TRISULA WEDA DALAM PRESPEKTIF AL-QUR’AN) MEREDUPNYA CAHAYA IMAN

- Jurnalis

Kamis, 4 Desember 2025 - 13:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menurut M. Jadul Maula, Wakil Ketua PWNU DIY, seeorang tokoh yang mendalami dan menggerakkan isu islam dan kebudayaan dalam buku “Islam Berkebudayaan: Akar Kearifan Tradisi, Ketatanegaraan, dan Kebangsaan”, mengemukakan bahwa ajaran Sunan Kalijogo sesungguhnya tetap berakar kuat pada Al-Qur’an dan Hadis, namun disampaikan melalui pendekatan kultural adaptif dengan pendekatan paham keagamaan yang cenderung “sufistik berbasis salaf”. Sunan Kalijogo sebagai seorang “sufistik berbasis salaf” mengajak pengenalan diri untuk mengenal Tuhan (man ‘arafa nafsah ‘arafa Rabbah) melalui penyucian jiwa (tazkiyah an-nafs) yang merupakan bagian fundamental dari ajaran Al-Qur’an.

Sejalan dengan landasan pemikiran sufistik tersebut Resi Penuntun Agung Badui mengadaptasikan Trisula Weda sebagai simbolisme Hindu/Jawa dengan ditafsirkan ulang dalam kerangka Islam/Al-Qur’an (interpretasi umum) secara mantig untuk mengasah fungsi dan perannya manusia sebagai khalifah (ketentuan azali – keputusan ilahi yang bersifat mutlak) di antara makhluk lainnya yang diberikan tanggung jawab untuk mengelola dan memelihara bumi sesuai dengan syariat-Nya.

Penafsiran ulang bertolak dari pemikiran pembangunan manusia sebagai proses budaya yakni faktor manusia menjadi titik sentral sehingga secara _titis_ (mengena pada sasaran yang dituju) terjadi penyatuan ” _olah manah_ ” dan ” _olah nalar_ ” (aspek afektif dan kognitif) yang berorientasi diarahkan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia dan masyarakat. Peran ke-khalifah-an sebagai takdir ilahi harus dijalani manusia dengan penuh tanggung jawab dan kesadaran akan kemana tujuan penciptaan dirinya sehingga secara spiritual manusia penting memformulasi spektrum emosi manusia dalam hubungannya dengan Tuhan dari kesedihan hingga rasa syukur.

Frasa islami yang umum diucapkan dalam berbagai konteks, sering kali untuk mengekspresikan kesedihan, ketawakalan, atau rasa syukur adalah “innalillahi”, “lahaula” dan “alhamdulillah”. Resi Panuntun Agung Badui mentesiskan 3 (tiga) kata tersebut sebagai Trisula Weda dalam prespektif Al-Quran guna menciptakan presisi menghadirkan cahaya iman di setiap individu manusia dan kehidupan masyarakat agar lebih bermartabat dan mandiri dalam membangunkan peradaban manusia yang unggul.

Hadirnya cahaya iman (Nur Allah – Nur Muhammad) menumbuhkan nilai keutamaan diri individu (penyucian jiwa) berlandaskan firman dan hadist untuk menumbuhkan dampak kebaikan pada nilai kehidupan diri, keluarga, masyarakat dan bangsa yang akhirnya akan membentuk karakter manusia berakhlak dan beradab yang menjunjung nilai kejujuran, etika, respek, rasa malu, kedisiplinan, kerja keras, tolerensi, profesionalisme, hidup bersih tanpa korupsi, cinta tanah air dan sebagainya.

Baca Juga :  Polemik Retribusi Parkir di Daerah

Redupnya cahaya iman sebuah bangsa mengakibatkan maraknya kejahatan, kebatilan, perilaku korup, pembenaran yang salah dan lain-lain kemungkaran ( _adharma_ ). Sebaliknya menghadirkan “cahaya iman” merupakan upaya menegakkan kembali kebenaran dan kejujuran ( _dharma_ ) adalah penting menjadi landasan hidup seluruh manusia dalam perannya sebagai khalifah, dan Al-Qur’an adalah pedoman hidup bagi manusia.

Al-Quran adalah petunjuk dari segala petunjuk. Dijelaskan dalam Al-Qur’an, firman itu sebagai suatu hal yang tidak akan mampu dihitung jumlahnya oleh manusia menunjukkan sifat-Nya Yang Maha Luas dan Maha Agung (Surah An-Nahl (16) ayat 18: “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menentukan jumlahnya)”
dan nikmat tersebut diturunkan sebagai wahyu serta menjadi kitab suci Al-Qur’an dikemukakan dalam 114 surah dan 30 juz, jumlah ayat dalam Al-Qur’an adalah 6.236 ayat (menurut riwayat Hafsh), dan oleh karenanya manusia harus mencari sebenar-benarnya firman dan hadish yang “pas” dengan dirinya, dan disinilah maksud dari upaya “Presisi sesuai Firman dan Hadist” yang diajarkan Resi Penuntun Agung Badui.

Mengingat firman dan hadist itu adalah CAHAYA ( Nur Allah – Nur Muhammad) maka ketika surah dan ayat yang presisi (berdasar pembelahan pada Nama dan Tanggal Lahir) diminum kemudian masuk ke tubuh kita in syaa Allah akan hadir CAHAYA (bukankah Al Quran itu pedoman hidup manusia, petunjuk dari segala petunjuk?).

Dalam kaitan inilah maka Trisula (Trisula Weda) “inalillahi”, “lahaula”, “alhamdulillah” yang esensinya sebagai kalimat-kalimat thayyibah “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un”, “La haula wala quwwata illabillah”
dan “Alhamdulillahirabbilalamin” memiliki makna erat esensi penciptaan manusia sebagai
khalifah (wakil atau pemimpin) di bumi penting menanamkan kesadaran mendalam bahwa dirinya memiliki ketergantungan mutlak kepada Allah SWT sekaligus memotivasi pelaksanaan amanah ke-khalifah-an dengan penuh tanggung jawab dan rasa syukur.

Baca Juga :  Anatomi Kepemimpinan “Auto-Pilot”: Setahun Letnan-Levi dan Pertaruhan Marwah Padangsidimpuan

Makna masing-masing ke tiga kalimat thayyibah tersebut sebagai berikut :

> Innalillahi wa Inna Ilaihi Raji’un
(Sesungguhnya kami milik Allah dan kepadaNya kami kembali) :

_Pengakuan mutlak_ :
Bahwa kita ini milik Allah. Kesadaran ini mencegah manusia dari sikap sombong atau merasa memiliki kekuasaan mutlak atas bumi.

_Orientasi akhirat_ :
Mengingatkan bahwa tugas ke-khalifah-an adalah sementara, dan segala perbuatan akan dimintai tanggung jawab di akhirat. Hal ini mendorong manusia untuk bertindak adil, menjaga keseimbangan, dan tidak berbuat kerusakan.

_Ketertundukan_ :
Menekankan status manusia sebagai hamba (‘abd) Allah yang harus patuh pada perintah-Nya dalam menjalankan peran sebagai pemimpin di bumi.

> La Haula Wala Quwwata Illabillah (Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah) :

_Kesadaran Keterbatasan Manusia_ :
Mengakui bahwa tanpa bantuan dan kekuatan dari Allah, manusia tidak akan mampu menjalankan amanah kekhalifahan dengan baik, mengelola alam, dan menegakkan keadilan.

_Menghindari Keangkuhan_ :
Menghindarkan manusia dari sifat angkuh ketika berhasil mencapai sesuatu, karena semua keberhasilan adalah atas izin dan pertolongan Allah semata.

_Motivasi untuk Berdoa dan Berusaha_ :
Mendorong manusia untuk senantiasa memohon petunjuk, kekuatan, dan pertolongan kepada Allah dalam setiap upaya pengelolaan bumi.

> Alhamdulillahirabbilalamin. (Segala puji bagi Allah seru sekalian alam) atau ucapan rasa syukur adalah landasan moral dalam menjalankan tugas sebagai khalifah :

_Syukur atas Nikmat Amanah_ :
Mengucapkan Alhamdulillah sebagai bentuk syukur karena telah dipilih oleh Allah sebagai makhluk yang paling mulia dan dipercaya mengemban amanah mengelola bumi, suatu kehormatan yang tidak diberikan kepada makhluk lain (QS. Al-Baqarah: 30).

_Penggunaan Nikmat Secara Bertanggung Jawab_ :
Rasa syukur diwujudkan dengan menggunakan segala potensi (akal, fisik, sumber daya alam) yang dianugerahkan Allah untuk kemaslahatan bersama, bukan untuk eksploitasi berlebihan atau kerusakan.

_Menciptakan Kesejahteraan_ :
Syukur memotivasi manusia untuk menjaga kelestarian alam dan menciptakan keseimbangan serta keamanan di muka bumi, sesuai tujuan penciptaan manusia sebagai khalifah.
(sp.official.041225). Cc. Bunda Ratu Samsiah Pertiwi.

_Bersambung._

Penulis : Oleh. S Purwadi Mangunsastro, Wangsa Arya Penangsang, Ketua Yayasan Al-Farizi Nusantara Jakarta.

Follow WhatsApp Channel suarasumutonline.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Polemik Retribusi Parkir di Daerah
H Andre Renardi Nasution Raih Gelar Doctor Dengan Predikat Magna Cumlaude.
Anatomi Kepemimpinan “Auto-Pilot”: Setahun Letnan-Levi dan Pertaruhan Marwah Padangsidimpuan
Uang Pribadi dalam Jabatan Publik : Sah atau Menyimpang
Ashari Tambunan Kembali Dipilih Sebagai Ketua PKB Sumut Priode 2026-2031
Peran Negara Saat Darah Rakyat Dihisab Pinjol
Refleksi akhir tahun Ketua MKGR Kota Medan. M.Ihsan Kurnia.
Sepanjang 2025, Kejaksaan Tinggi Sumut Telah Laksanakan Kegiatan dan Pencapaian Luar Biasa
Berita ini 19 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 17 Maret 2026 - 11:54 WIB

Polemik Retribusi Parkir di Daerah

Minggu, 8 Maret 2026 - 21:33 WIB

H Andre Renardi Nasution Raih Gelar Doctor Dengan Predikat Magna Cumlaude.

Jumat, 13 Februari 2026 - 22:45 WIB

Anatomi Kepemimpinan “Auto-Pilot”: Setahun Letnan-Levi dan Pertaruhan Marwah Padangsidimpuan

Sabtu, 7 Februari 2026 - 10:03 WIB

Uang Pribadi dalam Jabatan Publik : Sah atau Menyimpang

Senin, 26 Januari 2026 - 16:06 WIB

Ashari Tambunan Kembali Dipilih Sebagai Ketua PKB Sumut Priode 2026-2031

Berita Terbaru

Berita

Jabidi Ritonga : Perkuat Solidaritas dan Kaderisasi NU

Kamis, 19 Mar 2026 - 16:50 WIB