Dari Lahan ke Meja Makan: Kisah Saifulloh dan Kolaborasi Jaga Ekosistem Kedelai Lokal

- Jurnalis

Senin, 19 Oktober 2026 - 22:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BANYUWANGI, SSOL.ID-  Keberlanjutan ekosistem kedelai tidak cukup hanya soal menanam. Dibutuhkan rantai yang utuh: dari petani di lahan, kepastian penyerapan panen, hingga jaminan bahan baku bagi pengrajin tahu dan tempe di hilir. Kolaborasi lintas pihak menjadi kuncinya.

Kisah itu datang dari Saifulloh, petani kedelai di Banyuwangi. Ia memulai dari nol, bekerja di lahan orang lain sebelum akhirnya berani menyewa lahan sendiri seluas seperempat hektare.

Dari lahan sempit itulah, hidupnya berubah. Hasil panen kedelai ia putar menjadi modal peternakan.

“Dulu saya ikut bekerja di lahan orang. Setelah itu, saya mulai menyewa lahan sendiri, meskipun awalnya hanya seperempat hektare,” cerita Saifulloh, Minggu (18/10).

“Dari hasil bertani kedelai, saya bisa membeli kambing satu untuk diternakkan. Lama-lama, saya juga bisa membeli sapi,” lanjutnya.

Setiap panen seperempat hektare, Saifulloh mampu menghasilkan 3,5 hingga 4 kuintal kedelai dengan keuntungan sekitar Rp 3,5 juta. Hasil itu ia gunakan untuk kebutuhan keluarga, bahkan mampu membangunkan rumah untuk anaknya.

“Alhamdulillah, dari bertani kedelai saya bisa menghidupi keluarga. Hasilnya juga bisa dikembangkan untuk beternak sampai akhirnya saya mampu membangun rumah untuk anak,” ujarnya.

Tidak Hanya Menanam, Tapi Mendampingi

Kisah Saifulloh menggambarkan betapa kedelai bisa menjadi penggerak ekonomi keluarga. Namun agar berkelanjutan, petani butuh lebih dari sekadar benih: butuh ilmu, pendampingan, dan pasar yang pasti.

Baca Juga :  Gempa M 5,6 Guncang Gayo Lues Aceh, Getaran Terasa hingga Medan, Warga Sempat Panik Keluar Rumah

Di Banyuwangi, hal itu dijawab lewat kolaborasi Ustad Ari Handoko, PTPN IV dan FKS Foundation. Mereka mengembangkan budidaya kedelai varietas lokal dengan pendampingan intensif, mulai dari teknik tanam hingga pemeliharaan untuk menjaga kualitas panen.

“Pengembangan kedelai tidak hanya berbicara tentang menanam dan memanen, tetapi juga tentang bagaimana petani terus belajar, meningkatkan kemampuan budidaya dan mempersiapkan penanaman berikutnya,” ujar Ustad Ari Handoko.

“Kami ingin petani memiliki kesempatan untuk mengembangkan usahanya secara berkelanjutan sehingga hasil pertanian dapat memberikan manfaat yang lebih baik bagi keluarga mereka,” tambahnya.

Skemanya dibuat berkelanjutan. Hasil panen pertama akan diprioritaskan menjadi benih untuk penanaman berikutnya oleh petani binaan Ustad Ari Handoko dan PTPN IV. Baru pada panen kedua, FKS Foundation akan menyerap hasilnya untuk menjamin keberlangsungan usaha tani dan membuka peluang pasar.

“Pengembangan budidaya kedelai membutuhkan proses dan kolaborasi yang berkelanjutan. Peningkatan kapasitas petani, penerapan teknik budidaya yang tepat serta perencanaan penanaman berikutnya perlu berjalan beriringan,” ujar perwakilan PTPN IV PalmCo dari Divisi PMO Upstream.

“Melalui kolaborasi antar pemangku kepentingan, kami berharap potensi budidaya kedelai dapat terus dikembangkan dan memberikan manfaat ekonomi bagi petani,” lanjutnya.

Baca Juga :  Gubsu Beserta Bupati Deli Serdang Panggil PNS Deli Serdang Yang Viral Vidionya

Ujung Tombak di Hilir: Pengrajin Tempe

Keberlanjutan di hulu harus sejalan dengan kebutuhan di hilir. Bagi pengrajin tahu tempe, kualitas kedelai yang konsisten adalah nyawa produNurwito, pengrajin tempe sejak 2014 di Jawa Tengah, setiap hari membutuhkan 50 sampai 80 kilogram kedelai. Tanpa pasokan yang pasti, usahanya bisa berhenti.

“Bagi kami pengrajin tempe, kedelai adalah bahan baku utama yang menentukan kelangsungan produksi setiap hari. Karena kami membutuhkan kedelai secara rutin, ketersediaan bahan baku dan kualitas yang konsisten sangat penting,” kata Nurwito.

Sementara itu, dokumentasi transaksi pekan ketiga Oktober 2026 di Jawa Tengah dan DIY mencatat harga kedelai di kisaran Rp 11.050 – Rp 11.300 per kilogram di luar ongkos angkut. Di Semarang Rp 11.050 – Rp 11.200/kg, sedangkan Solo, Yogyakarta, dan Purwokerto di kisaran Rp 11.200 – Rp 11.300/kg.

Dinamika harga ini menunjukkan pentingnya menjaga keseimbangan antara kualitas, ketersediaan, dan kesinambungan pasokan bagi petani dan pengrajin.

Pada akhirnya, ekosistem kedelai yang kuat bukan hanya diukur dari tonase panen, tetapi dari kemampuan semua pihak menjaga rantai usaha tetap hidup: dari lahan petani di Banyuwangi hingga menjadi tempe di meja makan masyarakat.

 

Penulis : Ari Handoko

Follow WhatsApp Channel suarasumutonline.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

BREAKING: Bentrok Dua Kelompok Pemuda di Tanjung Morawa Pecah, Satu Orang Diduga Kena Tembak di Leher
Diduga Tak Kantongi PBG, Proyek Ground Breaking Block Petisah Jalan Terus
Diduga Tidak Memiliki PBG, Bangunan Ini Telah Berdiri di Tengah Sawah Produktif Selama 2 Tahun
Deli Serdang Distribusikan 43 Armada Pengangkut Sampah ke 13 Kecamatan
Petugas Rutan Medan Gagalkan Dugaan Penyelundupan Sabu dan Ekstasi
Rico Waas Ajak Generasi Muda Lestarikan Ulos di Medan Fashion & Culture Festival 2026
Peringatan Hari Ulos Nasional Meriahkan Puncak MFCF 2026
Pelajar di Samosir Kini Bisa Naik Bus Gratis ke Sekolah Setiap Hari PP
Berita ini 34 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 19 Oktober 2026 - 22:36 WIB

BREAKING: Bentrok Dua Kelompok Pemuda di Tanjung Morawa Pecah, Satu Orang Diduga Kena Tembak di Leher

Senin, 19 Oktober 2026 - 22:28 WIB

Dari Lahan ke Meja Makan: Kisah Saifulloh dan Kolaborasi Jaga Ekosistem Kedelai Lokal

Senin, 19 Oktober 2026 - 16:25 WIB

Diduga Tak Kantongi PBG, Proyek Ground Breaking Block Petisah Jalan Terus

Senin, 19 Oktober 2026 - 13:10 WIB

Diduga Tidak Memiliki PBG, Bangunan Ini Telah Berdiri di Tengah Sawah Produktif Selama 2 Tahun

Minggu, 18 Oktober 2026 - 14:45 WIB

Deli Serdang Distribusikan 43 Armada Pengangkut Sampah ke 13 Kecamatan

Berita Terbaru