JAKARTA, SSOL.ID – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Tentara Nasional Indonesia (TNI) pada Senin (5/10/2026) berlangsung dengan suasana berbeda dibandingkan perayaan tahun sebelumnya.
Jika HUT ke-80 pada 2025 digelar secara meriah di Lapangan Silang Monas dengan parade besar-besaran, perayaan tahun ini berlangsung lebih sederhana di Lapangan Prima Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur.
Perubahan paling mencolok terlihat dari skala kekuatan yang ditampilkan.
Pada HUT ke-80, TNI mengerahkan sekitar 133.480 personel dan 1.047 unit alat utama sistem persenjataan (alutsista). Berbagai atraksi udara, defile perwira tinggi, hingga pameran alutsista memenuhi kawasan Monas dan menjadi tontonan publik.
Tahun ini, jumlahnya jauh lebih kecil. Sebanyak 3.378 personel dan 38 unit alutsista dikerahkan dalam rangkaian upacara.
Pasukan parade terdiri atas empat Satuan Setingkat Batalyon (SSY) dari unsur TNI Angkatan Darat, TNI Angkatan Laut, TNI Angkatan Udara, Komponen Cadangan (Komcad), KRI hingga Pramuka.
Namun, kesederhanaan seremoni tersebut tidak berarti berkurangnya perhatian terhadap pembangunan kekuatan pertahanan.
Sebaliknya, HUT ke-81 TNI justru menjadi momentum untuk memperlihatkan arah baru penguatan organisasi pertahanan nasional.
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto memimpin langsung upacara sekaligus meresmikan sejumlah satuan baru di lingkungan TNI.
Sebanyak 204 satuan baru diresmikan dalam momentum tersebut.
“Saya, Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia, dengan ini meresmikan 204 satuan baru TNI,” ujar Prabowo.
Bukan Sekadar Parade
Perubahan format perayaan HUT TNI tahun ini memperlihatkan bahwa kekuatan militer tidak semata-mata diukur dari besarnya parade atau banyaknya alutsista yang dipertontonkan kepada masyarakat.
Penguatan struktur organisasi, kesiapan operasional dan kemampuan menjangkau wilayah strategis justru menjadi bagian penting dari pembangunan kekuatan pertahanan.
Di lingkungan TNI Angkatan Darat, penguatan struktur ditandai dengan peresmian enam Komando Daerah Militer (Kodam) baru.
Keenamnya yakni Kodam 25 Sultan Mahmud Riayat Shah di Kepulauan Riau, Kodam 26 Mataram di DI Yogyakarta, Kodam 27 Sobe Sonbai di Nusa Tenggara Timur, Kodam 28 Maluku Kiraha di Maluku Utara, Kodam 29 Mambruk di Papua Tengah, serta Kodam 30 Rinambora di Nusa Tenggara Barat.
Penguatan tersebut juga mencakup 30 Brigif TP, 150 Yonif TP serta tiga Batalyon Bantuan Tempur yang terdiri atas unsur Kavaleri, Artileri Medan dan Artileri Pertahanan Udara.
Sementara di jajaran TNI Angkatan Laut, struktur pertahanan diperkuat melalui pembentukan satu Brigade Infanteri Marinir dan empat Batalyon Infanteri Marinir.
Penguatan ini diarahkan untuk meningkatkan kesiapsiagaan pasukan pendarat sekaligus memperkuat pengamanan wilayah perairan strategis Indonesia.
Di TNI Angkatan Udara, penguatan dilakukan melalui peresmian satu Divisi II Korpasgat, satu Brigade Korpasgat dan tiga Batalyon Korpasgat.
Kemampuan operasional serta pengawasan ruang udara nasional juga diperkuat melalui dua Skadron Udara, dua Satuan Radar dan satu Skadron Pendidikan.
Tentara Rakyat
Di balik penguatan struktur tersebut, Presiden Prabowo juga mengingatkan bahwa modernisasi dan penguatan organisasi TNI tidak boleh membuat institusi pertahanan menjauh dari masyarakat.
Menurut Prabowo, hubungan antara TNI dan rakyat merupakan bagian fundamental dari kekuatan pertahanan Indonesia.
“Karena itu, jangan pernah jauh dari rakyat. Harus di tengah-tengah rakyat. TNI harus selalu mendengarkan kesulitan rakyat, harus hadir ketika rakyat membutuhkan,” kata Prabowo.
Ia menegaskan bahwa kekuatan tentara pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh persenjataan.
“Tentara yang kuat, adalah tentara yang dekat dengan rakyat,” tegasnya.
Pesan tersebut sejalan dengan tema HUT ke-81 TNI, “TNI Kuat Bersama Rakyat, Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur.”
Tema itu sekaligus menegaskan kembali doktrin historis TNI sebagai tentara rakyat yang keberadaannya tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat.
Dari Monas ke Cilangkap
Jika HUT ke-80 TNI di Monas dapat dibaca sebagai panggung demonstrasi kekuatan militer kepada publik, maka HUT ke-81 di Cilangkap memberikan pesan yang berbeda.
Tidak ada parade raksasa dengan ribuan alutsista. Tidak pula terdapat pengerahan personel dalam skala sebesar tahun sebelumnya.
Yang lebih ditonjolkan justru adalah konsolidasi organisasi dan perluasan struktur pertahanan.
Perubahan ini menunjukkan bahwa kekuatan pertahanan tidak selalu harus hadir dalam bentuk seremoni yang spektakuler.
Ada kekuatan yang bekerja di balik layar: organisasi yang lebih luas, satuan yang lebih dekat dengan wilayah strategis, peningkatan kesiapsiagaan, serta kemampuan TNI menjangkau berbagai wilayah Indonesia.
Presiden Prabowo menginspeksi pasukan menggunakan mobil Maung berwarna hijau tua. Ia didampingi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto.
Pada akhirnya, HUT ke-81 TNI memberi pesan bahwa membangun kekuatan pertahanan bukan semata tentang seberapa megah sebuah parade digelar.
Lebih jauh dari itu, pertanyaannya adalah seberapa siap organisasi pertahanan menghadapi ancaman, seberapa efektif kekuatan tersebut menjangkau seluruh wilayah Indonesia, dan seberapa kuat hubungan TNI dengan rakyat yang menjadi bagian penting dari sistem pertahanan negara.
Dari Monas ke Cilangkap, pesan yang muncul bukan tentang TNI yang menjadi lebih kecil. Justru sebaliknya: kekuatan sedang diarahkan untuk menjadi lebih terstruktur, lebih tersebar dan lebih dekat dengan kebutuhan pertahanan negara.
Editor : Rhm









