BANYUWANGI, SSOL.ID- Keberlanjutan ekosistem kedelai tidak cukup hanya soal menanam. Dibutuhkan rantai yang utuh: dari petani di lahan, kepastian penyerapan panen, hingga jaminan bahan baku bagi pengrajin tahu dan tempe di hilir. Kolaborasi lintas pihak menjadi kuncinya.
Kisah itu datang dari Saifulloh, petani kedelai di Banyuwangi. Ia memulai dari nol, bekerja di lahan orang lain sebelum akhirnya berani menyewa lahan sendiri seluas seperempat hektare.
Dari lahan sempit itulah, hidupnya berubah. Hasil panen kedelai ia putar menjadi modal peternakan.
“Dulu saya ikut bekerja di lahan orang. Setelah itu, saya mulai menyewa lahan sendiri, meskipun awalnya hanya seperempat hektare,” cerita Saifulloh, Minggu (18/10).
“Dari hasil bertani kedelai, saya bisa membeli kambing satu untuk diternakkan. Lama-lama, saya juga bisa membeli sapi,” lanjutnya.
Setiap panen seperempat hektare, Saifulloh mampu menghasilkan 3,5 hingga 4 kuintal kedelai dengan keuntungan sekitar Rp 3,5 juta. Hasil itu ia gunakan untuk kebutuhan keluarga, bahkan mampu membangunkan rumah untuk anaknya.
“Alhamdulillah, dari bertani kedelai saya bisa menghidupi keluarga. Hasilnya juga bisa dikembangkan untuk beternak sampai akhirnya saya mampu membangun rumah untuk anak,” ujarnya.
Tidak Hanya Menanam, Tapi Mendampingi
Kisah Saifulloh menggambarkan betapa kedelai bisa menjadi penggerak ekonomi keluarga. Namun agar berkelanjutan, petani butuh lebih dari sekadar benih: butuh ilmu, pendampingan, dan pasar yang pasti.
Di Banyuwangi, hal itu dijawab lewat kolaborasi Ustad Ari Handoko, PTPN IV dan FKS Foundation. Mereka mengembangkan budidaya kedelai varietas lokal dengan pendampingan intensif, mulai dari teknik tanam hingga pemeliharaan untuk menjaga kualitas panen.
“Pengembangan kedelai tidak hanya berbicara tentang menanam dan memanen, tetapi juga tentang bagaimana petani terus belajar, meningkatkan kemampuan budidaya dan mempersiapkan penanaman berikutnya,” ujar Ustad Ari Handoko.
“Kami ingin petani memiliki kesempatan untuk mengembangkan usahanya secara berkelanjutan sehingga hasil pertanian dapat memberikan manfaat yang lebih baik bagi keluarga mereka,” tambahnya.
Skemanya dibuat berkelanjutan. Hasil panen pertama akan diprioritaskan menjadi benih untuk penanaman berikutnya oleh petani binaan Ustad Ari Handoko dan PTPN IV. Baru pada panen kedua, FKS Foundation akan menyerap hasilnya untuk menjamin keberlangsungan usaha tani dan membuka peluang pasar.
“Pengembangan budidaya kedelai membutuhkan proses dan kolaborasi yang berkelanjutan. Peningkatan kapasitas petani, penerapan teknik budidaya yang tepat serta perencanaan penanaman berikutnya perlu berjalan beriringan,” ujar perwakilan PTPN IV PalmCo dari Divisi PMO Upstream.
“Melalui kolaborasi antar pemangku kepentingan, kami berharap potensi budidaya kedelai dapat terus dikembangkan dan memberikan manfaat ekonomi bagi petani,” lanjutnya.
Ujung Tombak di Hilir: Pengrajin Tempe
Keberlanjutan di hulu harus sejalan dengan kebutuhan di hilir. Bagi pengrajin tahu tempe, kualitas kedelai yang konsisten adalah nyawa produNurwito, pengrajin tempe sejak 2014 di Jawa Tengah, setiap hari membutuhkan 50 sampai 80 kilogram kedelai. Tanpa pasokan yang pasti, usahanya bisa berhenti.
“Bagi kami pengrajin tempe, kedelai adalah bahan baku utama yang menentukan kelangsungan produksi setiap hari. Karena kami membutuhkan kedelai secara rutin, ketersediaan bahan baku dan kualitas yang konsisten sangat penting,” kata Nurwito.
Sementara itu, dokumentasi transaksi pekan ketiga Oktober 2026 di Jawa Tengah dan DIY mencatat harga kedelai di kisaran Rp 11.050 – Rp 11.300 per kilogram di luar ongkos angkut. Di Semarang Rp 11.050 – Rp 11.200/kg, sedangkan Solo, Yogyakarta, dan Purwokerto di kisaran Rp 11.200 – Rp 11.300/kg.
Dinamika harga ini menunjukkan pentingnya menjaga keseimbangan antara kualitas, ketersediaan, dan kesinambungan pasokan bagi petani dan pengrajin.
Pada akhirnya, ekosistem kedelai yang kuat bukan hanya diukur dari tonase panen, tetapi dari kemampuan semua pihak menjaga rantai usaha tetap hidup: dari lahan petani di Banyuwangi hingga menjadi tempe di meja makan masyarakat.
Penulis : Ari Handoko









