TRISULA WEDA DALAM PRESPEKTIF AL-QUR’AN

- Jurnalis

Kamis, 4 Desember 2025 - 13:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Trisula Weda, istilah ini lebih dikenal dalam konteks budaya Jawa dan Ramalan Jayabaya. Ramalan Jayabaya menceritakan tentang akan datangnya Ratu Adil dengan senjata Trisula Weda sebagai atribut utama yang akan digunakan oleh Ratu Adil (atau Satria Piningit) untuk memulihkan keadilan dan kemakmuran di negeri ini.

Istilah Trisula atau Trisula Weda juga dikenal sebagai senjata Dewa Siwa sekalipun tidak terkait langsung dengan alur cerita atau persenjataan yang digunakan selama perang Bharatayudha dalam epos Mahabharata.

Adalah konflik besar Pandawa dan Kurawa pada kisah Bharatayudha memperebutkan Hastinapura. Konflik ini sarat dengan campur tangan para dewa dalam bentuk restu, nasihat, atau penjelmaan. Para dewa turun tangan seperti dilakukan Dewa Siwa atau dalam pewayangan Jawa disamakan dengan Betara Guru.

Campur tangan Dewa Siwa atau Betara Guru dalam Bharatayudha lebih bersifat memberikan sarana (senjata) dan restu ilahi untuk menegakkan kembali _dharma_ (kebenaran) yang diemban Pandawa dan memusnahkan _adharma_ (kejahatan) yang diwakili oleh Kurawa. Sebagai pemimpin para dewa di kahyangan, peran Betara Guru lebih bersifat pengawas, pemberi anugerah, atau penentu takdir, bukan sebagai pejuang yang turun ke medan perang manusia.

Baca Juga :  Sepanjang 2025, Kejaksaan Tinggi Sumut Telah Laksanakan Kegiatan dan Pencapaian Luar Biasa

Sebaliknya campur tangan dewa yang menonjol di medan perang adalah peran Betara Kresna (penjelmaan Dewa Wisnu) yang menjadi kusir dan penasihat Arjuna di pihak Pandawa. Arjuna sebagai prajurit ditakdirkan menerima
senjata Pasopati dari Dewa Siwa dan juga senjata dari dewa-dewa lain yang memperkuat kemampuan tempurnya.

Betara Guru dengan senjata sakti Trisula digambarkan semacam tombak memiliki 3 sula diujungnya tidak untuk berperang di lapangan dalam kisah pewayangan versi asli Mahabharata
dari India maupun adaptasi Bharatayudha versi Jawa.

Lalu, menjadi pertanyaan apa sesungguhnya makna alegoris (alegoris merupakan kiasan atau narasi simbolis untuk menyampaikan pesan moral atau kebenaran) Trisula atau Trisula Weda baik yang dimiliki Ratu Adil dalam ramalan Jayabaya (Prabu Jaya
baya hidup pada masa pemerintahan kerajaan Kediri yang berlangsung tahun 1.135 – 1.159 M) maupun Trisula yang dimiliki Betara Guru yang justru Walisongo khususnya Sunan Kalijogo (hidup di abad ke-15 hingga abad ke-16 Masehi, berperan besar dalam penyebaran Islam di Jawa) memanfaatkan media wayang dalam penyebaran agama islam dan metode itu tercatat efektif sebagai metode dakwah?

Baca Juga :  Dotang Serge, "Simanis" Yang Mulai Rajai Pasar Cemilan Serge dan Sekitarnya

Sementara itu agama islam menempatkan akidah Islam yang memiliki prinsip tauhid yang mendasar, yaitu keyakinan mutlak akan keesaan Allah SWT sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah. Konsep ini bertentangan dengan ramalan – ramalan dan keyakinan akan dewa-dewi, yang merupakan inti dari ajaran Hindu dan Budha.

Dalam Islam, kendali mutlak atas segala sesuatu, termasuk masa depan, berada di tangan Allah SWT. Percaya pada ramalan dianggap syirik (menyekutukan Allah) karena menyiratkan ada kekuatan lain selain Allah yang dapat mengetahui hal gaib. (sp.official.251125). Cc. Bunda Ratu Samsiah Pertiwi.

( _bersambung_ ).

Penulis : S. Purwadi Mangunsastro, Wangsa Arya Penangsang, Ketua Yayasan Al Farizi Nusantara Jakarta.

Follow WhatsApp Channel suarasumutonline.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ashari Tambunan Kembali Dipilih Sebagai Ketua PKB Sumut Priode 2026-2031
Peran Negara Saat Darah Rakyat Dihisab Pinjol
Refleksi akhir tahun Ketua MKGR Kota Medan. M.Ihsan Kurnia.
Sepanjang 2025, Kejaksaan Tinggi Sumut Telah Laksanakan Kegiatan dan Pencapaian Luar Biasa
_Sambungan_ (Serial Opini Trisula Weda) “NOTONEGORO INDONESIA AGREGASI KHALIFAH – DINAMIKA POLITIK NASIONAL
_Sambungan_ (Serial Opini Trisula Weda) “NOTONAGORO INDONESIA Sub Judul DINAMIKA POLITIK NASIONAL”
_Sambungan_ : (Serial Opini Trisula Weda) “NOTONAGORO INDONESIA Sub Judul SANGHYANG RASA DAN INSAN KHALIFAH”
_Sambungan_ (Serial Opini Trisula Weda) “REZIM EDAN-EDANAN” NOTONEGORO INDONESIA AGREGASI KHALIFAH,_Sub Judul :_ SHANGYANG RASA DAN INSAN KHALIFAH
Berita ini 40 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 26 Januari 2026 - 16:06 WIB

Ashari Tambunan Kembali Dipilih Sebagai Ketua PKB Sumut Priode 2026-2031

Jumat, 9 Januari 2026 - 21:33 WIB

Peran Negara Saat Darah Rakyat Dihisab Pinjol

Minggu, 28 Desember 2025 - 13:48 WIB

Refleksi akhir tahun Ketua MKGR Kota Medan. M.Ihsan Kurnia.

Jumat, 26 Desember 2025 - 13:00 WIB

Sepanjang 2025, Kejaksaan Tinggi Sumut Telah Laksanakan Kegiatan dan Pencapaian Luar Biasa

Rabu, 24 Desember 2025 - 21:08 WIB

_Sambungan_ (Serial Opini Trisula Weda) “NOTONEGORO INDONESIA AGREGASI KHALIFAH – DINAMIKA POLITIK NASIONAL

Berita Terbaru