Trisula Weda, istilah ini lebih dikenal dalam konteks budaya Jawa dan Ramalan Jayabaya. Ramalan Jayabaya menceritakan tentang akan datangnya Ratu Adil dengan senjata Trisula Weda sebagai atribut utama yang akan digunakan oleh Ratu Adil (atau Satria Piningit) untuk memulihkan keadilan dan kemakmuran di negeri ini.
Istilah Trisula atau Trisula Weda juga dikenal sebagai senjata Dewa Siwa sekalipun tidak terkait langsung dengan alur cerita atau persenjataan yang digunakan selama perang Bharatayudha dalam epos Mahabharata.
Adalah konflik besar Pandawa dan Kurawa pada kisah Bharatayudha memperebutkan Hastinapura. Konflik ini sarat dengan campur tangan para dewa dalam bentuk restu, nasihat, atau penjelmaan. Para dewa turun tangan seperti dilakukan Dewa Siwa atau dalam pewayangan Jawa disamakan dengan Betara Guru.
Campur tangan Dewa Siwa atau Betara Guru dalam Bharatayudha lebih bersifat memberikan sarana (senjata) dan restu ilahi untuk menegakkan kembali _dharma_ (kebenaran) yang diemban Pandawa dan memusnahkan _adharma_ (kejahatan) yang diwakili oleh Kurawa. Sebagai pemimpin para dewa di kahyangan, peran Betara Guru lebih bersifat pengawas, pemberi anugerah, atau penentu takdir, bukan sebagai pejuang yang turun ke medan perang manusia.
Sebaliknya campur tangan dewa yang menonjol di medan perang adalah peran Betara Kresna (penjelmaan Dewa Wisnu) yang menjadi kusir dan penasihat Arjuna di pihak Pandawa. Arjuna sebagai prajurit ditakdirkan menerima
senjata Pasopati dari Dewa Siwa dan juga senjata dari dewa-dewa lain yang memperkuat kemampuan tempurnya.
Betara Guru dengan senjata sakti Trisula digambarkan semacam tombak memiliki 3 sula diujungnya tidak untuk berperang di lapangan dalam kisah pewayangan versi asli Mahabharata
dari India maupun adaptasi Bharatayudha versi Jawa.
Lalu, menjadi pertanyaan apa sesungguhnya makna alegoris (alegoris merupakan kiasan atau narasi simbolis untuk menyampaikan pesan moral atau kebenaran) Trisula atau Trisula Weda baik yang dimiliki Ratu Adil dalam ramalan Jayabaya (Prabu Jaya
baya hidup pada masa pemerintahan kerajaan Kediri yang berlangsung tahun 1.135 – 1.159 M) maupun Trisula yang dimiliki Betara Guru yang justru Walisongo khususnya Sunan Kalijogo (hidup di abad ke-15 hingga abad ke-16 Masehi, berperan besar dalam penyebaran Islam di Jawa) memanfaatkan media wayang dalam penyebaran agama islam dan metode itu tercatat efektif sebagai metode dakwah?
Sementara itu agama islam menempatkan akidah Islam yang memiliki prinsip tauhid yang mendasar, yaitu keyakinan mutlak akan keesaan Allah SWT sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah. Konsep ini bertentangan dengan ramalan – ramalan dan keyakinan akan dewa-dewi, yang merupakan inti dari ajaran Hindu dan Budha.
Dalam Islam, kendali mutlak atas segala sesuatu, termasuk masa depan, berada di tangan Allah SWT. Percaya pada ramalan dianggap syirik (menyekutukan Allah) karena menyiratkan ada kekuatan lain selain Allah yang dapat mengetahui hal gaib. (sp.official.251125). Cc. Bunda Ratu Samsiah Pertiwi.
( _bersambung_ ).
Penulis : S. Purwadi Mangunsastro, Wangsa Arya Penangsang, Ketua Yayasan Al Farizi Nusantara Jakarta.









