Oleh: S Purwadi Mangunsastro -Wangsa Arya Penangsang – Kerajaan Demak ke 5, Ketua Yayasan Al Farizi Nusantara Jakarta.
MEDAN, SUARASUMUTONLINE.ID – Trisula Wedha dipahami publik sebagai sebuah senjata atau ajaran yang termaktub dalam ramalan Jayabaya. Ajaran ini merujuk sebagai pengetahuan berisi prediksi mengenai pergantian zaman atau siklus kehidupan. Sementara itu Hariono S. Notonegoro mengajarkan Trisula Weda sebagai tiga pilar utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, yang dianggap sebagai “senjata” atau ajaran suci untuk mencapai solusi dan kemajuan nasional, yakni lurus, benar dan jujur, meskipun sumber penelusuran tidak terinci spesifik tentang ketiga pilar tersebut.
Sebagai falsafah kebudayaan (terutama di kalangan rakyat pulau Jawa, Nusantara) Trisula Weda memiliki arti harfiah “Trisula” digambarkan sebagai tombak bermata tiga yang terkait kepercayaan Hindu dan Buddha serta simbol kekuasaan. Sedangkan rangkaian “Trisula Weda” merujuk pada masa depan, yang digunakan sebagai pedoman hidup untuk mencapai harmoni dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan.
Merujuk ramalan Jayabaya, Trisula Weda dikaitkan dengan sosok Ratu Adil dan atau Satrio Piningit yang digambarkan “bersenjatakan” Trisula Weda dan secara konsepsional merupakan ajaran moral, etika, dan pengetahuan spiritual yang bersumber dari kearifan lokal.
Bangsa nusantara yang kita mengenal ada peradaban Sunda Land memiliki akar dengan kurun masa yang purba dan khazanah ini kita miliki sebagai modal dasar atau spiritualitas kultural yang meninggalkan akar budaya masyarakat monotheisme (menyembah pada satu tuhan).
Entitas yang dimiliki masyarakat Sunda Kuno justru ada representasinya yang usianya jauh melebihi kepurbaannya masyarakat Sunda Kuno yang ahli-ahli sejarah kepurbakalaan mengenalkan adanya penyembahan kepada Sang Hyang-Taya-an (dzat yang tak terlihat) atau disebut “kapi-taya-n”, Sang Hyang Kersa (Yang Mahakuasa), Nu Ngersakeun (Yang Menghendaki), Batara Tunggal (Tuhan yang Maha Esa) dan lain-lain, dan masyarakat orang Baduy (Baduy Banten) yang kita dapati saat ini adalah monumen kultural ujud peri kehidupan masyarakat purba itu sendiri.
Orang Baduy paralelism dalam konsep ketuhanan yang diyakini masyarakatnya (baduy – sunda wiwitan, pusatnya di Gunung Padang) dalam konteks sufiisme telah mengenal “alif lam lam ha” dan istilah ini terkait Sang Hyang Taya pada masyarakat sunda wiwitan, dan dalam konteks (agama) islam adalah Allah.
Berdasarkan keagungan nilai-nilai kultural yang dimiliki bangsa nusantara sebagaimana uraian di atas serta merujuk pada ajaran dimaksud Trisula Weda, maka dalam rangka menyongsong era pergantian zaman atau siklus kehidupan, atau dalam era kekinian dikenal sebagai era peradaban baru, maka Trisula Weda dimaknai sebagai esensi dari :
- inalillahi wa inailaihi rojiun,
- lahaula walaquwata ilabillah
- alhamdulillahi robbilalamin.
Merujuk pada uraian di atas, perlu digarisbawahi istilah Trisula Weda dalam konteks spiritual kebudayaan maka tiga pilar ajaran atau prinsip kehidupan berdasarkan ajaran Weda atau filsafat Jawa tersebut harus mempunyai posisi-posisi strategis dan penting menjadi sumber pengetahuan dialogis yang dikaitkan dengan 1). Ketuhanan (habluminallah), 2). Kemanusiaan (habluminannas), 3). Alam/Lingkungan (habluminalalam), dan masing-masing secara spiritualitas interpretatif memiliki makna yang spesifik dalam konteks keimanan Islam.
Belum lama ini seorang Resi Agung dari komunitas masyarakat Baduy, menguraikan kepada penulis bahwa makna yang diakui secara universal dalam tradisi “alif lam lam ha” dalam budaya Baduy dalam konteks agama islam (tauhid) dapat dikemukakan :
- Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un – “sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali” – sebagai pengakuan atas kekuasaan Allah dan penerimaan takdir,
- La haula wa la quwwata illa billah – “tiada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah” – ini untuk menunjukkan kepasrahan total dan pengakuan bahwa semua kekuatan berasal dari Allah semata, serta
- Alhamdulillahi rabbil ‘alamin – “segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam” – diucapkan untuk mengungkapkan rasa syukur dan pujian kepada Allah atas segala nikmat dan karunia-Nya.
Apa yang terungkapkan dalam narasi ini merupakan opini yang diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi bangsa ini, dan generasi penerus dapat tumbuh dan akan lebih baik. Termaktub pesan dapat dijadikan knowledge leadership, tidak cukup hanya singgah sebagai pengetahuan tetapi mesti ada tindak kelanjutan dalam rangka mewujudkan visi bangsa yang sangat kuat ke depan.
Lebih urgen lagi ketika dewasa ini dihadapkan beberapa persoalan bangsa yang rawan seperti ancaman: 1). disintegrasi, 2). terjadinya gejala krisis multidimensi, 3). krisis kualitas kepemimpinan maka pengetahuan ini diharapkan membangkitkan kecerdasan kolektif bagi kita semua.









