulang, mau kemana setelah pulang. Pulang tidak membawa apa-apa, hidup ini hanya mampir ngombe, tetapi tidak tahu dari mana air itu berasal, dari mana sungai itu mengalir.
Dalam Islam, sangkan paraning dumadi dapat diartikan sebagai perjalanan manusia dari asal-usulnya hingga tujuan akhirnya. Dalam Islam kehidupan manusia mencerminkan konsep sentral dalam akidah (keyakinan) dan syariah (hukum Islam). Tujuan utama penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah SWT, hidup di dunia sebagai ujian, dan kembali kepada-Nya untuk menerima balasan di akhirat.
Ajaran spiritual Sunan Kalijaga, yang juga dikenal sebagai “piwulang sakral”, merupakan panduan perjalanan hidup mendalam dan dikaitkan erat dengan pesan mengenal diri sendiri dan kembali ke surga. Piwulang sakral dimaksudkan menanamkan kesadaran spiritual agar manusia lebih sadar akan hakikat keberadaannya dan hubungannya dengan Allah SWT.
Allah SWT mewahyukan kepada Nabi Muhammad SAW dalam bentuk firman (surah dan ayat dalam Al-Qur’an) yang merupakan kalam Allah SWT, sedangkan hadist adalah perkataan, perbuatan, dan ketetapan Nabi Muhammad SAW. Keduanya merupakan dua sumber hukum dan pedoman atau petujuk-petunjuk hidup umat Islam yang tidak terpisahkan dan saling melengkapi. Al-Qur’an adalah sumber utama, dan hadist berfungsi sebagai penjelas, perinci, dan penguat ajaran Al-Qur’an.
Dengan berlandaskan kaidah berfikir ilmu mantiq (Imam Al-Gazali memperbolehkan dan bahkan menganjurkan mempelajari ilmu mantiq karena sebagai alat yang penting untuk mencapai kebenaran atas penafsiran firman dan hadis menjadi lebih objektif dan jernih), maka “pulang” atau kembali kepada Allah SWT sebagai tujuan akhir sebagaimana dinyatakan dalam banyak ayat Al-Qur’an tidaklah sekedar pulang saja dengan tidak membawa apa- apa, padahal Islam mengajarkan bekal takwa dan amal saleh yang harus dibawa pulang kembali kepada Allah.
Kepulangan tersebut bukanlah sekadar kembali tanpa makna, melainkan sebuah proses penghadapan dengan membawa hasil dari kehidupan di dunia. QS. Al-Baqarah ayat 156 berbunyi : “Sesungguhnya kita (makhluk) milik Allah dan kepada-Nyalah kita kembali” dapat dipahami secara rasional dan objektif, tidak hanya berdasarkan emosi atau dogma buta.
Oleh karena itu, proses kembali tersebut harus melibatkan sebab-sebab (amal saleh dan takwa) yang disiapkan selama di dunia untuk mencapai tujuan akhir yang bermakna. Kepulangan tanpa membawa hasil akan bertentangan dengan konsep tujuan hidup yang telah ditetapkan
menjadikannya tindakan yang sia-sia (batil), sesuatu yang mustahil dikaitkan dengan kebijaksanaan Allah SWT.
Manusia dapat secara presisi memaknai hidup dan jalan kehidupannya melalui hadist meskipun terdapat banyak perawi dan keragaman pandangan dengan berpegang pada metodologi ilmiah dan panduan yang telah ditetapkan oleh para ulama hadist (ilmu hadist) untuk memilah, memverifikasi, dan menafsirkan hadist secara tepat. Hadist berfungsi sebagai penjelas serta penjabaran ajaran Al-Qur’an. Fungsi ini membantu umat Islam memahami dan mengimplementasikan perintah dalam Al-Qur’an secara lebih mendalam melalui praktik dan ucapan Nabi Muhammad SAW.
—————
MEMBEDAH JATIDIRI MEMPRESISI BERDASAR FIRMAN DAN HADIST
Resi Panuntun Agung Badui mengajarkan metode membedah jatidiri fitrah manusia.
Fitrah manusia adalah sifat bawaan alami penciptaan yang suci, baik, dan secara intrinsik cenderung mengakui keesaan Tuhan (tauhid).
Jati diri manusia, yang dibedah secara presisi berlandaskan fitrah ini sesungguhnya adalah sebagai hamba Allah dan sekaligus khalifah Allah di muka bumi. Menjalani kehidupan sesuai perannya sebagai khalifah berarti mengaktualisasikan seluruh potensi fitrah yang diberikan Allah SWT, seperti akal pikiran, hati nurani, dan kemampuan fisik, untuk tujuan :
1. Mengelola dan memelihara alam; bertanggung jawab untuk merawat bumi, menjaga lingkungan, dan memanfaatkan sumber daya secara bijak, bukan merusaknya.
2. Menegakkan keadilan dan ketertiban; mencakup menegakkan ketentuan Allah dan menciptakan tatanan sosial yang adil dan harmonis.
3. Beribadah kepada Allah; setiap aktivitas dan usaha sebagai khalifah harus dilakukan dalam kerangka ibadah dan ketaatan kepada Allah, bukan atas dasar keinginan pribadi semata.
4. Hidup bermoral dan bertanggung jawab; bertindak sesuai ajaran agama, memelihara akhlak terpuji, dan menjauhi kemungkaran.
5. Mengembangkan potensi diri; fitrah manusia menuntut pengembangan potensi dasar, baik jasmani, akal, maupun rohani, melalui proses belajar dan pendidikan untuk menyempurnakan peran kekhalifahan.
Sebagaimana kita ketahui bahwa setiap manusia dilahirkan di muka bumi adalah atas kehendak Allah SWT. Kelahiran setiap manusia di muka bumi dianggap sebagai bagian dari rencana Allah. Ini mencakup pandangan bahwa siapa orang tua yang melahirkan, kapan dilahirkan, dan nama yang diberikan adalah bagian dari ketetapan tersebut. Konsep ini berakar kuat dalam ajaran Islam yang memandang bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta, termasuk kelahiran setiap manusia, adalah bagian dari takdir (Qada dan Qadar) atau ketetapan Allah SWT.
Jati diri seseorang dibedah berlandaskan firman dan hadist. Dipresisi dari nama dan tanggal lahir dengan asumsi bahwa manusia saat dilahirkan berasal dari keadaan suci dengan kecenderungan alami untuk mengakui keesaan Allah. Dalam perjalanan kehidupannya nilai seseorang di sisi Allah tidak ditentukan oleh nama, tanggal lahir, atau suku, melainkan oleh ketakwaan (iman dan amal).
Namun demikian selaku khalifah di bumi dengan tujuan untuk beribadah kepada Allah SWT jati diri sejati terbentuk yang ditabalkan nama seorang manusia oleh kedua orang tuanya adalah atas bisikan malaikat, dan kehidupan selanjutnya melalui usaha individu dalam menjalankan perintah agama dan menjauhi larangan-Nya akan menghasilkan nilai takwa dan amal salehnya.
Sintesa pandangan Resi Panuntun Agung Badui ini sangat mendalam mengenai jati diri manusia dalam Islam, yakni menggabungkan aspek penciptaan, takdir (nama dan tanggal lahir), dan usaha individu (takwa dan amal). Melalui sintesis ini seorang manusia yang bersangkutan akan merefleksikan hadirnya “cahaya” di diri manusia tersebut, sebab bukankah kita meyakini bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk dari segala petunjuk? Cahaya dimaksud adalah bersemayamnya Nur Allah – Nur Muhammad di diri seorang manusia yang bersangkutan dan itulah ujud presisi jati diri pembedahan dimaksud dalam sintesis ini.
Sintesa dimaksud mencerminkan dimensi
spiritual yang mendalam yang ditemukan dalam tradisi sufisme atau kebatinan di Indonesia, termasuk elemen-elemen yang selaras dengan ajaran lokal seperti Sunda Wiwitan di Badui.
Secara metodik membelah nama seseorang terbagi dua menjadi sebelah kiri dan kanan, masing-masing jumlah huruf di sebelah kiri adalah menunjukkan presisi SURAH dan jumlah huruf di sebelah kanan adalah AYAT, dan kemudian jumlah huruf pada bagian kiri dan kanan ditambahkan maka dipresisi sebagai nomor HADIST dan narasinya dibuka pada hadist Shahih Muslim (rujukan ulama sedunia sebagai hadist shahih yang tershahih). Membaca, mentafakuri, dan mendalami isi firman dan hadist tersebut adalah langkah melekatkan makna mulia hadist di diri orang tersebut kemudian hembuskan pada segelas air putih (sebelum membelah nama agar dipersiapkan dahulu) lalu diminum untuk mengambil fadhilahnya. Prosesi ini laksana meng-“update” perjalanan awal takdir kelahiran sebagai khalifah di muka bumi.
Demikian halnya metodik membelah tanggal lahir seseorang. Angka tanggal lahir seseorang menunjukkan presisi SURAH dan angka bulan adalah AYAT, dan kemudian angka tahun kelahiran dipresisi sebagai nomor HADIST. Selanjutnya narasinya dibuka pada hadist Shahih Muslim (rujukan ulama sedunia sebagai hadist shahih yang tershahih). Membaca, mentafakuri, dan mendalami isi firman dan hadist tersebut adalah langkah melekatkan makna mulia hadist berdasar rujukan tanggal kelahiran kemudian hembuskan pada segelas air putih (sebelum membelah nama agar dipersiapkan dahulu) lalu diminum untuk mengambil fadhilahnya. Prosesi ini laksana meng-“update” perjalanan awal melengkapi takdir kelahiran sebagai khalifah di muka bumi. (sp.official.281125). Cc. Bunda Ratu Samsiah Pertiwi.
Penulis : Oleh. S. Purwadi Mangunsastro, Ketua Yayasan Al Farizi Nusantara Jakarta.









