JAKARTA, SUARASUMUTONLINE.ID – Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) di bawah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah telah menetapkan jadwal Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2026 untuk jenjang SD hingga SMA/sederajat. Pendaftaran sekaligus finalisasi data peserta masih dibuka sampai 28 Februari 2026.
Untuk tingkat SMA, seleksi kabupaten/kota (OSN-K) akan berlangsung pada 18–19 Juni 2026. Sementara itu, jenjang SD dijadwalkan pada 8 Juni 2026 dan SMP pada 11 Juni 2026.
Merujuk Panduan OSN 2026 yang diterbitkan Puspresnas, pelaksanaan OSN-K tetap digelar di sekolah atau satuan pendidikan masing-masing. Penanggung Jawab Ajang Talenta Sains dan Olahraga Puspresnas, Topanal Gustiranda, menyampaikan bahwa panitia melakukan sejumlah pembaruan pada penyelenggaraan tahun ini.
Ia menjelaskan, panitia kini membentuk tim pengawas daerah dengan sistem pengawasan berlapis yang melibatkan Dinas Pendidikan Provinsi. Selain itu, panitia akan menayangkan proses OSN-K melalui siaran langsung YouTube sebagai bagian dari transparansi.
“Kemudian adanya akun sistem pemantauan pendaftar untuk Dinas Pendidikan Provinsi. Jadi kita mengharapnya di Dinas Provinsi ini dapat memantau jumlah pendaftar di masing-masing daerah,” ujar Topanal dalam Sosialisasi OSN Jenjang Pendidikan Menengah 2026 pada akhir Januari lalu, dilansir dari detik.com.
Langkah pengetatan tersebut mendapat dukungan dari penggagas KawalOSN, Ainun Najib. Ia menilai evaluasi itu penting karena pada OSN 2025 muncul berbagai pelanggaran, terutama di tahap OSN-K.
Menurut Ainun, aturan yang lebih ketat belum sepenuhnya menutup peluang kecurangan. Ia menyoroti kebijakan yang masih memperbolehkan sekolah menyelenggarakan seleksi secara mandiri.
“Masih ada celahnya di sekolah-sekolah yang dibolehkan mengadakan sendiri, tidak mengumpulkan di satu titik. Nah ini apakah dari Dinas Provinsi juga bakalan kirim pengawas ke sekolah seperti itu? Mengingat secara lokasi mungkin ada yang jauh dari pusat kabupaten,” ujarnya.
Pakar kecerdasan buatan itu menegaskan bahwa integritas peserta menjadi faktor penentu utama keberhasilan OSN yang bersih. Ia mengingatkan siswa agar tidak tergoda berbuat curang, termasuk memanfaatkan teknologi AI secara tidak semestinya.
“Adik-adik yang ikut OSN, jangan mau disuruh curang dan jangan tergoda pakai AI. Karena nama kalian akan tercatat dan bisa terdeteksi, tercatat selamanya rusak reputasi sejak dini,” katanya.
Ainun sendiri merupakan alumnus OSN 2001 dan kini menetap di Singapura.
Sorotan Kecurangan OSN 2025
Pelaksanaan OSN 2025 sebelumnya menuai kritik setelah muncul dugaan kuat praktik kecurangan. Situasi itu mendorong sejumlah alumni dari berbagai daerah dan negara membentuk gerakan KawalOSN.
Menurut kelompok tersebut, mereka menemukan bukti foto soal OSN-K, khususnya jenjang SMA, yang diunggah ke platform AI untuk mencari jawaban. Mereka juga mendapati video peserta yang menggunakan ponsel saat ujian berlangsung tanpa pengawasan ketat.
“Hampir tiap sekolah diperkenankan menyelenggarakan sendiri OSN-K. Kemudian seharusnya panduan ditaati dengan mengadakan pengawasan silang setidaknya dari sekolah lain agar tidak ada conflict of interest, ternyata kemarin realitasnya adalah diadakan di sekolah masing-masing dan mengawasi sendiri. Ada video peserta dengan bebas menggunakan alat komunikasi berupa handphone yang berarti tidak ada pengawasan,” ucapnya.
Ia menambahkan, “Dengan bangga ada yang posting di medsos video temen-temennya lagi ngerjain OSN, terus dia pake handphone. Semuanya juga terlihat di meja ada handphone di situ. Berarti semua peserta dengan mudah bisa memfoto dan upload ke platform AI. Jadi tidak ada pengawasan yang ketat terus pesertanya malah keliling-keliling bikin video gitu.”
KawalOSN kemudian menghimpun temuan tersebut dalam sejumlah subdomain, termasuk laman yang memuat daftar pihak yang merasa dirugikan serta ringkasan dugaan pelanggaran yang mereka kumpulkan.
Editor : Yuli









